Aku terbangun, mendengar suara seseorang memanggil namaku―ah, itu suara ayah. Apa yang terjadi? Diriku mengambang diatas gelombang biru dalam buaian lautan. Apa aku sedang bermimpi?
Pada suatu tempat dilaut ini, seseorang berbicara dengan suara menentang. Terdengar dari sebuah kesedihan hati, cinta tak dapat terlahir. Hanya kesedihan yang melimpah.
Dari pecahan sebuah keinginan dari laut. Disana perasaan menginginkan untuk tumbuh, terbungkus cahaya. Dilaut jingga yang tercampur sampai matahari terbenam. Air mata dari dunia yang tertidur
Apakah dunia yang kembali terlahir memanggilku? Didasar laut terdalam, aku bisa mendengar sebuah suara. Tidak peduli seberapa gelap atau menyakitkannya tempat ini, aku ada. Keinginanku tidak patah.
Sampai pada suatu waktu, sumber dari semua pertengkaran dan kesedihan akan lenyap. Hari itu akan datang dan seseorang dengan suara lembutnya memanggilku. Jadi kukatakan apa yang menjadi keinginanku..
.
"Ayah, apakah ada cerita menarik setelah ekspedisi?"
"Tidak juga. Tim kami hanya menemukan pencemaran akibat tumpahan minyak. Syukurlah tidak banyak dan segera teratasi."
"Tapi, bukankah akhir-akhir ini kasus pencemaran sudah menjadi ancaman yang cukup mengkhawatirkan?"
"Ya kau benar. Beberapa manusia tak tahu diri memang gemar berulah." Ujar ayahku terlihat mulai emosi, tidak lama. Karena setelahnya ia tersenyum mengusap puncak kepalaku. "Bagaimana kegiatan di sekolah putriku yang cantik ini hm? Apa kau merindukanku? Apa ayah pergi terlalu lama?"
"Sekolahku masih terkendali ayah. Kemarin aku dapat nilai A dengan pujian untuk proyek sainsku." Ujarku riang, "Dan aku tentu sangat merindukanmu, ayah. Lain kali bawalah aku ikut bersamamu." Aku memeluk ayahku dengan erat.
Ayah diam, tak membalas pelukanku. "Mungkin nanti, ayah lelah. Biarkan ayah beristirahat ya." Kemudian berlalu meninggalkanku.
Aku tahu ayah masih trauma akan hari itu. Tujuh tahun yang saat usiaku sembilan. Kami pergi bersama tim ekspedisi ayah. Semua baik-baik saja hingga badai itu datang, seolah ingin menenggelamkan kapal kami. Memang taka da korban jiwa. Tapi, aku yang saat itu terbawa air nyaris tenggelam dan menghilang karenanya.
Aku tidak begitu ingat, tapi saat itu tubuhku terombang-ambing dalam gelombang yang makin liar, sesekali mungkin kurasa kulitku membentur karang yang kasar, aku berharap bisa berpegangan pada sesuatu yang ada di permukaan namun gelombang berkali-kali menarik tubuhku untuk tenggelam ke dasar yang gelap. Aku mungkin akan mati.
Aku sudah benar-benar kepayahan dan putus asa, wajah ayahku membayang diingatanku―jika aku mati, ayah akan kehilangan satu-satunya keluarganya. Mataku yang bersentuhan dengan air asin terasa panas dan perih, namun kepedihan itu tak seberapa di banding nasib ayahku nantinya―terasa lebih menyakitkan. Namun, keajaiban terjadi. Begitu aku membuka mata kulihat diriku yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Ayahku adalah seorang peneliti, ahli oseanografi. Ayah mengabdikan hidupnya untuk lautan, lebih sering menghabiskan waktunya di permukaan lautan lepas―daripada daratan. Ia tidak pernah menyesali jika di lautan inilah akhir dari hidupnya, tapi ayah pernah bilang bahwa dirinya tak ingin kehilangan diriku. Ayah tak ingin hidupku berakhir di lautan.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
THEORY OF EVERYTHING
FanfictionKumpulan cerita | Have a great journey, a head into the universe, finally you are where you belonged.