Kenyataan yang kukira akan melihat sebuah tempat kecil yang tidak lebih seperti sebuah istana dan dihuni oleh beberapa Demigod pudar seketika. Sera yang menyusul di belakangku sama terkejutnya.
"Ini akan menjadi pencarian yang panjang," gumamku.
"Bagaimana kita bisa mencari Starva di tempat sebesar ini?" keluh Sera sendiri yang seorang Demigod.
Aku menggeleng-geleng. Tempat ini lebih seperti sebuah kota dengan gedung-gedung menjulang. Walaupun begitu, tinggi gedung di tempat ini tidak lebih dari lima lantai. Namun, tetap saja, bagaimana mereka bisa membangun sebuah gedung di tempat melayang seperti ini. Ah, ini jadi seperti kisah kota melayang di film-film.
Yang tetap menjadi perhatianku, mereka tetap mengenakan pakaian ala yunani kuno, namun dengan peradaban yang modern. "Oke, aku benar-benar bingung sekali. Seolah terdampar di masa depan dengan adat kuno."
"Ayo, kita harus menyamar seperti mereka." Sera berjalan menuju sebuah toko pakaian tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Kita tidak punya uang, setidaknya uang Elysium atau entahlah. Lagi pula, untuk apa kita menyamar?" kuikuti Sera yang bersembunyi di balik sebuah gedung.
Dia menyembulkan kepalanya ke jalan, berusaha untuk tidak terlihat selagi dia melihat sekeliling. "Pertama, kita harus menyamar agar Zeus tidak mengetahui keberadaan kita karena terlalu mencolok. Kedua, kita tidak memerlukan apapun untuk membeli pakaian, kita akan mencurinya."
"Good point," gumamku.
"Oh, dan aku sangat ingin tahu bagaimana Herakles masih hidup."
"Simpan itu untuk nanti, kita punya tujuan lain." Sera mengangguk mendengar perkataanku.
Sekarang kami berjalan mengendap-endap masuk ke sebuah toko pakaian. Sebuah patung berdiri dibalik kacanya, dengan pakian berwarna emas dan aksesoris yang menurutku berlebihan di bagian dadanya.
Sera yang sudah masuk lebih dulu, mengambil pakaian yang dipajang dipatung lainnya, dengan gaun berwarna merah dan menjuntai sampai bawah dan sebuah ikat pinggang emas yang menjadi pelengkapnya. Sedangkan diriku tidak punya pilihan lain selain mengambil pakaian berwarna emas yang kulihat itu.
Setelah berhasil mencari tempat untuk berganti pakaian, kami segera berbaur ke jalan. Di tempat ini, tidak ada mobil, sepeda motor, ataupun kendaraan otomotif lainnya. Namun, kendaraan seperti kereta kuda memenuhi jalanan, sisanya semua orang berjalan kaki. Mungkin, Zeus menginginkan keorisinalitasan tempat ini.
Pakaian yang kukenakan memiliki bahan yang sangat halus dan ringan, namun dengan aksesoris di bagian dada yang begitu terbuka membuatnya menjadi tidak nyaman karena sedikit gatal dan berat dibagian dadaku tentunya. Sera yang mengenakan gaun berwarna merah pekat membuatnya begitu menawan dengan rambut yang dia gerai.
"Ke mana kita harus mencarinya?" tanya Sera yang berusaha memegang gaunnya yang menjutai agar tidak terinjak.
Anehnya, semua wanita di tempat ini mengenakan pakaian yang menjutai hingga ke bawah, namun seolah itu bukan masalah. Sedangkan aku, sedang memikirkan apakah bisa bertahan untuk setengah jam dengan pakaian ini.
"Starva adalah anak Hades. Aku rasa, tempat yang paling cocok untuknya berada adalah di atas sana," kataku menunjuk sebuah gedung dengan kobaran api menyala di atasnya. Tempat itu bagaikan terbakar, namun nampak begitu indah.
"Ah, ya, kau benar." Sera kemudian mendahuluiku.
Aku yang masih terpukau dengan keindahan gedung yang terlihat terbakar itu kemudian dikejutkan dengan tepukan di pantat sambil bersiul. Sorot mata tajamku mendapati dua orang pria yang memberikan seringaian nakalnya. Kupikir, tidak akan ada orang semacam mereka ditempat yang seolah-olah sakral ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucifer The Lightbringer
FantasySpin-off Seraphim and the Nephalem "I'm Lucifer, The Lord of Hell." "I know." Venus Morningstar tidak mengira akan bertemu dengan pria bernama Lucifer. Bahkan pria itu tidak memiliki nama belakang. Venus mengira, dia adalah pria setengah gila yang p...
