BACK IN TIME

272 32 4
                                    

"I-m Y-yoon-aa.. tetaplah hidup. Aku.."

Ketika aku mengingat kata-katamu yang asing, aku menggapaikan tangan dalam kenangan waktu itu. Mungkin aku masih tidak mengerti akan beberapa hal, yang jelas semua terasa begitu menyedihkan. Aku sendirian lagi.

Aku hanya gadis tanpa tujuan yang tidak jelas asal-usulnya. Entahlah, aku tidak punya ingatan apapun tentang masa kecilku. Aku hanya tahu bahwa Major-general memungutku saat usiaku sekitar dua belas tahun. Memberiku nama dan segala hal untuk bertahan hidup di sela kerasnya dunia, maka sejak itu hidupku hanya untuknya. Aku masuk sekolah kemiliteran dan menjadi seorang tentara, sebagai alatnya, tamengnya, atau apapun itu. Asal aku tetap berada disisinya.

"Biar saya yang pergi untuk menjadi mata-mata."

"Yoona kau.."

"Jika saya pergi kita akan lebih mudah memata-matai musuh. Dan kalaupun kemungkinan terburuknya saya tertangkap maka pihak kita tidak akan merugi ataupun menyianyiakan nyawa prajurit."

"Kau tahu apa yang baru saja kau katakan, Liutenant Im."

Saat itu aku tahu, untuk pertama kalinya aku berani berbicara menentangnya. Choi Siwon atasanku sekaligus penyelamatku. Sejak Major-general Choi mengulurkan tangannya waktu itu, aku berjanji dalam hati bahwa aku akan mengikutinya kemanapun dirinya pergi. Bahkan jika ia mengkhianati negara pun aku akan mengikutinya, karena kesetiaanku hanya untuknya.

"Saya menyadarinya, Major-general. Dan saya rasa itu adalah.."

"Apa sekarang kau sudah berani padaku?" Major-general tak mengatakannya dengan lantang ataupun kasar. Tapi aku cukup menyadari bahwa Major-general tak senang dengan ideku. "Apa kau ingin mati, hm?"

"Maafkan saya, Major-general. Tapi, selama saya bisa berguna itu tak akan jadi masalah kalaupun harus mati.." ujarku seraya membungkuk.

"Apa kau tidak menghargai nyawamu sendiri? Apa kau tak ingin hidup disini Liutenant Im."

Aku diam, tak berani berujar sepatah katapun. Aku tahu Major-general marah.

"Maafkan saya."

"Baiklah kita akan cari solusi lainnya." Major-general Choi menghela napas. "Kau bisa pergi, Liutenant Im."

Aku mengangguk kecil. Sudah lebih dari sekali aku mendatangi barak tempat para petinggi mengatur strategi dan aku pun tahu jika posisi kami sedang terdesak. Tujuanku hanya berniat untuk membantu Major-general dan mudahkannya mencapai kemenangan. Dan hal yang terpenting adalah aku tak ingin ia terluka.

Perang ini sudah berlangsung bertahun-tahun, tanah air Major-general terlibat pertikaian perihal perebutan kekuasaan. Dan itu terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Meski perjanjian demi perjanjian telah di adakan dua negara ini tak pernah mencapai kata berdamai, cap sebagai musuh bebuyutan tak pernah hilang di antara mereka. Selalu ada kecurigaan dan taktik untuk menjatuhkan satu sama lain, perang ini dianggap sebagai solusinya.

"Liutenant Im, kau di panggil ke barak persenjataan."

"Baik." Ujarku singkat pada seorang corporal.

Iya aku Im Yoona. Banyak yang menyayangkan jika aku terlahir sebagai seorang perempuan. Tapi, semua pandangan merendahkan yang mereka berikan hilang sendiri saat kubuktikan aku berhasil lulus dari sekolah kemiliteran dengan predikat terbaik. Saat kubuktikan bahwa aku punya kemampuan yang layak untuk pergi ke medan perang.

Darah. Kematian. Senjata. Dan kekerasan adalah hal yang akrab dengan hidupku. Selama hampir dua puluh tahun aku hidup, pengalaman pertama yang tak bisa kulupakan adalah saat aku membunuh General dari pihak musuh yang berusaha melukai Major-general. Mungkin sedikit kejam, tapi aku merasa sangat puas. Dan kami bersorak menyambut kemenangan setelah berhasil memukul mundur pihak musuh.





THEORY OF EVERYTHINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang