SECRET GARDEN

346 30 2
                                    

Kejadian itu berlangsung di penghujung musim gugur yang dikenal dengan Indian Summer. Bukan menikmati musim panas di India-Indian Summer kadang kala terjadi menjelang musim dingin, dimana saat itu cuaca menjadi sedikit hangat dan banyak turun hujan. Konon katanya banyak terjadi hal-hal magic saat muncul Indian Summer. Dan kalian akan jadi bagian dari kisahnya,

"Pada akhirnya, bagimu, aku hanyalah mimpi di musim gugurmu. Fana dan tidak berarti, terhempas di antara kenyataan, dan kenangannya terkubur di bawah daun maple yang meranggas."

Semilir angin menerbangkan daun-daun maple hingga ke atap sekolah, tempat Seokjin melarikan diri dari upacara terakhir sebelum liburan musim dingin tiba. Di bawah cahaya matahari yang sedikit tertutup awan, ia berbaring dengan satu tangan sebagai bantalan. Ketenangan membuainya hingga nyaris tertidur, namun tidak jadi.

Seokjin terdiam untuk sesaat. Seingatnya, tubuhnya tadi terbaring di atap gedung yang dingin dan keras. Namun secepat kedipan mata, Seokjin tahu dirinya tak lagi disana. Padang rumput yang hijau, ia menemukan dirinya berbaring di atasnya bersamaan dengan di lihatnya seorang gadis yang sedang memetik senar harpa di samping kanannya—mereka di bawah naungan pohon maple tua. Dalam satu detik yang seolah diperlambat hingga terasa bagai puluhan detik, mata sewarna daun maple yang meranggas itu memaku Seokjin.

"Ravi de vous revoir,"

Tidak ada yang membuka mulut, tapi suara itu terdengar di dalam kepala Seokjin. Berulang-ulang, dengan nada penuh kerinduan yang tidak bisa Seokjin mengerti.

"Siapa kau?" Tanpa sadar, Seokjin ikut bertanya dalam pikirannya.

Hanya kedipan mata yang menjadi penanda bahwa pertanyaan itu didengar oleh sang gadis sebelum Seokjin mendengar jawaban dalam kepalanya.

"Yoona Roxanne Lim."

Masih di tempat yang sama, meski kali ini tak lagi dalam posisi berbaring, Seokjin dan Yoona saling bertatapan. Mereka masih tak saling membuka mulut karena sungguh hampir dua belas tahun ia menimba ilmu di sekolah, rupa-rupanya telepati itu sungguhan ada. Lewat tatapan matanya, Seokjin bertanya dengan penuh rasa curiga dan waspada. Bukan apa-apa, masalahnya, gadis itu tidak seperti seorang manusia yang biasanya Seokjin temui.

"Siapa kau? Apa maksud ucapanmu tadi? Benarkah tadi kita bertelepati?"

Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan lebih banyak daun-daun maple.

"Aku Yoona Roxanne Lim." Ia mengulanginya lagi seraya mengambil daun maple yang ada di rambut Seokjin. "Aku datang untukmu."

Seokjin mengerutkan dahinya.

"Itu." Jemari lentik Yoona menunjuk wajah Seokjin, tepatnya ke bibir lelaki tujuh belas tahun itu. "Ini sudah waktunya."

"Apa maksudmu?" Seokjin tanpa sadar menutupi bibirnya dengan satu tangan, matanya menatap tak suka pada gadis di depannya.

Yoona tidak langsung menjawab, melainkan menatap Seokjin datar dengan kedua matanya yang dihiasi bulu mata nan lentik. Seokjin pun tak bicara apa-apa, hanya mengamati gerak-gerik gadis aneh itu. Biasanya ia bisa dengan mudah mengenali karakter seseorang dan menebak jalan pikiran mereka lewat aura di sekeliling tubuh mereka. Tapi, tidak dengan Yoona. Gadis itu kosong. Hampa. Tidak ada tanda kehidupan.

Apa ia sudah mati? Jangan-jangan hantu?

Begitu terlarut dengan pikirannya, Seokjin sampai tidak menyadari Yoona yang sudah mencondongkan tubuh dan mengecup sudut bibirnya.

THEORY OF EVERYTHINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang