★ Lima puluh satu

4K 121 2
                                        

Kini mereka sekarang sudah berada di bandara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kini mereka sekarang sudah berada di bandara. Berkat Alffy, Mitha akhirnya diizinkan pergi ke makasar, dengan jaminan jangan lebih dari satu minggu. Mereka berdua mengiyakan, maka jadilah mereka berangkat hari ini.

Mereka tiba di bandara jam 04.00 wib, sedangkan pesawat lepas landas jam 05.10 wib. Mereka menyempatkan untuk makan terlebih dahulu.

Sekitar pukul 08.40 WIB, atau lebih tepatnya 09.40 WITA mereka tiba di bandar udara internasional sultan Hasanudin. Mitha dan Alffy mencari taksi untuk mengantarkan mereka ke alamat yang di tuju.

"Mau ke mana mas, mba?" tanya sang sopir.

Mitha menyodorkan ponselnya, memberi tau tentang tujuan mereka sekarang. Perjalanan dari bandara ke rumah kakeknya Raka cukup jauh, memakan waktu hampir setengah jam.

◍•ᴗ•◍

Obrolan mereka terhenti karena mendengar suara ketukan. Sang nenek hendak membukanya tapi Raka segera mencegah, "Biar aku aja, Nek." Sang nenek mengangguk. Rakapun bangkit, dan berjalan menuju ke arah pintu, lalu membukanya.

"Raka," lirih Mitha.

Mata raka melotot sempurna, "Mitha?"

"Maafin Aku, Rak," ucapnya.

"Ke---"

"Oh ini yang namanya Raka?" potong Alffy. Raka mendongkakan wajahnya, "Siapa?"

"Alffy." Dia nyodorkan tangannya, Raka melirik Mitha, dengan kata lain Raka ingin Mitha menjelaskan 'dia siapa'.

"Abang aku, Rak." Raka hanya menganggukkan kepalanya lalu membalas uluran tangan Alffy. "Raka."

"Kalian kenapa ke sini?"

"Aku---"

"Siapa, Nak?" suara itu berasal dari nang nenek yang sedang berjalan mendekati mereka.

"Teman," balas Raka cuek.

"Punya ko teman juga di makasar?" (kamu punya teman juga di makasar?).

"Orang jakarta itu."

"Oalah begitu, masukki." (oalah gitu, mari masuk). Mitha dan Alffy hanya diam, karena mereka tidak tau apa yang dia katakan.

"Nenek nyuruh masuk, ayo masuk," ucapnya dingin.

Mereka berdua masuk dan duduk bersama keluarga Reva, di sana mereka disuruh untuk memperkenalkan diri, dan menyuruh mereka untuk singgah di rumah ini dulu. Kebetulan banyak kamar kosong di sana. Alffy dan Mithapun tidak bisa menolak, mereka akhirnya beristirahat di rumah ini.

◍•ᴗ•◍

Mitha membuka matanya, dalam remang-remang gadis itu mencari ponselnya untuk melihat jam. Ternyata sang waktu sudah menunjukan pukul 23.00 wita. Mitha bangkit dari kasur dan beranjak untuk keluar kamar. Saat dia membuka pintu kamarnya sedikit, dia tak dengan melihat raka menaiki tangga. Mungkin ke rooftop? Pikirnya.

Mitha mengikuti Raka, ternyata benar cowok itu duduk di sana sendirian sembari memandangi rembulan.

"Raka?" untuk kesekian kalinya dia dibuat terkejut.

"Kenapa?”

"Aku mau ngomong." Mitha duduk di samping Raka.

"Itu udah ngomong," balasnya dengan ekspresi datar.

"Aku mau minta maaf, kamu salah paham, Rak."

"Soal apa?"

"Kak faiz."

"Oh."

"Kamu liat aku pelukan? Terus aku bilang sayang sama dia? Itukan yang buat kamu ada di sini sekarang."

"Jangan sok tau."

"Aku serius."

"Gue kangen amel, makanya gue ke sini."

"Jangan bohong."

"Ngapain gue bohong? Lo sendiri ngapain ke sini?"

"Aku mau minta maaf."

Benarkah? Sampai segitunya?

Raka diam, "Raka, dia emang bilang suka sama aku, tapi aku cuma nganggap dia sebatas abang."

Raka masih tidak percaya, "kenapa?"

"Karena emang gak ada rasa, aku bilang sayang sama dia ya sebagai abang."

"Raka aku udah jujur," lirihnya. Suara isakan membuat pandangan raka beralih pada gadis yang duduk di sebelahnya.

"Jangan nangis." cowok itu membantu untuk menghapus air matanya.

"Aku udah jauh-jauh ke sini, dari mulai bujuk ibnu supaya nganterin ke rumah kamu, bujuk mama kamu supaya ngasih alamat ini, dan bujuk mama supaya kasih izin aku ke makasar."

"Aku minta maaf, Raka. Kamu jangan salah paham." Mitha tertunduk, air mata itu kembali membasahi pipi. Raka menarik lengan Mitha, membawa tubuh Mitha untuk berada di dekapannya.  "Harusnya lo ga berlu ke sini," bisik Raka. Mitha melepaskan pelukannya, dia menatap Raka dengan sorot mata kecewa, entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar bisikan Raka tadi.

"Besok Aku pulang, kok. Maaf udah bikin kamu gak nyaman, terimakasih juga atas sambutannya." Mitha hendak pergi dari sini, Raka mencegahnya. "Duduk." Satu kata itu langsung membuat Mitha menurut, diapun kembali duduk di sampingnya.

Raka menatapnya dengan lekat, membuat jantung Mitha berdetak sedikit lebih kencang. Jemari Raka bergerak menghapus cairan bening yang terus turun. "Maafin gue, tolong Mit. Jangan nangis, gue gak bisa lihat lo nangis, apalagi itu karena gue. Maaf," tutur Raka.

Mitha tertegun dengan ucapan Raka, "Kamu maafin aku, kan?"

"Apa perlu gue memperjelas?"

Mitha tersenyum, tangannya terangkat memegangi pipi Raka, "Aku kangen sama senyumanmu," ucap Mitha.

"Cuma senyumnya nih?"

"Semuanya!!"

"Haha, Bisa aja lo!" Raka membiarkan kepala Mitha berada di pundaknya. "Maafin gue karna udah buat lo ke sini."

Ada yang tersenyum melihat pemandangan ini, Allfy. Dia bersyukur karena adiknya tidak perlu lagi menangisi Raka. Dia sudah kembali, kembali tersenyum.


♥(✿ฺ´∀'✿ฺ)ノ


Deadline semakin dekat🙄

Aku mau berterima kasih kepada IKAA yang telah mengajarkan bahasa makasar😍

Selamat membaca kalian😚

_Dita putri♡

Mitha Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang