Reina sedang berkutat dengan soal kimia yang sulit, sudah hampir satu jam ia duduk di meja belajarnya. Dan sudah satu jam pula Aldo rebahan di kasurnya sambil ngemilin kuaci.
"Lu ngapain sih Rein? Dari tadi duduk disitu, keliatan bingung juga," celetuk Aldo yang masih asik ngunyah kuaci dan membuang kulitnya di kasur Reina. Bikin kotor saja.
"Jangan ganggu dulu Do, gue besok ujian tengah semester. Emang lo nggak ujian?" tanya Reina tanpa menoleh.
"Belum, gue masih minggu depan." Aldo bangkit memunguti kulit kuaci yang berserakan karenanya dan membuangnya pada tempat sampah yang sudah tersedia di kamar gadis itu.
"Emang ini besok mapel apa sih?" tanya Aldo yang sudah berada di belakang Reina sambil mengelus rambut gadis itu dengan sayang.
Karena perlakuan ini, Reina jadi semakin tidak fokus. Detak jantungnya berdetak lebih cepat, pipinya memanas, dan perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik. "Kimia," jawab Reina berusaha bersikap biasa saja.
"Sini gue lihat." Cowok itu melihat buku Reina lebih dekat dan posisi Aldo seperti sedang memeluk Reina dari belakang. Reina berusaha mati-matian menahan detak jantungnya yang menggila agar tak terdengar dengan menahan nafas.
Ia dapat mencium dengan jelas bau parfum yang melekat pada tubuh cowok itu. Begitu membuat candu.
Sadar Rein, lo ini kenapa? Udah berulang kali lo deket ma Aldo, rutuknya.
"Ooooooo gue nggak ngerti," ucap Aldo sambil cengengesan. Reina memberikan raut datarnya, "udah sana ah lo." Ia mendorong Aldo menjauh karena kedekatan mereka tidak baik buat kesehatan jantung Reina.
Aldo kembali rebahan di kasur Reina. "Gue takut besok nggak bisa ngerjain," ucap Reina pada Aldo.
"Santai aja Rein, lo pasti bisa kok." Aldo menatap langit-langit kamar sahabatnya. "Tapi susah Aldo, ini aja nama atom banyak banget lagi," keluh Reina lagi.
"Kalo lo nggak bisa ngerjain gue tetep sayang lo kok." Pipi Reina langsung berubah warna, ia juga berusaha mati-matian buat tidak tersenyum. "Apaan sih lo," balas Reina pura-pura galak sambil melemparkan bulatan kertas pada Aldo dan mendarat tepat mengenai kepala cowok itu.
Aldo tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda sahabatnya itu. Lucu. Mau tak mau Reina ikut tertawa juga. Memang receh.
***
Reina sudah berada di depan ruangan ujiannya. Masih tertutup dan hanya beberapa siswa yang sudah berangkat.
Ia duduk di depan ruangan. Koridor. Sudah kek gembel aja duduk di emperan. Reina mengeluarkan buku pelajaran yang akan diujikan hari ini. Kimia.
"Hei." Tepuk seseorang dari belakang membuatnya kaget, ternyata sosok itu Putri, salah satu sahabatnya. Kebiasaan.
"Udah belajar?" tanya Putri yang saat ini sudah duduk disebelah Reina.
"Udah tapi masih ada yang belum ngerti," keluhnya sambil membolak-balikkan lembaran kertas.
"Nah ini ada Zoey," seru Putri pada gadis yang baru saja mendaratkan bokongnya pada lantai. Zoey hanya memasang raut wajah bertanya.
"Gue nggak ngerti ini, jelasin Rid," pinta Reina sambil memberikan buku yang sudah terbuka menampilkan rumus yang tidak ia mengerti. Semua mendekat, seolah-olah Zoey itu guru yang menjelaskan kepada muridnya. Penuh kesabaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
ReinAldo [COMPLETED]
Roman pour AdolescentsRank #2 teman rasa pacar [4 Januari 2020] Rank #3 teman rasa pacar [18 Januari 2020] Rank #2 teman rasa pacar [24 Maret 2020] Rank #5 aline [24 Maret 2020] Rank #5 menikung [24 Maret 2020] Rank #9 surya [24 Maret 2020] Rank #7 favorit [21 April 2020...
![ReinAldo [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/181499947-64-k780321.jpg)