Irena benci hari Senin! Sejak dari zaman ingusan kelas 1 SD hingga kelas 11 SMA tak ada yang membuat Irena menyukai hari Senin.
Jika Rizky tahu jika ia sedang mengeluh dan mendumel sakarang, maka kira-kira Rizky akan mengatakan kalimat seperti ini : "Baru juga dijemur nggak nyampe sejam lo udah ngeluh, terus apa kabar sama pahlawan kita sewaktu ngelawan penjajah di zaman dulu? Mandi keringat, mandi darah, mereka nggak pernah ngeluh sakit atau apapun itu. Harusnya loe bersyukur, lo cuma ikut upacara bendera, nggak ikut tempur ngelawan penjajah!"
Membayangkan ucapan Rizky membuat Irena bergidik.
Upacara bendera pun segera dimulai.
Belum apa-apa saja Irena sudah mulai merasakan kantuk. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Kakinya sudah mulai pegal, matanya sudah mulai berkunang-kunang.
Ditambah lagi, saat bagian amanat pembina upacara, Irena sudah sangat bosan.
Pasalnya, yang disampai hanya itu-itu saja. Jika bukan tentang masalah kebersihan, pasti mengoreksi pelaksana upacara. Irena maunya sekali-kali jika pembina upacara menyampaikan hal lain, Shah Rukh Khan main film lagi bersama Kajol, misalnya, ataukah untuk sekedar menyejukkan hati para K-Popers yang haus akan ketampanan oppa-oppa, maupun cantiknya eonnie-eonnie kiranya pembina menyampaikan mereka akan comeback lagi. Walau Irena bukan pecinta hal-hal berbau Korea, setidaknya ia tak merasa bosan. Hitung-hitung inovasi baru.
"Berhubung dalam rangka mempererat hubungan baik dengan sekolah lain di kota ini, pihak sekolah sepakat akan melaksanakan pertandingan olahraga antar-sekolah. Lomba bola volly putra dan putri, basket, futsal, hingga cheerleader yang inshaa Allah akan diselenggarakan di sekolah kita..."
Irena bertepuk tangan heboh, senang sekali mendengar penyampaian itu. Akhirnya setelah sekian lama ia berkutat dengan dunia belajar yang membosankan, ia pun bisa menyaksikan pertandingan antar sekolah, yang memperlombakan aneka cabang olahraga.
Semua mata tertuju pada Irena yang masih bertepuk tangan heboh, hingga gadis itu tersadar dari tindakannya, tepukannya makin pelan dan diakhiri oleh senyum kikuk. Benar-benar memalukan!
***
"Seneng banget gue sekolah kita bakalan jadi tuan rumah acara perlombaan olahraga itu! Jadi kan gue bisa liat cogan-cogan dari sekolah sebelah!" Ambar memulai imajinasi kelewat liar dikepalanya, membuat Bondan dan Irena mendengus keras.
"Cogan melulu dikepala lo! Harusnya lo mikir, gimana caranya lo bisa dapat nilai tuntas di mata pelajaran matematikanya ibu Tuti. Jangan remedi mulu! Bosan gue liat lo remedi mulu!", komentar Bondan pedas, Ambar mencebik.
Irena hanya menikmati kacang telur yang ia beli di kantin usai upacara tadi. Asyik juga melihati Ambar dan Boncel sedang adu argumen. Irena berpikir asyik juga ikut-ikutan nimbrung dalam obrolan ini, hitung-hitung mengejek Boncel bisa memunculkan hormon bahagia dalam dirinya, asyik!
"Alah, Bon! Lo juga seneng kali kalo anak sekolah sebelah ikutan tanding di sekolah kita! Secara gebetan lo ada disana!", celetuk Irena yang disambut pelototan gratis oleh Bondan.
"Wah, seriusan lo?! Bakalan jadi berita paling hot nih di kelas kalo gue sebar-sebarin! Woy, Boncel alias Boncabe punya gebetan di sekolah sebelah, nih!!!!"
Memang ember si Ambar yang satu ini, sampai-sampai wajah Bondan memerah sebab menahan malu. Irena bukannya membantu ia malah ketawa ngakak di bangkunya. Sepertinya melihat betapa malunya Bondan seperti suplemen pembangkit rasa senang baginya. Bondan memang seorang laki-laki, tapi Ambar dan Irena tak takut untuk menganggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rizky & Irena
Novela JuvenilYang Irena tahu, setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, kesempatan berubah itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang tertentu, perubahan bisa terjadi pada semua orang, termasuk sahabat masa kecilnya Rizk...
