★ Tiga puluh lima

2.9K 115 1
                                        

Mitha duduk sendirian di luar gerbang, menunggu Raka menjemputnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mitha duduk sendirian di luar gerbang, menunggu Raka menjemputnya. Mitha tak sengaja melihat Faiz yang lewat di depannya. Faiz berlalu begitu saja, tanpa senyuman tanpa sapaan. Tidak seperti dulu. Tapi bagi Mitha itu lebih baik, dari pada Fina melabraknya lagi.

Lima menit berselang, mobil Raka berhenti tepat di depannya. Mitha segera masuk mobil, dia ingin cepat pulang.

"Langsung pulang ya, aku capek," lirihnya.

"Lo sakit?"

"Enggak."

"Lo laper?"

"Enggak juga."

"Terus?"

"Aku ingin pulang."

"Iya-iya, gue langsung anter lo pulang, tapi besok temenin gue beli kado, mau?" tanya Raka.

Alis mitha bertautan, kado? Bodoamat lah! Yang penting sekarang aku cepet pulang! Batin Mitha.

"Iya." Dia mengiyakan permintaan Raka.

Sepuluh menit, perjalanan untuk sampai di rumah Mitha, sepuluh menit itulah Mitha ingin cepat-cepat melempar tubuhnya ke sebuah kasur.

"Makasih ya," ucapnya lalu langsung keluar dari mobil Raka. Dia menjawab dalam hati, kemudian pergi.

Raka memutuskan untuk tidak pulang dulu, melainkan mampir ke rumah Burhan.

◍•ᴗ•◍

Sang fajar bangun dari tempat tidurnya, menyapa warga bumi yang mungkin masih terlelap.

Mitha membuka matanya, ia meraih sebuah jam yang terletak di samping ranjangnya. Ia segera bangkit dan bergegas untuk menunaikan sholat subuh. Sesibuk apapun dia, kalo masalah sholat pasti dikerjakan. Tidak lebih dari lima menit, sholat itu selesai.

Mitha mendengar ada sesuatu di balkon kamarnya, ia pun bergegas untuk kesana. Saat ia membuka pintu, Mitha terkejut, menemukan sebuah bingkisan kecil dan setangkai bunga berdiam di depan pintu balkon kamarnya.

Kotak kado berwarna hitam dengan pita putih menghiasi. Dilengkapi dengan setangkai bunga mawar merah yang tak jauh dari posisi kadonya.

Mitha mengedarkan pandangannya, mencari siapa seseorang yang melakukannya. Ia mengambil bingkisan itu dan membukanya.

Kamu cantik, pantas dia suka. Tapi aku tidak suka, tolong jauhi dia ya.

Alis Mitha bertautan, dia mengernyit heran. Dia bertanya-tanya apa maksudnya surat ini dan siapa pengirimnya.

"Mitha, kamu udah bangun belum?!" teriak sang mama dari luar kamar.

Mitha buru buru masuk kamar lagi dan menyembunyikan bingkisan itu di bawah bantal. Setelah itu mitha menyahut sang mama.

"Udah, mah."

"Kirain belum bangun, udah sholatkan?" tanya Lin.

"Udah kok," jawabnya.

"Yaudah, kamu siap-siap terus sarapan," pinta Lin.

"Iya, Mah."

◍•ᴗ•◍

Raka heran kenapa hari ini Mitha terlihat resah, "Mit?" panggilnya.

Yang dipanggil hanya diam, "Mit?" panggilnya lagi. "Mitha?!" kini panggilannya disertai tepukan.

"Astagfirullah!" Mitha terlonjak kaget. "Kaget tau!"

"Lagian gue panggil ga nyaut-nyaut! Napa lo?"

"Kenapa apanya?"

"Lo kenapa?"

"Ha?"

"Lemot! Dari tadi gue perhatiin kayaknya lagi resah."

"Huh! Sok tau!"

"Gue tau, bukan sok tau." Mitha menggigit bibir bawahnya.

Apa coba aku tanya aja ya? Eh tapi, gimana ya?

"Tuh kan gue bener! Lo masih mau bohong sama gue?"

"Sebenernya ...." Kalimat itu terdengar menggantung.

"Apa?"

"Sebenernya, eumm eumm ...."

"Apasih?!" seketika Mitha mendapat ide untuk menutupinya.

"Aku pengen ke toko bunga, tapi takut kamu gak mau nganterin."

"Astaga, gue kira apaan, kayak gitu aja lama banget. Iya nanti gue anter."

"Makasih ya." Akhirnya Mitha bisa bernapas lega.

◍•ᴗ•◍

Nisa heran kenapa sejak tadi Mitha kebanyakan diam? Biasanya dia adalah orang yang paling aktif di kelas.

"Mit?"

"Hmm?"

"Are you ok? lagi ada masalah?" yang ditanya hanya diam saja.

"Kan udah gue bilang, kalo ada apa-apa tuh cerita! Lo nganggep gue sahabat gak sih?"

"Mit? Kenapa?"

"A--aku dapet surat," lirihnya.

"Surat apa? Lo gak kena DO kan? Lo udah bayar SPP kan?"

"Ish! Bukan itu Nisa!"

"Terus apa?" Mitha menceritakan semua apa yang terjadi pagi ini, mulai dari bingkisan sampai isi surat.

"Terus apa isi suratnya?"

"Kamu cantik, pantas dia suka, tapi aku tidak suka, tolong jauhi dia ya. Gitu Nis," tutur Mitha.

"Dih, kok aneh sih!"

"Nah makanya, dari tadi itu aku bingung. Siapa pengirimnya, maksudnya apa coba?!"

"Dia kasih mawar kesuakaan lo juga?" Mitha mengangguk.

"Yang tau lo suka mawar siapa?"

"Cuma orang terdekatlah," jawab Mitha.

"Orang terdekat?"

"Tapikan penyuka mawar mainstream  banget, Nis?"

"Oh iya yah!" Nisa menepuk jidat nya sendiri.

"WOY! lo pada gak mau ke kantin?" ucap Ogy.

Danu melihat muka Mitha yang penuh keresahan, "lo kenapa?"

"Dia kenapa, Nis?"

♥(✿ฺ'∀'✿ฺ)ノ

Selamat membaca😍

Aku harap kalian suka yaa🙏🏻

Jangan lupa vote dan coment😚😚

Love guys♡

_Dita putri♡

Mitha Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang