52. Cincin Milik Pak Praba

83 8 0
                                        

Semuanya memandang Zavier kala pemuda itu kembali mengeluarkan pendapatnya siapa dalang yang menyebabkan Tommy masuk rumah sakit, dan Irena mendekam di penjara.

Jawaban Zavier sejak awal tidak pernah berubah. Ia memang meyakini jika Putri yang melakukan semua ini.

"Kenapa kalian liatin gue kayak gitu? Kayak gue habis mengeluarkan pernyataan yang kontroversial aja," kata Zavier dengan nada cuek.

Irena mengerutkan kening. "Apa ada hal yang nggak gue ketahui selama gue ada di.penjara? Kenapa Putri dituduh atas kejahatan itu?"

Ambar, Jennessa, Bondan, dan Zavier kompak melempar pandangan, membuat pertanyaan dikepala Irena makin menjadi.

"Sebenarnya, ada sesuatu yang nggak lo tau, Na. Kami sempat membuat rencana buat ngebuktiin siapa sebenarnya yang berlaku jahat diantara kita. Dan ternyata, kami tau kalau Putri adalah orang jahat dipertemanan kita. Dia sengaja mau ngejebak lo, Na." Ambar mengatakannya dengan wajah sangat serius. Irena bahkan sampai menggelengkan kepala beberapa kali. Antara tidak percaya dan tidak menyangka, tetapi disisi lain pikirannya menepis semua itu. Kenapa juga Putri tega menjebaknya?

"Ta...tapi kenapa?" Hanya itu yang bisa Irena pertanyakan. Suaranya terdengar goyah.

"Putri nggak suka seorang pun dekat sama Rizky, termasuk lo sahabatnya Rizky sejak kecil. Bahkan parahnya dia pernah nyekap Jennessa, dan ngancem bakalan buat perusahaan papanya hancur. Karena keluarga Putri salah satu penanam saham terbesar di perusahaan papanya Jennessa. Untung ada Bondan, dia minta sama bokapnya yang segelas duabelas kekayaannya sama kayak papanya Putri buat bantu perusahaan Jennessa yang hampir failed. Lebih parahnya, papa Jennessa sampai masuk rumah sakit karena ancaman Putri. " Zavier menjelaskannya panjang lebar.

Irena menoleh kepada Jennessa. Perasaan bersalah itu hadir. "Maafin gue yang nggak bisa bantu banyak, Jen. Dan maaf kalau waktu itu gue nggak langsung ngerespon saat lo mau ngomong berdua. Sementara lo jelasin semua kebenarannya, tapi disisi lain gue sulit percaya. Sekali lagi gue minta maaf."

Jennessa menggenggam kedua tangan Irena. "Semuanya baik-baik aja sekarang, Na. Perusahaan papa gue udah membaik seperti dulu. Dan soal Putri, kejahatan dia bakalan kebongkar sebentar lagi. Lo hanya perlu sabar sedikit lagi."

Kepala Irena mengangguk pelan. "Ya, pasti gue akan sabar."

"Maaf, waktu kunjungan telah habis!"

Salah seorang petugas polisi menghampiri mereka. Irena segera bangkit dari duduknya. Irena sebenarnya masih ingin berbicara banyak kepada teman-temannya. Apalagi Rizky, tapi sayangnya pemuda itu sudah pergi entah kemana.

Irena pun digiring untuk masuk ke sel tahanan. Menyisakan mereka berempat disana.

"Susulin Rizky, yuk!", ajak Bondan.

Akhirnya mereka pun beranjak pergi dan mencari Rizky.

****

"Tunggu, pak!"

BUGH!

Setelah polisi yang dikejar Rizky sejak tadi menoleh ke arahnya, Rizky langsung memberi pukulan telak diwajah polisi itu. Membuat polisi itu jatuh tersungkur dengan sudut bibir sobek dan mengeluarkan darah.

"APA-APAAN KAMU INI?!" Polisi itu bangkit berdiri, dan mengusap darah di sudut bibirnya. Tatapan elangnya menghunus tatapan Rizky.

Rizky melirik hari polisi itu, tepatnya dimana cincin itu tersemat. Rizky menarik paksa tangan polisi itu, memperhatikan cincin yang dipakai oleh polisi itu. Rizky lalu mengamati cincin yang ia dan Jennessa temukan tempo hari di lokasi kejadian.

Senyum miring Rizky terbit.

Dua cincin yang modelnya sama persis.

Ini memang jebakan dan konspirasi menjebak Irena.

"Lepaskan!" Polisi itu nampak sangat marah.

"Anda adalah salah satu orang yang berkomplot untuk menjebak Irena, " ujar Rizky dengan rahang mengeras.

"Kamu ini berbicara apa? Sudah, jangan buang-buang waktu saya!"

Polisi itu memilih berbalik seraya memperbaiki setelah seragamnya. Tapi ucapan Rizky setelahnya sukses membuatnya berhenti.

"Siapa yang memberikan cincin yang anda pakai sekarang?!"

Polisi itu tersenyum tipis. "Kenapa? Kamu mau juga?"

Rizky berdecih. Pemuda itu lalu memperlihatkan cincin yang ia temukan dengan Jennessa waktu itu, tepat di lokasi kejadian.

Polisi yang Rizky baru ketahui bernama Praba itu hanya mengangkat sebelah alisnya. "Lalu? Hubungannya dengan saya apa?!"

Kepalang emosi, Rizky langsung menarik kasar kerah baju Praba. "Jangan berpura-pura lagi, pak Praba! Anda pasti tahu benar apa yang saya maksud! Anda ada sangkut pautnya bukan dengan kasus yang menimpa sahabat saya, Irena?!"

Praba menghentak cengkraman Rizky, lalu setelahnya melayangkan tamparan begitu keras di wajah Rizky. Rasa panas itu menjalar diwajah Rizky.

"Apa-apaan kamu ini?! Kamu menuduh saya yang macam-macam! Saya bisa memenjarakan kamu sama seperti teman kamu itu, atas dasar pencemaran nama baik."

"Saya tidak takut sama sekali! Saya bahkan sudah mulai mengumpulkan beberapa bukti yang mengindikasikan Irena tidak bersalah. Dan soal cincin ini, saya yakin benar ini memang bukti yang kuat. Cincin yang saya temukan waktu itu, modelnya sama persis dengan yang ada kenakan sekarang, pak Praba!"

Praba berdecak. "Cincin ini maksud kamu?", tanya Praba seraya memperlihatkan cincinnya kearah Rizky. "Di dunia ini bukan cuma saya yang pakai cincin ini."

Rizky melangkah mendekati Praba. "Baik, pendapat anda masih bisa diterima, anda masih bisa mengelak. Tapi, soal barang bukti, pisau yang digunakan untuk melukai Tommy, dimana pihak kepolisian menyimpannya? Kenapa saat teman saya diringkus di rumah sakit pihak kepolisian sama sekali tidak menyinggung soal pisau itu?"

Praba terdiam, ia masih ingin mendengar apa lagi yang akan dikatakan oleh pemuda yang dianggapnya bocah ingusan itu dihadapannya.

"Selain pisau, pihak kepolisian juga langsung meringkus Irena, tanpa memaparkan bukti yang jelas. Pihak kepolisian yang menjemput Irena waktu itu hanya menangkap Irena, atas dasar pengakuan dan juga video yang diberikan oleh pihak yang tidak diketahui identitasnya, oh, bukan! Yang tidak mau diberi tahu identitasnya."

Rizky berjalan mengitari pak Praba, sembari melempar tatapan tajam pada pria bertubuh tegap dan tinggi itu. "Dan juga, pihak kepolisian sama sekali tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut soal kasus ini, seolah-olah setelah Irena ditangkap dan masuk penjara kasus ini selesai. Pihak kepolisian juga nampaknya belum mengecek CCTV di lokasi kejadian, tidak ada garis polisi di lokasi kejadian. Lagi, pihak kepolisian begitu mudahnya percaya dengan orang yang membawa itu, lalu apa tidak ada pikiran jika video itu bisa saja di edit? Irena juga tidak diberi kesempatan lebih untuk menjelaskan kejadian itu berdasarkan versinya. Apa salah jika saya berpikir, pak Praba memang ada hubungannya dengan kasus ini?"

Praba nampak melipat kedua tangannya di depan dada. "Sudah selesai menyampaikan argumen kamu kepada saya? Tidak usah memberi tahu saya apapun tentang kasus ini. Sepenuhnya penyelidikan kasus ini diserahkan kepada pihak kepolisian. Dan kamu yang hanya memberi pendapat kekanak-kanakan seperti itu, sebaiknya diam saja! Jangan sampai kamu ikut terjerat hukuman karena salah menuduh orang. Saya permisi!"

Praba beranjak pergi. Rizky kini tinggal dengan kemarahan yang membuncah. Katanya memerah. Ia mengambil rambutnya frustasi. "Maafin gue, Na...Sampai saat ini gue belum bisa bawa lo keluar dari penjara...."


*****




Hai, terima kasih telah mampir ke cerita Rizky dan Irena

Jangan lupa vote dan komentarnya

Salam hangat,
Dhelsaarora

Rizky & IrenaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang