Aldo mengendarai sepeda dengan Reina yang berada di boncengannya. Ia menaiki sepeda sahabatnya yang bagian depannya terdapat keranjangnya, khas seperti sepeda perempuan.
"Lo kok makin berat Rein," celetuk Aldo sambil terus mengayuh sepedanya. Reina memukul punggung sahabatnya kesal. "Jangan pernah membahas berat badan ke perempuan. Nggak sopan."
Aldo hanya berdecih mendengar alasan dari sahabatnya. "Emang lo perempuan?" ledeknya.
"Kagak!!! Gue cewek!" balas Reina ketus sambil menoyor kepala cowok itu dengan kesal. Aldo hanya terkekeh.
Keadaan kembali hening, tak ada yang berbicara lagi. Mereka asik menikmati suasana malam. "Do, apa kita bakal bisa seperti bulan dan bintang?" celetuk Reina saat ia menatap langit yang malam itu bertabur bintang dengan satu bulan yang menemani.
"Maksudnya?" tanya Aldo tak mengerti maksud dari sahabatnya itu.
"Iya, apa kita tetep selalu ada satu sama lain seperti bintang yang selalu di samping bulan walaupun terkadang terhalang ataupun tak terlihat tetapi bintang tak pernah pergi meninggalkan bulan begitupun sebaliknya."
"Insya Allah gue bakal tetep disamping lo, Rein. Baik kemarin, sekarang, dan esok," jawab Aldo dengan mantap. Reina tersenyum tulus tetapi ia masih tidak yakin akan janji Aldo itu. Apakah cowok itu bakal menepati janjinya kalau ia tau tentang perasaannya?
Aldo menghentikan sepedanya di angkringan kaki lima yang hanya beratap terpal. "Yuk turun." Reina langsung sadar dari lamunannya setelah mendengar ajakan sahabatnya. Ia langsung turun dari boncengan sepeda disusul dengan Aldo.
Aldo masuk dengan menggenggam tangan Reina lembut. "Mbak kopi susunya satu, lo apa Rein?" tanya Aldo.
"Susu jahe aja deh," jawab Reina.
"Mbak susu jahenya juga satu ya." Reina mencomot satu gorengan dan Aldo mengambil satu bungkus nasi kucing.
"Ini nasi Lupy," celetuk Aldo. Reina menatapnya dengan tatapan bingung dan kerutan di dahinya. "Kucing lu bisa bikin nasi?" tanya Reina ngawur yang langsung membuat Aldo tertawa terpingkal-pingkal.
"Bukan, maksudnya porsinya seperti porsi makan si Lupy." Reina manggut-manggut sambil mulutnya membulat membentuk huruf o.
***
Hari ini adalah hari Sabtu, tetapi Reina udah bangun sejak tadi. Memang hari ini ia ingin pergi main bersama teman-temannya sambil mengerjakan tugas.
Reina saat ini sudah berada di kamar Aldo dengan si empunya yang masih bergelung selimut. "Doooooooo, bangun Do. Gue mau minta tolong." Reina mengguncang-guncangkan tubuh Aldo dengan brutal.
"Tolong apaan?" jawab Aldo tanpa membuka matanya dan masih dengan posisi yang sama.
"Bangun dulu ih," rajuk Reina. Aldo menghela nafas pasrah, ia membuka matanya dan langsung duduk dengan bersandar di kepala ranjang. "Udah nih. Mau minta apa?"
Reina terkekeh kecil, "anterin gue ke taman Indonesia kaya."
"Mau ngapain ke sana sih? Kenapa nggak taman depan komplek aja?" tawar Aldo. Reina menggeleng cepat, "gue mau nugas sama temen-temen gue. Kesepakatannya di taman itu Do."
KAMU SEDANG MEMBACA
ReinAldo [COMPLETED]
Dla nastolatkówRank #2 teman rasa pacar [4 Januari 2020] Rank #3 teman rasa pacar [18 Januari 2020] Rank #2 teman rasa pacar [24 Maret 2020] Rank #5 aline [24 Maret 2020] Rank #5 menikung [24 Maret 2020] Rank #9 surya [24 Maret 2020] Rank #7 favorit [21 April 2020...
![ReinAldo [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/181499947-64-k780321.jpg)