EPILOG

13.6K 1.1K 288
                                        

EPILOG

Matahari nampaknya telah terbit di luar sana, sinarnya yang hangat dapat Magika rasakan pada wajahnya. Cewek itu masih terpejam walau sebenarnya dia sudah mendapatkan kesadarannya dengan penuh. Dia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, Magika terlalu takut untuk membuka matanya. Dia khawatir jikalau semua kejadian pilu yang dia alami bukanlah sebuah mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang mau tidak mau harus ia hadapi.

Usai mengumpulkan keberanian, pada akhirnya Magika memberanikan diri untuk membuka matanya. Sensasi pertama yang ia rasakan adalah, pandangannya kabur dan kepalanya terasa berat sekali, meski begitu Magika seratus persen sadar bahwa kamar yang ia tempati saat ini bukanlah kamarnya, kasur yang ia tiduri bukanlah kasur nyaman yang berada di kamarnya.

Magika mengganti posisinya menjadi duduk meski sebenarnya kepalanya terasa seperti berputar, dia bersender dengan kaki yang tertekuk. Magika menangkup wajahnya, lalu mengacak rambutnya. Sekali lagi dia menghela napas berat. Ya, nampaknya harapannya tidaklah menjadi kenyataan. Semua ini bukanlah hanya sekadar mimpi buruk belaka, semua ini adalah kenyataan. Kenyataan bahwa Magenta meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya ternyata sudah mutlak. Ketentuan itu nampaknya tidak bisa dirubah tak peduli seberapa banyaknya Magika menangis sambil memohon kepada Tuhan.

Magika turun dari ranjang, dia perlahan berjalan menuju pintu. Cewek itu memegang gagang pintu lalu membukanya perlahan, Magika mengintip dari celah pintu. Rumah Magenta masih begitu ramai oleh pelayat, meskipun pagi ini tidak seramai semalam sesaat sebelum jenazah Magenta diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Pintu yang sebelunya ia buka kembali Magika tutup, dadanya masih terasa begitu sesak. Agaknya perasaan sedih itu tidak sedikitpun berkurang dari hatinya, justru rasanya semakin menjadi. Matanya tertuju ke meja belajar yang terdapat di sudut ruangan, dia melihat potret Magenta di sana yang terbalut bingkai putih. Magenta tampak tersenyum lebar, senyum yang begitu manis, senyum yang sama dengan senyum yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu.

"Kamu kenapa ninggalin kita semua sih Gen," lirihnya sambil mengelus bingkai foto itu, air mata kembali turun dari mata Magika yang membengkak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu kenapa ninggalin kita semua sih Gen," lirihnya sambil mengelus bingkai foto itu, air mata kembali turun dari mata Magika yang membengkak. "Apa kamu gak kasian mama kamu, apa kamu nggak kasian sama semua temen kamu, semua orang yang sayang sama kamu? Mereka semua sedih Gen, begitu juga aku," ujar Magika, dia bermonolog sambil menatap foto Magenta, seolah ia sedang berbicara dengan cowok itu saat ini.

Pandangannya kemudian beralih pada beberapa foto lainnya yang terdapa di sudut meja yang berbeda. Melihatnya, Magika merasa tertampar karena Magenta ternyata masih memajang foto-foto mereka berdua yang mana foto itu sendiri sudah Magika masukan ke dalam kardus, karena ia sudah enggan mengenang tentang kisah mereka berdua.

 Melihatnya, Magika merasa tertampar karena Magenta ternyata masih memajang foto-foto mereka berdua yang mana foto itu sendiri sudah Magika masukan ke dalam kardus, karena ia sudah enggan mengenang tentang kisah mereka berdua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MIRACLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang