11 | Tamparan Keras

9.9K 1K 421
                                        

11 | Tamparan Keras

SUPER DUPER FAST UPDATE!! SENENG KAAN?!!!

Vote dulu sebelum baca jangan lupa.

Komentarnya juga ditunggu, ehe..

Btw ini bakalan agak agak hot.

H A P P Y    R E A D I N G !!!

--

Berpikirlah dua kali saat melangkah. Karena jika kamu salah dalam melangkah, maka semuanya akan berakhir.

--

Weekend, hari di mana biasanya Magika lebih suka memilih untuk tertidur di kasurnya sampai siang, tidak melakukan apapun selain rebahan dan bernapas, juga selalu mandi sekali dalam sehari.

Namun weekend kali ini rasanya berbeda, di mana Magika harus bangun pagi dan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikan hadiah untuk Meta—mama Magenta yang kebetulan hari ini tengah berulang tahun.

Meta mengundang Magika untuk datang ke rumahnya, menghadiri acara pesta kecil-kecilan untuk merayakan usia Meta yang saat ini sudah genap setengah abad.

Magika memilih untuk memberikan wanita itu sebuah tas berwarna hitam dengan merk lokal, Magika tidak memiliki uang sebanyak itu jika harus membeli tas bermerk. Biarpun harganya tidak seberapa mahal yang terpenting adalah ikhlas.

Magika menenteng sebuah paper bag melintasi halaman rumah Magenta yang tidak seberapa luas, terdapat mobil dan motor berjejer rapi di parkiran. Magika berpikir mungkin itu tamu undangan yang lain. Cewek itu pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah itu sambil beberapa kali mengumbar senyum pada orang-orang yang ditemuinya.

"Gika! Udah lama sampenya?"

Magika menolehkan kepalanya, dia melihat Magenta berdiri disebelahnya. Cowok itu terlihat begitu tampan dengan kemeja hitam yang menempel pas di badannya. Magika mengulum senyumnya dengan tatapan memuja, pacarnya itu memang selalu menawan di setiap kondisi.

"Baru aja kok," ujar Magika masih tersenyum. "Mama kamu mana?"

"Ada di dalem," jawab Magenta, lalu dia menggenggam tangan kiri Magika dengan lembut, "Aku anter."

Magenta membawa Magika menuju ruang tengah, ruangan di mana pusat perayaan itu diadakan. Magika enggan menyebutnya dengan pesta, karena pesta lebih cenderung terdengar seperti sebuah acara di mana banyak tamu yang berdatangan. Namun acara saat ini sangat jauh dari kata itu, tamu yang hadir benar-benar sedikit, dan juga dekorasi yang ada sama sekali tidak mencolok. Mungkin Meta benar-benar menginginkan sesuatu yang sederhana dan intim di perayaan ulang tahummya kali ini.

Dalam radius beberapa meter, Magika dapat melihat Meta sedang asyik berbincang dengan seorang cewek yang wajahnya sama sekali tidak asing di matanya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun sangat terlihat bahwa mereka sangat cocok berbicara satu sama lain.

Magika menghentikan langkahnya dan membuat Magenta juga ikutan berhenti. Magika mendongak menatap Magenta yang jauh lebih tinggi darinya. "itu si Medusa gimana ceritanya bisa ada di sini?" tanyanya dengan kening berkerut heran.

Magenta menghela napasnya, lalu dia mengendikkan bahunya. "Aku gak tahu persisnya gimana, tapi mama bilang mamanya Gista ternyata pelanggan setia di toko mama aku."

Magika mendesah. Cobaan apalagi ini Ya Tuhan, batinnya

Magika heran, dari sekian banyak manusia di dunia ini kenapa harus Gista lagi sih? Kenapa cewek ular itu selalu masuk di dalam kehidupannya dan Magenta? Tidak cukup relasinya hanya dengan Magenta, sekarang Gista ternyata memiliki relasi pula dengan Mama Magenta. Apalagi mereka terlihat sudah sangat mengenal satu sama lain. Keadaan yang seperti ini itu membuat Magika jadi berpikir untuk putar balik saja, dia jadi badmood untuk tetap jalan terus.

MIRACLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang