Setelah telepon itu ditutup secara sepihak oleh seberang sana, Rifa buru-buru mengambil tasnya dan memasukan hpnya kesana. Ia harus kerumah Reina. Harus! Ia akan menjelaskan semuanya, memberikan pengertian pada gadis itu agar memahami perasaan dan keadaannya.
Rifa memasuki taksi yang kebetulan saat itu lewat di depan rumahnya. Ia menyebutkan alamat rumah Reina sebagai tujuannya. Ia duduk dengan tidak tenang, meremas jemarinya, dan menggigit bibir bawahnya.
Sepertinya langit ikut merasakan kesedihan yang Reina rasakan saat ini. Terbukti langit yang ikut menangis sangat deras. Rifa mengumpat dalam hati. Kenapa langit harus hujan? Kemungkinan nanti ia akan basah, tapi yasudahlah ia akan tetap ke rumah Reina.
Rifa turun dari taksi tanpa payung yang otomatis hal itu membuat tubuhnya basah terkena air hujan. Ia memencet bel dengan tak sabaran.
"Iya sebentar," teriak seseorang dari dalam. Tak lama, pintu terbuka menampilkan gadis cantik yang wajahnya hampir mirip seperti Reina. Hanya saja umurnya seperti lebih tua diatasnya. Mungkin kakaknya, pikir Rifa.
"Cari siapa?" tanya Aline.
"Reina nya ada kak?"
"Ada kayaknya di kamar. Kakak panggilin dulu ya," jawabnya. "Kamu duduk di kursi teras dulu ya." Aline langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari Rifa.
Aline mengetuk pintu kamar adik perempuannya. "Dek, ada temenmu di luar."
Reina mendongak dan buru-buru menghapus air matanya. "Siapa?"
"Nggak tau, tadi kakak nggak nanya." Di dalam kamar, Reina mendesis. Kebiasaan kakaknya yang selalu lupa bertanya nama kepada tamu. "Tapi dia cewek."
Reina tau yang dimaksud kakaknya, pasti Rifa. "Aku nggak mau ketemu. Suruh dia pulang, kak." Ia malas untuk bertemu dengan Rifa. Tapi lebih tepatnya ia tak sanggup untuk bertemu dengan Rifa. Ia takut jika ia akan meluapkan semua amarah dalam tubuhnya ke gadis itu. Ia takut meluapkan sakit hatinya ke gadis itu.
"Yaudah, kakak kedepan bilang kamu udah tidur." Didalam kamar Reina mengangguk, ia juga mendengar langkah kaki yang menjauh.
Aline menemui Rifa lagi. "Reina udah tidur dan nggak mau diganggu."
Rifa sama sekali tak percaya, ia langsung berlari ke halaman yang langsung berhadapan dengan balkon kamar Reina. Ia membiarkan bajunya basah terkena hujan. "REINA, GUE TAU LO BELUM TIDUR," teriak Rifa. "GUE MAU JELASIN SEMUANYA."
Aline yang berada di ambang pintu utama hanya bisa memperhatikan, ia tak tau harus berbuat apa. Ia juga tak tau masalah yang sedang menimpa Rifa dengan adeknya. Beruntung saat itu Julia dan Radit sedang pergi ke Jogja selama seminggu untuk menghadiri pernikahan salah satu teman Radit.
"REIN, KASIH GUE KESEMPATAN BUAT NGOMONG SAMA LO." Mendengar itu, Reina menghela nafas berat. Ia melangkah ke arah balkon dan membuka pintunya. Ia menatap kebawah, terlihat jelas sahabat perempuannya itu basah kuyup terkena air hujan.
Mata Reina terlihat masih berair dan bengkak serta hidung yang berwarna merah. Terlihat sekali ia baru saja menangis. Ia menatap kebawah dengan tatapan terluka dan ia hanya diam saja.
"Kasih gue waktu buat jelasin semuanya," ucap Rifa.
"Apa? Gue nggak mau denger alasan apapun dari lo," jawab Reina. "Lo balik aja, kasih gue waktu sendiri. Kasih gue waktu buat sembuh, buat lupa kejadian ini dan memaafkan keadaan." Setelah itu, Reina berbalik kembali masuk ke kamarnya.
"REINA, GUE MINTA MAAF GUE BISA JELASIN SEMUANYA. KASIH GUE WAKTU." Reina sama sekali tak mendengarkan teriakan itu, ia memilih membenamkan wajahnya pada bantal dan menangis.
***
Pagi-pagi sekali, Rifa sudah nangkring di depan rumah Aldo. Ia harus membicarakan masalah semalam kepada cowok itu. Beruntung saat itu Aldo sedang berada di teras rumah memberikan makan kucing kesayangannya.
"Do," panggil Rifa yang sontak membuat Aldo menoleh. Cowok itu menampilkan raut terkejut tapi dengan cepat kembali menormalkan raut wajahnya. "Sejak kapan disini? Kok nggak bilang-bilang?"
"Kita putus aja." Sontak hal itu membuat Aldo membelalakan matanya, ia terkejut. Kenapa Rifa berkata ini? Kenapa tiba-tiba? Bukankah kemarin mereka baru jadian dan mereka sama sekali tak ada masalah. "Kenapa? Ada apa? Nggak, nggak mau."
"Reina udah lama suka sama lo, perasaan sudah ada sebelum rasa nyaman gue ke lo, cinta dia ke lo lebih besar daripada rasa nyaman gue ke lo yang baru seujung kuku." Rifa menangis saat mengatakan itu. Ia menangis bukan karena putus dari Aldo, tapi karena ingin lepas dari cowok itu dan Reina kembali mau berteman dengannya.
"Itu bukan sebuah alasan, Rif. Nggak ada yang bisa mengukur perasaan cinta. Gue bisa ngasih pengertian ke dia." Rifa menggeleng dan mengusap air matanya. "Reina benar-benar sakit hati karena hubungan kita, gue minta putus. Gue mau mengakhiri semuanya." Setelah mengatakan itu, Rifa berbalik meninggalkan Aldo yang terlihat masih banyak yang ingin cowok itu katakan.
"GUE AKAN TETEP PERJUANGIN LO, RIF," teriak Aldo yang masih bisa Rifa dengar.
***
Reina tengah duduk di kursi teras dengan mata yang menatap kosong ke arah halaman depan. Ia seperti tak ada gairah hidup lagi, bahkan orang dapat melihat dari tatapannya tersimpan kesedihan.
"Rein," panggil Aldo yang berada di depan gerbang. Reina menoleh dan beranjak untuk menghampiri sahabatnya.
Saat sudah dihadapan Aldo, Reina hanya diam dengan tatapan kosong. "Lo tuh kenapa?" tanya Aldo. "Kenapa harus suka gue?" Sontak hal itu membuat Reina membelalakan matanya. Cowok itu sudah tau? Aldo sudah tau perasaan Reina?
"Lo tau, KARENA PERASAAN LO ITU HUBUNGAN GUE SAMA RIFA HANCUR," bentak Aldo yang hanya mendapat respon diam dari Reina. Cewek itu tidak benar-benar diam, ia menggigit bibir menunduk, menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.
Alfi dan Arlan yang sedang mabar game online di ruang tamu terlonjak kaget mendengar suara bentakan. Mereka tergopoh-gopoh menuju teras dan melihat Aldo yang sedang sangat marah kepada Reina.
Alfi melangkah ingin mendekati dua orang itu dan membela adiknya yang sedang dicaci maki oleh sahabatnya sendiri. Tak biasanya Aldo seperti itu kepada Reina. Arlan menahan bahu Alfi sambil menggeleng. "Biarin mereka selesaiin semua dulu."
"KENAPA LO HARUS PUNYA PERASAAN KE GUE HAH?! KENAPA?!" Air mata Reina akhirnya menetes setelah ia tidak kuat untuk membendungnya lagi. Tapi mulutnya masih terkatup dengan rapat.
Tangan Aldo sudah melayang, bersiap untuk menampar. Reina pun sudah menunduk dengan takut serta menutup matanya. Tapi Aldo menurunkan tangannya lagi dan malah mengepalkan tangannya disamping tubuh. "AGGGGHHH." Aldo mengacak rambutnya frustasi.
"GUE BENCI SAMA LO, JANGAN TEMUI GUE LAGI. ANGGAP KITA NGGAK PERNAH KENAL. LUPAKAN PERSAHABATAN KITA." Akhirnya kata-kata yang Reina takutkan terucap dari mulut Aldo. Tentu saja gadis itu menangis terisak setelah mendengarnya. Sedangkan Aldo malah beranjak dari sana dan bersikap tidak peduli kepada Reina.
Tubuh Reina merosot dan terduduk lemah. Tangisannya menjadi histeris dan meraung-raung. Ia juga terus berucap menyalahkan dirinya bahwa semua ini adalah salahnya, karena perasaan yang tak seharusnya tumbuh dihatinya.
Alfi melepaskan cengkeraman tangan Arlan di bahunya dan berlari menuju adiknya. Arlan mengikuti dari belakang.
Alfi menarik tubuh Reina untuk berdiri dan langsung dipeluknya tubuh adiknya itu. Ia terus membisikan kata-kata penyemangat dan menampik semua kata-kata gadis itu yang menyalahkan dirinya sendiri.
Arlan hanya bisa mengelus rambut belakang Reina dengan sayang. Ia tak menyangka gadis yang sangat ceria dan cerewet itu bisa menangis dengan histeris. Mata Reina yang selalu berbinar saat melihat kuota, seblak, dan cowok ganteng di drama, kini redup dibanjiri air mata. Arlan tak menyangka gadis itu benar-benar berada di titik terapuhnya. Ternyata sosok Aldo sangat penting bagi hidupnya.
***
Fairahmadanti1211
KAMU SEDANG MEMBACA
ReinAldo [COMPLETED]
Teen FictionRank #2 teman rasa pacar [4 Januari 2020] Rank #3 teman rasa pacar [18 Januari 2020] Rank #2 teman rasa pacar [24 Maret 2020] Rank #5 aline [24 Maret 2020] Rank #5 menikung [24 Maret 2020] Rank #9 surya [24 Maret 2020] Rank #7 favorit [21 April 2020...
![ReinAldo [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/181499947-64-k780321.jpg)