Vote dulu sebelum baca, ini 1700kata lebih :)
Rame? Besok update lagi janji, 1800kata, ehe.
Typo atau salah penulisan kasih tahu aja, soalnya belum di check lagi.
Yaudah, selamat membaca :)
🎋
Magenta baru saja usai memarkirkan motor matic putihnya di parkiran kampusnya. Seperti sebuah kebiasaan yang dilakukannya, atau mungkin hampir semua orang, Magenta selalu menatap pantulan dirinya sendiri di kaca spion, menyisir rambutnya menggunakan jari, kemudian tersenyum ketika ia merasa penampilannya sudah sempurna hari ini.
Kemeja maroon yang dipadukan dengan celana berwarna krem rasanya adalah outfit sempurna yang mampu membuat Magenta menjadi daya tarik sendiri di tempatnya berada saat ini. Baik teman seangkatan, adik tingkat, maupun kakak tingkat, banyak yang berlomba-lomba untuk sekedar curi-curi pandang ke arah Magenta.
Namun Magenta merasa abai, mungkin dia sudah terlalu sering juga mendapat tatapan yang seperti itu. Jadi yasudahlah, anggap saja itu hanyalah salah satu bentuk bagaimana cara seorang manusia mengagumi ciptaan dari Tuhannya.
"Hai Gen," sapa Gista, yang entah datangnya dari mana. Magenta sempat terkejut sejenak, sebelum cowok dengan alis tebal itu pada akhirnya menarik seulas senyumnya dan membalas sapaan Gista dengan ramah.
"Hai Gis, tumben jalan sendirian?" tanya Magenta berusaha mencari topik.
"Kata siapa? Kan kita jalannya berdua," jawab Gista dengan senyuman manisnya.
Magenta ikutan tersenyum, dia menggaruk belakang kepalanya. "Iya juga sih," jawabnya, "Duduk sana yuk, kasian kulit lo, mulus-mulus begitu nanti gosong lagi kebakar matahari."
Magenta mengajak Gista untuk segera masuk ke dalam gedung, dan duduk di lobi yang di sesaki oleh Mahasiswa lainnya. Magenta tidak berbohong soal suhu di luar yang sedang panas-panasnya, oleh karenanya berada di dalam lobi yang dingin adalah solusi terbaik dari pada harus bermandikan keringat di bawah terik matahari.
"Minggu depan ada tugas observasi lapangan kan ya Gen? Lo udah dapet perusahaannya? Kenapa gak di perusahaan bokap gue aja? Soal perizinan nanti biar gue yang ngurus, pokoknya lo terima beres aja deh," kata Gista tiba-tiba yang membuat Magenta seketika teringat kembali tentang tugas observasi yang diberikan oleh dosennya itu.
"Makasih deh Gis, tapi... Gue kayanya udah dapet tempat, ya meski mungkin itu gak sebesar perusahaan bokap lo, tapi gue lebih baik di sana aja," jawab Magenta apa adanya.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Gista? Rasanya satu kampus juga sudah tahu bahwa Gista adalah anak pemilik salah satu perusahaan yang paling besar di Indonesia saat ini.
Gista anak konglomerat, yang rasanya jika hartanya dibagikan ke seluruh orang di Jakarta ini tidak mungkin bisa habis juga. Perusahaan milik orang tua Gista, yang di masa depan akan jatuh ke tangan Gista itu adalah perusahaan yang benar-benar besar dan maju. Jadi menurut Magenta akan sangat ribet jika harus melakukan observasi di sana.
Terlihat air muka Gista berubah menyendu, agaknya cewek itu merasa kecewa karena Magenta baru saja menolak tawaran darinya. "Emangnya lo bakal observasi di mana?"
"Adalah, perusahaan punya om gue."
"Kalau gitu gue ikut lo. Kemanapun."
Magenta terkejut jelas, dia bahkan menatap Gista tanpa berkedip selama beberapa saat. Magenta merasa bingung juga dia harus merespon bagaimana, karena jujur baru kali ini ia rasa Gista bertingkah seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MIRACLE
Teen Fiction(SEQUEL MAGENTA) Sesuai dengan arti namanya, Magika berarti keajaiban, atau dalam istilah lain disebut dengan Miracle. Begitulah penggambaran sosok Magika di hidup Magenta. Magika adalah sebuah keajaiban yang membuat Magenta tersadar, bahwa terkadan...
