44. Mendadak Romantis.

2K 89 0
                                        

Agar hanya ada aku yang menempati ruang kosong itu.

Gaska Gerald Agara

Jam kelinci putih dikamar Asela telah menunjukkan pukul 9 pagi. Itu artinya Asela memang bangun siang hari ini.

Tak apa,mumpung hari minggu,Asela akan menghabiskan waktunya dengan bersantai-santai dikamar.

Ketukan pintu kamar,berhasil menyadarkan Asela sepenuhnya. Disebelahnya sudah tak ada Keyla disana,gadis itu pasti sudah duduk didepan tv.

Ketukan pintu tersebut sekali lagi terdengar membuat Asela berdecak sebal. "Masuk aja,sih." ujarnya sambil memposisikan dirinya menjadi duduk.

"Morning sayang." sapaan selamat pagi yang manis didapat kan oleh Asela.

Gaska dengan baju kaos dan celana pendeknya itu,datang dengan membawa sebuket bunga.

Sebuket bunga besar warna pink putih tersebut langsung diberikan nya kepada Asela dan langsung disambut senyum sumringah dari gadis itu.

"Wah,cantik banget." puji Asela pada bunga yang dibawakan oleh Gaska.

Gaska duduk disamping Asela,yang masih terkagum-kagum melihat bunga yang diberikannya.

Gaska memang sangat jarang sekali memberikan bunga pada Asela,karena bagi Gaska cup cake dan cokelat jauh lebih bermanfaat dari pada sebuket bunga itu.

Tak menyangka,pacarnya ini sangat suka dengan yang dinamakan bunga tersebut.

"Siang banget bangun tidurnya ?" tanya Gaska sambil membenrkan rambut Asela yang agak acak-acakan.

"Iya,semalam gak bisa tidur,jadi bangun siang deh."

Tadi malam,Asela sukar sekali untuk memejamkan matanya. Hal itu dikarenakan oleh kelakuan Gaska padanya kemarin malam.

Hal tersebut selalu berputar-putar memenuhi otak Asela. Jadilah Asela yang tidur jam 1 malam.

"Emang tidur jam berapa ?"

"Jam 1."

"Hah,jam 1 ?"

"Iya jam 1."

"Duh,kasian banget sih sayang,mata kamu jadi mata panda." ucap Gaska mengusap bagian bawah didekat mata Asela.

"Ya aku nya gak bisa tidur,gimana dong."

"Gapapa, masih cantik kok."

"Beneran ?"

"Iya beneran."

"Ah makasih Gaska."

"Iya sama-sama sayang."

Baiklah,ini aneh bagi Asela,Asela belum bisa memastikan bahwa ada yang selah dengan Gaska.

Gaska seperti mendadak menjadi cowok romantis serta menjadi sosok pacar idaman bagi Asela.

Dan itu terjadi tepat saat Asela mengatakan bahwa dia menyayangi Gaska,saat malam itu.

Namun,Asela hanya membiarkan saja hal aneh itu,lagi pula Asela sangat senang dengan prilaku manis Gaska padanya.

"Sayang."

"Iya Gaska ?"

"Mandi gih,bau ih.."

Mendengar hal itu,Asela bukannya menjauh tapi malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Gaska,sehingga dirinya bersandar didada bidang cowok itu.

"Jangan hilang dulu sweet nya." ujar Asela membuat Gaska terkekeh.

"Hehe,aduh,manja banget sih." ujar Gaska,mendekap dan mengelus ramput Asela.

"Bodo amat," ucap Asela membenamkan wajahnya disana,sehingga aroma mint segar terhirup indra penciumannya.

"Gaska wangi banget sih." lanjut Asela masih dalam posisi yang sama.

"Iya dong,masa pergi ngapel bau-bau,kan gak lucu kalo camer nya gak suka."

"Hahhaha,emang sekarang camer nya suka ?"

"Jelas lah,orang menantu nya ganteng gini."

Asela tertawa seraya memukul dada Gaska pelan,"Pedean." ujarnya.

"Ish,emang ganteng kan ?"

"Ganteng sih,tapi masi--"

"Apa ? mau aku cium lagi ya ?" pontong Gaska cepat,karena menyadari kalimat Asela yang akan memunculkan rasa cemburunya,dan itu memalukan bagi Gaska.

Asela kontan memukul dada Gaska,kali ini sedikit kuat hingga Gaska meringis. "Gaska ih,suka banget cium sembarangan,kan malu." ujar Asela.

Pipi gadis itu sudah dipastikan merah merona sekarang,membuat Gaska tak kuasa menahan tawanya.

"Kok ketawa sih ?" tanya Asela mengurai pelukan mereka.

"Lucu."

"Siapa ?"

"Kamu."

"Ish,emang aku badut dikatain lucu ?"

"Hahhaha,iya tapi lucuan kamu."

"Gaska ! aku gak mau kayak badut."

Masih dengan tawanya Gaska mencubit pipi Asela gemas,"Gemesin banget sih,minta cium ini mah."

"GASKA ! STOP BILANG KAYAK GITU !" teriak Asela frustasi,sudah hampir gila karena dikissing oleh Gaska.

"Hahha,kalo gak mau yaudah." ucap Gaska makin menjadi.

"Ya,emang gak mau."

"Iya udah,gak maksa juga,kenapa jadi sensian ?"

"Gaska tau gak yang namanya first kiss ?" tanya Asela secara tak langsung mengutarakan pikirannya yang berputar-putar dengan hal itu.

"Oh,jadi first kiss nih ?" tanya Gaska santai.

"Iya,dan kamu udah sembarang ngambil first kiss orang."

"Kamu kan bukan orang,"

"Terus apa ?!"

"Bidadari."

Seperdetik kemudian Asela terdiam,menyadari adanya semburat merah yang menjalar dipipi.

"Gaska ! pinter banget gombalnya !" seru Asela gemas,cowok ini sangat pintar sekali mengalihkan topik.

"Siapa yang gombal coba ?"

"Itu,kamu tadi."

"Itu beneran tau,kamu itu bidadari tapi kayak penyihir."

"Gaska !!"

"Asela." panggil Gaska serius.

"Iya kenapa ?"

"Maaf,udah ambil first kiss kamu." ucap Gaska sedikit menyesal.

Entah setan dari mana yang masuk kedalam tubuh Gaska malam itu,

Sebelumnya Gaska tidak pernah berpikiran seperti itu,hanya saja,malam itu Gaska merasa takut Asela akan berpaling darinya.

Mengingat banyaknya cowok-cowok diluar sana yang menyukai dan mencoba mendekati Asela yang bahkan jauh lebih baik dari Gaska.

"I-iya Gaska,gapapa kok." jawab Asela gugup.

Asela tak tau kenapa,Gaska yang serius seperti ini membuat debaran jantungnya bereaksi lebih cepat.

Asela lebih memilih Gaska yang biasanya dari pada yang seperti sekarang,tatapan mata Gaska terlihat lebih dalam saat dia serius.

Gaska mengernyit,"Beneran gapapa ?" tanya Gaska.

"Iya beneran."

"Kenapa bisa gitu ?"

"Karena aku sayang Gaska."




Serius.
Gitu doang ?!
Gapapa katanya ?!
Skip deh.
Next,jangan lupa vote dan komen

GASKA ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang