10 | Akhir Hubungan
Sebelum baca, ayo kalian berekspektasi apa setelah lihat judulnya?
Jangan lupa vote dulu sebelum baca :)
Semoga suka,
H A P P Y R E A D I N G
--
Jika kesempatan bersama telah tidak ada, maka jalan satu-satunya adalah mengikhlaskan kamu bahagia dengan pilihanmu.
--
Di hari-hari biasanya, setiap sedang ada jam kuliah di kelas Magika lebih suka untuk duduk di barisan terbelakang untuk sekedar tidur atau supaya dia merasa lebih bebas untuk bermain ponsel. Magika sangat jarang memperhatikan kelas yang berlangsung, bahkan hampir tidak pernah. Kecuali jika dosen yang mengajar super duper killer seperti hari ini.
Berulang kali Magika menguap namun ia berusaha untuk tetap terjaga. Berulang kali juga Magika hanya bisa melirik poselnya yang beberapa kali sempat bergetar karena ada notifikasi masuk, niat hati ingin sekali untuk meraih ponsel, namun apalah daya dosen yang mengajar di depan benar-benar killer. Magika sedang malas dikeluarkan dari kelas kali ini.
Cewek yang hari ini menggunakan kemeja motif bunga itu baru bisa bernapas lega ketika jam pelajaran telah usai, dia akhirnya bisa terbebas dari dosen yang mengajarnya selama dua SKS itu.
"Pulang atau ngantin dulu?" tanya Tasya sembari memasukkan bukunya yang tergeletak diatas meja ke dalam tas.
"Pulang deh ah, ngantuk gue," ujar Magika lesu.
Usai mata kuliah hari ini Magika rasanya benar-benar sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan harinya. Bawaanyya pengen pulan dan tidur di kasur yang empuk.
Tasya sedikit kecewa karena Magika ternyata memilih untuk pulang ketimbang, pasalnya cewek itu sedang lapar kini. Dan dengan pulangnya Magika maka Tasya tidak punya teman untuk diajak makan bersama di kantin.
Mereka berdua pun berjalan di koridor kampus yang sedang ramai, karena saat ini kebetulan tengah pergantian jam. Berhubung kelas mereka sebelumnya berada di lantai tiga, jadi mereka berdua lebih memilih untuk turun melewati anak tangga ketimbang lift yang sedang ramai-ramainya.
Saat tiba di lantai satu, tiba tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Magika dan menariknya dalam pelukan orang itu. Magika cukup terkejut, dia berusaha memberontak karena dia tidak tahu siapakah orang tersebut.
"Woy apaan sih nih, lepas gak!" Pekik Magika sedikit terbungkam akibat dekapan orang tersebut.Dekapannya begitu erat, hingga rasanya Magika sampai kesulitan bernapas. Namun rasanya dari parfum yang dipakai orang itu, Magika mengenalinya. Bau parfum itu tidak asing di hidungnya.
"Pacarnya Genta, ke mana aja sih di chat dari tadi kok gak dibales?" ucapnya seraya melepaskan pelukannya dari Magika.
Tepat seperti yang Magika tebak sebelumnya, dia memanglah orang yang Magika kenal. Magika mendongak menatap wajah tampan dengan alis tebal itu, pipinya memerah. Bukan apa-apa, Magika hanya malu dipeluk di depan umum seperti tadi.
Ada satu hal lagi yang membuat Magika bingung, mengapa Magenta memeluknya? Padahal mereka sedang di area kampus, bukankah hubungan mereka ini masih backstreet?
"Bang Genta kenapa meluk Magika?" tanya Tasya, cewek itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutan di wajahnya.
Jelas, melihat Magenta dengan erat memeluk Magika terkejut seperti tadi membuat semua orang terkejut tak terkecuali ke dua sahabat Magenta yang sedari tadi berdiri di belakang cowok itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MIRACLE
Ficção Adolescente(SEQUEL MAGENTA) Sesuai dengan arti namanya, Magika berarti keajaiban, atau dalam istilah lain disebut dengan Miracle. Begitulah penggambaran sosok Magika di hidup Magenta. Magika adalah sebuah keajaiban yang membuat Magenta tersadar, bahwa terkadan...
