"Aku baik-baik saja," ujarku lembut, masih sambil memeluk Lucifer.
Dia kemudian mendorongku menjauh. "Yeah, dan tidak denganku. Aku tidak baik-baik saja. Aku bisa saja melukaimu."
"Dan kau tidak," sergahku. "Kau menolongku Lucifer. Aku bisa saja tercabik-cabik oleh mereka jika bukan karena kau."
"Dan kau juga bisa terbunuh olehku."
Aku terdiam, berusaha meyakinkannya bahwa dia menolongku bukannya melukaiku. "But you didn't. Itu yang terpenting. Ada apa denganmu? Jika ini berhubungan dengan perasaan bahwa kau merasa berbeda, lupakan saja. Aku juga merasakan hal itu."
"Ya, tapi aku merasakannya lebih dari itu. Sesuatu menarikku untuk masuk ke dalam kegelapan. Aku berusaha keras untuk tidak melukaimu setiap kali perasaan itu muncul. Aku merasakannya dan aku mengingkannya, benar-benar menginginkannya. Aku sangat ingin melukaimu, Venus."
Suara Lucifer yang memburu membuatku tidak bisa mencernanya cukup jelas. Tapi aku tahu dia merasakan sesuatu yang lebih dari berbuat jahat. Sesuatu yang lebih besar dan gelap, sesuatu yang bisa menariknya ke kegelapan dan tidak akan bisa kembali saat hal itu terjadi.
"Apapun itu, kita bisa menghadapinya bersama." Kuraih tangannya, namun Lucifer menjauh.
Dia menggeleng. "Kau tidak mengerti sama sekali. Aku ingin membunuhmu dan aku tidak bisa mengatasi perasaan itu."
Kutarik lengannya, namun seketika Lucifer menekankan kedua tangannya di bahuku. Mata berapi-apinya menatapku penuh kehausan akan rasa membunuh. Tapi aku tidak takut sama sekali. Aku hanya ingin dia tetap bersamaku.
"Bahkan jika hal itu terjadi, aku memaafkanmu."
Lucifer terdiam sesaat. Mata berapi-apinya mulai memudar. "Aku tidak bisa," katanya dan menghilang.
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Setelahnya, kuhubungi Sebastian untuk memastikan mereka mendapat dosa Kemarahan. "Seb, kau mendapatkannya?" tanyaku.
"Kau di mana Venus? Aku mencarimu ke mana-mana." Suara Sebastian benar-benar khawatir.
"Katakan saja padaku bahwa kau mendapatkannya," paksaku. Lagipula aku tidak akan mengatakan ini lewat telepon. Dia pasti akan memarahiku habis-habisan jika aku mengatakannya.
"Ya, di mana kau sekarang? Xander akan menjemputmu." Sebastian kali ini lebih tenang.
Aku berjalan menuju jalan raya, mencari petunjuk di mana pun aku berada. Setelah itu, Xander menjemputku. Mengatakan bahwa Sebastian dan Max berhasil memasukkan kembali Kemarahan dan Hawa Nafsu kembali ke kotak Pandora.
Jika para dosa itu yang membuat Lucifer bersikap seperti ini, lebih baik untuk menangkap mereka semua secepatnya.
"Kemarahan dan Hawa Nafsu, mereka berada di satu tempat. Mungkin mereka merasa lebih kuat satu sama lain saat bersamaan ditempat yang tepat," kataku.
"Maksudmu?" tanya Max.
Aku mengambil sebuah pensil dan kertas. Kemudian menulis 7 dosa itu. "Kemarahan dan Hawa Nafsu terlihat berhubungan. Mungkin jika kita mengurutkan mereka berdasarkan kesamaan, kita bisa mengetahui tempat di mana mereka pergi."
Sebastian dan Jo mendekatiku dan mengamati tulisan yang kubuat.
"Kesombongan, Ketamakan, dan Kerakusan terlihat memiliki kesamaan," komentar Jo.
"Ya, Kemalasan dan Iri Hati juga," komen Sebastian juga yang mulai mengerti maksudku.
Max mulai ikut mengamati tulisanku. "Jadi kemungkinan mereka berada di tempat yang sama?" tanyanya kemudian.
"Ya, dan tebak tempat apa yang paling berpotensi mendapatkan dampak paling besar bagi Kesombongan, Ketamakan, dan Kerakusan?" Sera membalikkan laptop yang sejak tadi dia gunakan untuk mencari informasi, menghadap ke arah kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucifer The Lightbringer
FantasySpin-off Seraphim and the Nephalem "I'm Lucifer, The Lord of Hell." "I know." Venus Morningstar tidak mengira akan bertemu dengan pria bernama Lucifer. Bahkan pria itu tidak memiliki nama belakang. Venus mengira, dia adalah pria setengah gila yang p...
