Dahulu saat surga masih menjadi tempat tinggal bagiku, Ayah selalu mengatakan bahwa setiap jiwa yang mati akan kembali ke surga. Sampai aku menolak untuk menuruti perintahnya dan bersumpah untuk memasukkan jiwa-jiwa yang telah dia ciptakan masuk ke dalam neraka bersamaku.
Suara-suara jeritan jutaan jiwa yang terbakar di neraka adalah hal yang paling aku nantikan. Seolah dengan hal itu aku bisa mendapatkan kekuatanku. Tapi tidak untuk kali ini, suara jeritan jiwa-jiwa itu menghantuiku bagaikan suara menjengkelkan jam saat kau sedang menunggu waktu berlalu.
"Venus sudah tidak ada," kata Sebastian pada seorang pria paruh baya yang datang bersamaan dengan seorang gadis berambut hitam dan sekumpulan orang lainnya.
"Apa?" Pria paruh baya itu kemudian tertawa. "Kau pasti sedang bercanda. Nice try, Sebastian."
"Aku tidak bercanda, Paman Damien," kata Sebastian lagi.
Pria paruh baya yang dipanggil Damien itu mengarah padaku, pada Venus yang berada dipelukanku. Dia kemudian berjongkok dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan mulai menangisi kepergian Venus.
"Tunggu, kalian ingat bagaimana Seraphim mati waktu itu? Kejadiannya hampir sama seperti ini, dan Seraphim berhasil kembali. Mungkin jika-"
Kalimat si Nephalem terputus oleh adik Sebatian, Max. "Sera adalah seorang Demigod, dia punya tempat lain sebelum benar-benar pergi dari dunia ini. Sedangkan Venus, dia hanya manusia. Dan saat manusia mati, mereka tetap mati dan tidak akan kembali. Tidak seperti dirimu, Lucifer, dan Sera. Kami hanya manusia."
Perkataannya terdengar putus asa. Begitu juga dengan diriku yang tidak percaya pada takdir ini. Takdir di mana aku dipertemukan oleh Venus, bagaimana dia begitu menarik di antara gadis-gadis lain saat dia mengantarkan pizza ke apartemenku untuk pertama kalinya.
Saat Abaddon mengurungku di dalam cage waktu itu, aku begitu putus asa. Namun, saat aku tahu bahwa Ayah ikut campur tangan dan justru memberikan ide untuk mengurungku, aku menjadi sangat marah. Perasaan itu hampir tidak bisa aku bendung. Perasaan untuk menghancurkan semua yang telah dia ciptakan, terutama untuk memusnahkan manusia begitu kuat.
Lalu, tiba-tiba sebuah cahaya kilat muncul dihadapanku. Aku kira itu adalah malaikat pada saat itu, dengan cahaya yang begitu menyilaukan. Yang ternyata adalah Zeus dan memintaku untuk tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Dan justru kami dipertemukan lagi di Bumi dengan sikap angkuhnya yang seperti aku berhutang padanya.
Aku terus bertanya-tanya mengapa dia membebaskanku. Dan jawaban yang dia lontarkan hanyalah, "Ini untaian takdir. Semua berjalan seperti sebagaimana mestinya," kata Zeus saat itu.
Aku tidak percaya pada takdir. Walau ayahku sendiri yang telah menentukan semua hal pada semestinya. Aku masih terus berusaha bahwa apa yang aku lakukan bukanlah keinginnya, melainkan keinginanku sendiri. Tapi saat ini, melihat Venus, apakah ini takdir?
"Kalian harus pergi dari sini," pintaku. "Hades pasti akan membuat kekacauan lagi. Kalian harus menyelamatkan orang-orang."
"Kita baru saja kehilangan Venus dan kau ingin kita pergi menyelamatkan yang lainnya? Menyelamatkan Venus saja tidak bisa, bagaimana menyelamatkan yang lainnya?" Suara Max terdengar parau.
"Dia benar Max, kita harus menyelamatkan yang lain." Kali ini si Sebastian setuju padaku.
Max menuntun pria bernama Damien untuk pergi dari hutan ini. Si Nephalem dan pacarnya sedang berpelukan. Seolah itu akan menjadi hari terakhir mereka saja. Aku amati mereka sampai berciuman.
"Aku akan kembali untukmu, aku janji. I love you." Pacar si Nephalem akhirnya pergi bersama yang lainnya.
Aku bahkan tidak sempat mengatakan aku mencintai Venus. Karena aku terlalu egois, terlalu takut dengan perasaanku sendiri. Dan akhirnya, aku bahkan tidak bisa mengatakannya sepanjang sisa hidupku yang entah sampai kapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucifer The Lightbringer
FantasySpin-off Seraphim and the Nephalem "I'm Lucifer, The Lord of Hell." "I know." Venus Morningstar tidak mengira akan bertemu dengan pria bernama Lucifer. Bahkan pria itu tidak memiliki nama belakang. Venus mengira, dia adalah pria setengah gila yang p...
