17. Semakin Berharap

180 33 0
                                        

Bukannya pulang ke rumah setelah mengantar Reina, Aldo malah pergi ke kafe, bertemu dengan Surya yang sepertinya ingin menceritakan sesuatu.

Aldo membuka pintu kafe, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aldo melihat Surya yang udah nangkring di bangku bagian tengah dengan mug pesanannya yang ada di hadapannya.

"Hei," panggil Aldo yang langsung duduk dihadapan Surya. Cowok itu langsung mengalihkan pandangannya dari hp ke Aldo yang ternyata sudah duduk manis di hadapannya. "Lo ngapain suruh gue kesini?" sambung Aldo dengan nada penasaran.

"Suntuk gue di rumah dengerin mami marah-marah mulu sama gue," keluh Surya dengan tampang yang bete dan malas.

"Kenapa lagi emang?" Aldo memang sudah tau semua masalah Surya, karena cowok itu selalu menceritakannya padanya.

Surya menghembuskan nafasnya dengan berat. "Biasa mami ngomel gara-gara nilai jelek."

"Ya lo nya bego sih," ucap Aldo singkat. Surya mengedikkan bahunya, "ya lo pikir pelajaran sekolah itu gampang hah?!," sewotnya

"Gampang-gampang aja tuh." Ia tersenyum meledek kearah Surya. "Lo nya aja yang otaknya seperempat," sambungnya.

"Hina aja terus gue hina," ucap Surya dengan nada sok dramatis. Aldo menatapnya sinis dan berdecih. Sahabatnya itu selalu berlebihan dalam segala kondisi dan situasi.

"Udah ah nggak usah urusin nilai dan otak gue, lagian gue ngajak lo kesini buat buat nongkrong aja. Oh iya lo dari rumah?"

"Kagak, gue abis nganterin si Reina." Surya tersenyum tetapi dengan senyuman menggoda sahabatnya itu. "Awas lho kalau salah satu dari kalian ada yang suka," ujar Surya.

"Nggak mungkinlah lah, gue udah sama dia dari kecil, gue tumbuh bersama dengan dia."

"Yeeeee lo ngga pernah denger atau baca quotes?" Aldo menggeleng pelan dengan tampang bodoh. "Nggak akan ada persahabatan antara cowok dan cewek tanpa melibatkan sebuah perasaan," sambung Surya.

Aldo mencibir Surya, karena tak biasanya sahabatnya menjadi bijak seperti itu. Aldo mengira sahabatnya salah makan atau ketempelan setan kebon tetangganya. "Lo sehat kan?" Surya mengangguk sebagai jawaban. "Syukurlah gue kira lo habis ketempelan apa gimana."
Surya memicingkan matanya tajam. Bisa-bisanya Aldo mengatakan dirinya ketempelan. "Emang gue mah cocoknya konyol bukan bijak. Sabar gue mah." Aldo terkekeh mendengarnya.

***

Reina melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah jam 3 sore. Perutnya berbunyi dan melilit yang menandakan keadaannya jika sedang lapar.

"Gue laper," celetuk Reina yang membuat teman-temannya menoleh kearahnya. "Pulang yuk udah sore, lagian kan tugasnya udah selesai. Gue laper," lanjutnya.

"Yaudah yuk." Putri mengangguk setuju dan mengemasi barang-barangnya. "Mau langsung pulang apa makan dulu?" tawarnya.

"Gue nggak bawa uang banyak," sahut Hilda.

"Makan dirumah aja deh, gue udah capek banget nih. Pingin rebahan," ujar Reina. Semua yang ada disitu mengangguk setuju.

Reina mengambil benda persegi panjang dari dalam tasnya, ia membuka roomchatnya dengan Aldo untuk meminta sahabatnya untuk menjemputnya.

Do, jemput gue.

Ia kembali memasukkan hpnya kedalam tas dan menatap teman-temannya yang ada dihadapannya. "Lo pulang bareng kita kagak?" tanya Freya.

ReinAldo [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang