"Kau berbohong," elakku.
"Aku tidak berbohong, Zeus sendiri yang mengatakan hal itu padaku," belanya.
Kutatap ayahku cukup lama, bukan karena menyesal pada perkataan yang terdengar pahit itu, melainkan karena kenyataan bahwa dia bahkan tidak menganggap dirinya sebagai ayahku. "Kau yang mengajariku menembak, kau mengajariku bela diri, kau yang mengajariku berburu. Apa itu tidak cukup untuk menjadi ayahku?"
Ayah menghela napas panjang. "Itu memang tidak cukup untuk menjadi seorang ayah. Tapi bukan berarti aku tidak menganggapmu sebagai anakku," katanya, seraya mendekatkan dirinya dan mendekapku.
Rasa sedih yang tidak bisa terbendung mulai membludak, aku menangis di pelukan ayah. "Kau ayahku," kataku terisak.
Ayah yang mengelus puncak kepalaku, kemudian mengecupnya hanya diam seribu bahasa. Dia tahu betul perasaanku saat ini, namun dia tidak tahu bahwa aku menyukai Lucifer bukan sebagai seorang ayah.
"Sekarang kau harus pergi, sebelum para demon mengetahui keberadaanmu." Ayah kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipiku.
"Aku akan mengeluarkanmu dari sini, bagaimana pun caranya. Dan ibu akan tetap di surga." Suaraku berdengung akibat cairan dihidungku.
Ayah kemudian hanya tersenyum. "Tidak pernah sedikit pun aku menyesali keputusanku untuk mendapatkan dirimu, bahkan jika aku harus berakhir di Neraka."
Setelah menutup pintu dan kembali ke lorong bebatuan, aku hanya bisa memikirkan perkataan ayahku. Hanya Zeus yang tahu pasti mengenai hal ini dan aku harus bertanya padanya langsung untuk memastikan.
Xander dan Sera yang sejak tadi tidak mengatakan apa-apa, mulai berbicara. "Maafkan aku," ujar Sera.
"Aku tidak menyangka semua ini, benar-benar di luar dugaanku." Xander yang berdecak malah membuatku kesal.
"Aku tidak percaya itu, sebelum aku menanyainya langsung pada Zeus," kataku.
"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Akan sangat canggung sekali jika kau bertemu dengan—"
"Aku sudah berjanji untuk mengeluarkannya dari sini, terlepas dari semua kenyataan yang belum pasti." Kupotong kalimat Xander dengan cepat, membungkamnya untuk beberapa saat.
Sera yang berempati padaku, memberikan dukungan dengan meletakkan tangannya di salah satu pundakku dan memberikan tekanan lembut. "Aku akan mengikuti keputusanmu," katanya.
Dengan begitu, kami berjalan menelusuri lorong kembali. Namun, seolah tak berujung, kami diajak berputar-putar ke tempat yang sama. Xander yang sedari tadi diam, membuatku semakin kesal saja. "Tidak adakah sesuatu yang bisa kau katakan?" Komentarku.
"Apa? Bukankah kau yang tidak menginginkanku berbicara tadi," komentarnya balik.
"Ugh!" Gerutuku.
Sera yang mengerti betul dengan perasaanku dan juga sikap Xander yang telah menjadi sarapan paginya, mulai menjelaskan padanya. "Apa ada hal yang ingin kau katakan?" Suara Sera terdengar lembut, namun tegas.
Kutatap Xander yang menatap balik diriku dan Sera bergantian. "Aku kira kalian tidak mau aku bicara."
"Xander." Sera bergumam.
"Oke, oke, gunakan cincinmu untuk menemukan Lucifer."
Kenapa tidak terpikirkan olehku dari tadi, cincin itu bisa membuatku bertemu dengan Lucifer bahkan saat dia di Neraka, sudah pasti cincin itu juga bisa membawaku menemukan Lucifer di sini.
Kuraba cincin yang masih menghiasi jari manisku. Kupusatkan pikiran kembali pada Lucifer, namun terganggu oleh ingatan bahwa Lucifer adalah ayahku, hingga kenangan-kenangan saat aku menciumnya, sentuhannya, dan keberadaannya muncul di benakku. Sekuat apapun aku berusaha mengelak kenyataan bahwa dia ayahku, tetap saja ada rasa aneh yang sangat mengganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucifer The Lightbringer
FantasySpin-off Seraphim and the Nephalem "I'm Lucifer, The Lord of Hell." "I know." Venus Morningstar tidak mengira akan bertemu dengan pria bernama Lucifer. Bahkan pria itu tidak memiliki nama belakang. Venus mengira, dia adalah pria setengah gila yang p...
