[UPDATE JUMAT DAN SABTU]
Kau yang menerangiku di antara gelapnya malam
Warna-warnimu yang menyilaukan mata membuatku tenang
Percaya bahwa masih ada cahaya di gelapnya malam
Pesonamu membuat hidupku lebih terang
Kau adalah auroraku
Pesonamu membuatku...
Suhu sudah mulai memanas. Semua jendela sudah mulai dibuka. Para gadis mulai membawa benda berputar berharganya. Ada juga yang membawa kipas bundar tipis. Maklum. Meski sekolah KQ High School adalah sekolah yang rata-rata diisi anak orang kaya, sekolah itu mengikuti program ramah lingkungan. Jadi, AC dan kipas angin tidak ada di ruangan manapun.
Hanya ada penghangat ruangan untuk musim dingin saja.
Sama seperti gadis lainnya. Neyla membawa kipas angin bebeknya. Kipas angin itu ditempatkan begitu saja di mejanya. Tapi langsung disembunyikan saat ada guru yang masuk, takut dirampas. Pasalnya itu salah satu benda kesayangannya.
"Neyla, aku juga panas." Ocha menyeret kipas angin bebek Neyla agar posisinya berada di tengah-tengah meja mereka berdua yang berdampingan.
"Panas sekali Ocha. Dunia seperti sedang kebakaran." Neyla kemudian menggunakan buku catatan matematikanya dan mengibas-ngibaskannya untuk menambah angin.
"Teman-teman, minta perhatiannya! Hari ini ada pelatihan evakuasi." Erian berdiri di depan papan tulis. Seisi kelas langsung sumringah seketika. Ada yang joget-joget karena itu berarti ada jam pelajaran yang digunakan untuk pelatihan evakuasi. Maklum, saat ini sudah masuk jam pelajaran matematika yang berarti waktunya Pak Sugi mengajar.
"Ketika alarm berbunyi, tolong ikuti instruksi dan segera melakukan evakuasi ke lapangan serbaguna." Erian menambahkan.
"Baik!" Semua anak menjawab dengan patuh dan semangat. Jika seperti ini saja mereka bahagia.
"Inilah sandi dalam evakuasi." Erian menuliskan sesuatu di papan tulis.
"TPD?"
"Teratur, perlahan, diam." Richie menjelaskan.
Kkkrrrrrriiiiiiiiinnnnnggggggg!!!!
'Ada api muncul di Laboratorium Kimia lantai satu. Tolong segera evakuasi!' Munculah pengumuman dari speaker yang terpasang di atas papan tulis.
"Api! Api! Api!" Neyla berseru meramaikan suara alarm kebakaran yang berisik.
"Neyla! Teratur, perlahan, diam! Lagipula ini hanyalah simulasi." Ocha memarahi Neyla yang berakting panik.
"Teman-teman, ini penting. Kita harus melakukannya dengan serius. Pastikan dengarkan arahannya." Erian berujar dengan nada lembutnya.
"Iya Erian, maaf." Neyla melemparkan senyum manisnya pada Erian yang ada di depan kelas. Dia menyisihkan anakan rambutnya yang tidak mengganggu sama sekali itu. Ocha hanya memasang wajah datar melihat sikap manis Neyla.
"Pertama, tetap tenang. Lalu buka tasmu dan ambil topi pelindung api. Kemudian berbaris sesuai urutan partner duduk kalian." Erian memberi aba-aba kepada teman-teman sekelasnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.