Ayah memarahimu, dengan kejam ia membanting buku yang baru saja kau beli di toko barang bekas. Kau menangis, menunduk, dan berusaha menggapai bukumu. Namun dengan sengaja ia justru menendangnya menjauh hingga tanganmu tak lagi sanggup menggapainya.
"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk membeli kertas itu!"
Kau terdiam membisu dengan air mata yang membasahi pipimu.
"Jawab!" bentaknya.
"Dua— dua puluh."
Ayah tampak kesal. Wajahnya telah memerah. Ia berbalik mengangkat buku itu dan menyobek beberapa lembarannya tepat dihadapanmu.
"Sudah Ayah bilang berkali-kali belum paham juga?! Uang dua puluh ribu itu bisa untuk membeli beras!" ujarnya lalu melemparkan buku yang telah rusak itu.
"Jangan ulangi lagi!" ucapnya final seraya pergi menuju kamarnya.
Kau ambil bukumu yang telah rusak itu beserta sobekannya yang berserakan. Kau letakkan tas punggungmu di sofa ruang tamu. Dengan masih menggunakan seragam kau pergi meninggalkan rumah untuk membeli solatip.
***
Sambil sesenggukan di depan toko, kau solatip lembaran-lembaran buku dengan hati-hati. Buku yang kau beli di toko rongsokan ini adalah buku yang kau inginkan beberapa tahun lalu. Kau tak mampu membeli buku baru hingga memutuskan untuk menunggu beberapa tahun sampai buku itu ada di toko rongsokan.
"Mengapa di solatip bukunya?" tanya seseorang yang baru saja duduk dihadapanmu.
Kamu menyeka air matamu kasar dan memberanikan diri untuk menatapnya. "Rusak."
"Kok bisa?"
Kau menunduk lalu menangis lagi. Entah mengapa mengingat perlakuan Ayah padamu beberapa menit lalu membuat hatimu terasa begitu nyeri.
Tanpa kau sadari ia mendekat padamu lalu mengusap bahumu lembut.
Tbc
∩(︶▽︶)∩
KAMU SEDANG MEMBACA
ESCAPE | Huang Renjun
Fanfiction[COMPLETED] "Aku akan selalu bersamamu, Renjun." "Kau tak boleh bersamaku." "Mengapa?" "Hidupku, kau tahu kematian selalu mengikutiku." Dia kabur dan menghilang. Lalu bukankah 'dia' yang telah pergi tak akan pernah kembali? UPDATE SETIAP HARI SENIN...
