VENUS'S POV
Kenyataan memang selalu mengejutkan. Pagi ini Ayahku pulang ke rumah setelah setahun tidak pernah kembali. Sekarang, aku bertemu dengan pria bernama Lucifer yang ternyata benar-benar Lucifer.
Saat dia menunjukkan mata merahnya, aku memang sedikit terkejut. Tapi tidak terlalu. Bukan karena tidak takut atau apapun itu. Jujur, aku sedikit takut padanya saat dia menunjukkan mata itu. Tapi sepupuku memang pernah menceritakan mengenai dirinya yang bertemu dengan Lucifer. Mengenai perang antara malaikat dan iblis. Dan turunnya Lucifer ke Bumi untuk menghentikan perang itu.
Aku menarik napas panjang saat menghampiri sekumpulan vampir di pojok ruangan dan meninggalkan Lucifer. Para vampir itu melirik ke arahku saat aku sampai di depan mereka. "Apa kalian mengenal wanita ini?" tanyaku sambil mengeluarkan foto dari saku jaket.
"Tergantung siapa yang bertanya?" tanya salah satu vampir pria dengan jenggot berwarna putih.
"Seorang manusia yang darahnya tercium ke seluruh ruangan." Seorang vampir pria lainnya yang menjawab dan diikuti dengan tawa dari mereka.
Aku tersenyum. "Aku akan memenggal kepala kalian satu-persatu jika kalian tidak menjawabnya," ancamku.
Para vampir itu kemudian terdiam. Ancamanku berhasil pada mereka. "Aku pernah melihatnya sekali di Turquido. Dan aku tidak pernah melihatnya lagi."
Aku menatap pria vampir itu tajam. Aku tahu dia berkata yang sebenarnya. Yang jadi masalah adalah, aku tidak akan bisa pergi sendirian ke Turquido. Itu adalah sarang para vampir. Kebanyakan dari mereka yang tinggal di Turquido sangat sensitif. Mereka tinggal di bawah tanah dan tidak pernah terlihat di permukaan. Aku kira tempat itu sudah tidak ada karena aku tidak pernah mendengarnya lagi.
Aku kemudian beralih dari para vampir itu karena rasanya sudah cukup mendapatkan informasi. Saat aku berbalik, aku melihat Lucifer yang berdiri tepat di belakangku. Bulu romaku langsung berdiri semua.
"Mau berburu vampir?" tanyanya. Nadanya terdengar gembira, seolah berburu adalah kesukaannya.
"Ya, dan kau tidak akan ikut." Aku menyingkir dari Lucifer, pergi menuju luar bar.
Dari belakang, aku merasakan dia pasti mengikutiku. Dan benar saja, Lucifer mengikutiku sampai luar. "Dengar, aku tidak tertarik dengan tipu daya yang kau lakukan. Dan aku tidak butuh bantuanmu. Jadi sebaiknya kau jangan mengikutiku."
"Really? Aku rasa kau butuh bantuanku. Terlebih lagi, semua makhluk semacam mereka pasti akan takut denganku," katanya membanggakan diri.
Aku memutar bola mata. "Aku tidak akan meminta bantuan apapun dari seorang The Devil himself."
"Kenapa?" tanyanya bingung.
Aku menggeleng-geleng tidak percaya. "Apa kau tidak pernah mencarinya di internet mengenai dirimu? Kau, The Devil. Siapa pun yang meminta bantuan pada iblis akan membayarnya dengan jiwa-jiwa mereka." Aku seolah mengutip kata-kata dari internet.
Lucifer tertawa. "Jika aku menginginkannya. Tapi sekarang, aku membantumu dengan senang hati, tidak meminta imbalan apapun."
Aku terdiam. Bayangan mengenai Lucifer tidak seperti yang ada di pikiranku. Kenapa pria seperti model Celvin Clein yang muncul di hadapanku? "Aku tetap tidak meminta bantuanmu," ujarku.
"Kau tahu? Tidak pernah ada yang menolakku selama aku di Bumi. Manusia selalu menginginkanku. Tapi kau, bagaimana bisa kau menolakku?" tanya Lucifer kebingungan. Lengannya terlipat di dada.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena aku memang tidak tahu jawabannya. "Samael? Itu nama malaikatmu, kan?" tanyaku tiba-tiba.
"Don't call me with that name." Suara Lucifer terdengar sedikit kesal.
"Why? Karena God yang memberikannya? Kau tahu, mungkin kau harus memikirkan nama lain juga. Aku rasa, Lucifer adalah nama pemberian God juga." Aku mulai membuatnya kesal. Jelas sekali terlihat di eskpresi wajahnya.
"Tidak! Lucifer adalah nama yang aku buat. Bukan pemberian Ayahku!" bantahnya.
"Kenapa kau sangat tidak menyukai nama Samael? Itu nama yang indah bagiku." Aku benar-benar membuatnya kesal sekarang.
"Jangan sebut nama itu lagi!" perintahnya.
"Karena—"
"Karena itu mengingatkanku pada Ayahku." Lucifer memutus kalimatku dengan nada tingginya. "Mengingatkanku pada rumah," tambahnya.
Aku terdiam. Jadi, apakah ini yang benar-benar dirasakan oleh seorang Lucifer? Seorang penguasa neraka yang merindukan rumah?
"Kau punya masalah yang harus kau selesaikan sendiri," kataku dan meninggalkan Lucifer.
Tujuanku saat ini adalah Turquido. Yang terletak di bagian utara kota New York. Berada di rel kereta bawah tanah yang sudah terbengkalai.
Aku berdiri di depan sebuah gerbang setinggi dua meter dengan tulisan 'tegangan tinggi'. Tapi aku tahu tulisan itu tidak benar-benar memperingatkan bahwa gerbang ini bertegangan tinggi. Seolah dia hanya ingin kau menjauhinya.
Aku meletakkan tasku di tanah dan mengeluarkan peralatan untuk membuka gerbang itu. Pukul dua pagi saat aku melirik jam tanganku. Sudah selarut ini dan aku bisa menyelaikan pekerjaan ini tidak lebih dari satu jam jika berjalan lancar.
Setelah berhasil membukanya, aku masuk sambil menggenggam pisau besarku. Untuk membunuh para vampir yang aku butuhkan adalah memenggal kepala mereka atau menusuk jantung mereka dengan pasak perak.
Saat aku baru saja melangkah masuk, seperti suara kepakan sayap di belakangku muncul. Aku menoleh dan mendapati Lucifer berdiri di sana. "What the hell?" Aku memelototkan mata.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian?" tanyanya.
Aku menggeleng-geleng tidak percaya. "Apa kau baru saja terbang?" tanyaku.
"Well, yeah."
Aku menatapnya sesaat. Tapi kemudian aku tidak menghiraukannya dan berjalan menuju pintu masuk di ujung sana. Gelap, pengap, dan suara-suara aneh berasal dari dalam ruangan bawah tanah ini justru tidak membuatku takut. Yang membautku takut saat ini adalah keberadaan Lucifer yang sejak tadi aku bisa mendengar setiap napasnya.
Saat aku baru saja akan menoleh ke sisi kanan, sesuatu menghantamku. Aku terjatuh ke sebuah lubang yang cukup dalam. Dan tiba-tiba para vampir bermunculan. Aku bersiap dengan pisau besarku untuk menebas kepala mereka. Namun, seseorang menarik kakiku dan membuatku terjatuh lagi. Kepalaku membentur tanah, aroma darah tercium dari tubuhku saat seorang vampir tersenyum padaku, memamerkan gigi-gigi vampir miliknya. Dan mulai menghisap darahku.
***
Aku terbangun. Kepalaku terasa sakit sekali. Saat aku melirik jam, pukul setengah tiga pagi.
"Babe? Kau baik-baik saja?" suara lembut di sampingku itu menenangkanku.
"Ya," jawabku singkat dan kembali berbaring.
"Kemarilah," katanya dan aku menyesap ke tubuhnya. Memeluknya hingga aku tertidur lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucifer The Lightbringer
FantasiaSpin-off Seraphim and the Nephalem "I'm Lucifer, The Lord of Hell." "I know." Venus Morningstar tidak mengira akan bertemu dengan pria bernama Lucifer. Bahkan pria itu tidak memiliki nama belakang. Venus mengira, dia adalah pria setengah gila yang p...
