THE BACK-UP PLAN

356 43 7
                                    

Kalian mungkin sering mendengar orang berkata 'kau tidak dapat meramalkan masa depan'. Namun sedikit bagian dari masa depan, masih bisa kita ramalkan. Mungkin lebih pas jika menyebutnya prediksi. Dengan pasti kalian tahu kapan siang dan malam secara bergantian akan datang. Tapi, sebuah prediksi terkadang juga tidak berjalan sesuai keinginan. Dari situ sebuah rencana sangat diperlukan. Jika rencana awal gagal, ingatlah untuk selalu menyediakan back-up plan.

"Hm Chanyeol, bisa tolong ambilkan buku yang disana itu untukku."

"Yoona-ya, kurasa aku jatuh cinta padamu."

"Chanyeol, bukunya."

Yoona sama sekali tidak memandang sosok tampan jangkung di hadapannya dan tetap sibuk berkutat dengan tugas laporan keuangan dewan siswa. Matanya meneliti deretan angka pada kertas dan si ketua meminta laporan itu selesai hari ini, Suho memang patut diacungi jempol dalam urusan menyiksanya.

Chanyeol mendudukkan dirinya di sebelah Yoona, lalu berkata dengan nada naik satu oktaf "Hei Im Yoona! Dengar, aku benar-benar mencintaimu, bodoh. Dan jangan harap aku akan mengambilkan buku itu."

Yoona akhirnya menoleh dan memandang aneh kearah Chanyeol, memindai kalau-kalau ada yang salah dengan lelaki itu. "Apa!?"

Chanyeol menghela napas lalu kembali menggerutu sebentar sebelum memasang ekspresi jengah, karena demi eyeliner Baekhyun, gadis di sebelahnya ini sepertinya sudah tuli, atau sel syaraf otaknya sudah banyak yang putus?

"Baiklah," Chanyeol menatap Yoona lekat-lekat, yang ditatap menautkan kedua alisnya, "Aku sadar mungkin neuron transmitter-mu banyak yang putus hingga tak bisa menangkap informasi yang sudah sangat jelas. Oleh karenanya, akan aku beri penjelasan pelan-pelan." Chanyeol memasang ekspresi serius, "Jadi, karena di semester ini, kita sudah mempelajari tentang pengertian afeksi dalam ilmu sos—"

"Hentikan!" Yoona memberikan tatapan horor pada Chanyeol, "Yeol, kau benar-benar membuatku merinding! Apa ini? Kau mau pamer kalau akhirnya kau mendapatkan nilai lebih dari ketuntasan minimal di ujian ilmu sosial?"

"Tidak, bodoh. Aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu!"

"Aku sudah mendengarnya," Yoona memicingkan kedua matanya ke arah Chanyeol, "sekarang, aku menunggu plot-twist darimu."

Chanyeol hanya memberi tatapan datar, lelaki itu mulai jengah kawan-kawan. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan, tangannya bergerak meraih sebuah buku bersampul merah di atas kursi dekat tempatnya duduk. Ia menyerahkan buku itu pada Yoona.

"Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu membutuhkannya sekarang—"

"Baca sekarang."

"Aku sudah tidak membutuhkannya, lagipula kau membuatku lumutan menunggu buku itu."

"Otakmu yang ditumbuhi lumut!"

"Apa!?" Yoona kembali menyalak. Wajahnya terlihat terluka dan Chanyeol benci pada kenyataan bahwa Yoona juga ketua klub drama sekolah yang begitu manipulatif. Tapi untuk beberapa alasan, ia juga merasa bersalah.

"Oke, aku minta maaf." Chanyeol mengatakannya dengan setengah hati, menghela napas, sebelum berdiri dan kembali menatap Yoona yang masih tetap dalam posisinya. "Meskipun otakmu ditumbuhi lumut pun, aku tetap mencintaimu." Lelaki bermarga Park itu berlutut dengan satu lutut mencium lantai.

Yoona mengedipkan matanya sekali, dua kali, terlihat meneliti wajah Chanyeol seperti sedang mencari-cari sesuatu disana. Mungkin kebenaran atau kebohongan atau— "Dengar, Park Chanyeol, mungkin ini masa-masa sulit bagimu." Yoona mengambil napas dramatis, Chanyeol mengangkat satu alis, "Tapi dalam masa pubertas, laki-laki memang biasanya ditumbuhi kumis. Dan—aku mengerti, mungkin kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa wajahmu terlihat semakin lusuh. Tapi, menumpahkan semua kekesalanmu padaku bukanlah cara yang tepat. Kau tahu 'kan, di zaman seperti sekarang ini ada sebuah alat bernama pencukur kumis?"

THEORY OF EVERYTHINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang