Selamat membaca.
Ujian telah usai 3 hari yang lalu. Semua mata pelajaran tidak ada yang Asya remedi, itu mengapa membuat Asya malas berangkat. Untuk apa ia berangkat jika disana tidak melakukan apapun.
Membantu menyelesaikan temen-temennya yang sedang remedi? Tidak, karena mereka akan meminta padanya bukan untuk bagaimana baca mendapatkan jawaban, melainkan menyebutkan jawabanya. Fisya pun sama, bedanya kemarin Senin Fisya berangkat karena mapel Fisikanya di remedi.
Sekarang rumahnya tengah ramai akan orang. Semua keluarganya berkumpul hari ini. Asya tidak suka keramaian meskipun ini ramai karna keluarganya sendiri. Asya ingin berada di kamar saja seharian rasanya, tetapi ia tidak enak dengan Bunda dan Ayahnya. Tidak mungkin ketika semua berkumpul, Asya malah mengurung diri di kamar. Tidak sopan, ia masih waras untuk melakukan hal itu.
"Nggak sekolah kamu Sya?" tanya Ervan-Adik dari Ayah nya.
"Enggak Om. Gak ada yang di remedi juga," jawab Asya seadanya.
"Juara sekolah mana mungkin di remedi, Om." sahut Ino.
"Kalian sebagai Abang, harusnya memberi contoh yang baik buat Asya. Masa kalah sama adiknya." ujar Ervan membalas ucapan Ino.
"Iyaa dehh nanti belajar!" Asya terkekeh ringan sambil melirik Ino yang menyungging wajah cemberut.
Memang keluarganya sudah tau bagaimana Asya di sekolah. Asya yang selalu menjadi juara sekolah, Asya sang anak yang selalu membanggakan sekolah. Asya berdiri lalu menuju ke para sepupunya dan kembar yang sedang bermain game online yang aga jauh dari ruang keluarga.
Disana ada para sepupunya yang tengah asik dengan dunianya sendiri. Asya berniat ikut bergabung kesana, mungkin lebih asik bergabung dengan mereka dibandingkang di ruang keluarga yang berisi orang-orang dewasa.
"Kak Sya!! Sini Kak gabung." seru Dinar saat Asya berjalan kearah mereka.
"Gimana ujiannya? Ada yang di remedi nggak?" tanya Asya saat sudah sampai di samping gadis itu.
"Ada beberapa Kak, nanti ajarin lagi yaa," Jihan ikut menyahut.
"Iya nanti kita belajar sama-sama." balas Asya.
Dania dan Jihan kelas baru menginjak kelas 10, hanya selisih satu tahun dengan Asya yang kelas 11. Dania dan Jihan memang cukup akrab dengan Asya. Mereka yang otaknya tidak sepintar Asya akhirnya jika ada masalah tentang pelajaran akan berguru kepada Asya. Selain Asya pintar, Asya juga kelas 11 jadi pasti pelajaran yang di tanyakan Dania dan Jihan sudah Asya pelajaran waktu kelas 10.
"Sya kenalin gue sama temen-temen cewek lo dong," ujar Raka tiba-tiba, pria itu sudah tidak bermain game online lagi.
"Kriteria lo yang kaya gimana Kak?" Balas Asya dengan tersenyum. Ada saja tingkah konyol dari sepupunya ini.
"Apa aja deh, gue denger-denger di Mentari cewek nya cakep-cakep anjir. Ngga! Lo mau satu nggak?" Raka menoel lengan Lingga yang sedang bermain game.
"Nggak, lo aja." Balas Lingga.
"Yakin lo? Daripada sana di Michel posesif anjir mending cari yang baru." Ujar Raka.
"Nggak tertarik gue."
"Gue ada nih, mau gak?" canda Asya.
"Sini liat cakep nggak?" tanya Raka dengan tidak sabaran.
"Jangan di ladenin Sya. Raka kan fakboi ceweknya banyak dia," sahut Lingga yang pandanganya terarahkan ke ponselnya.
"Lo kali yang fakboi, gue mah enggak!" sahut Raka dengan cepat.
"Ahh masa sih tapi kok di room chat lo hampir semua kontak cewek yaa?" Ino berbicara sambil sesekali melirik kearah Raka yang terlihat kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAPER [COMPLETED]
Fiksi RemajaIni menceritakan kisah dua sejoli yang mempunyai sifat berkebalikan. Satu misi yang malah menimbulkan rasa keterbalikan dari perjanjian awal. Harusnya Farel konsisten dengan kata yang keluar dari mulutnya. Harusnya Farel tidak boleh melanggar yang s...
![BAPER [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/216303731-64-k553446.jpg)