Haloooo
Makasih ya yang udah baca cerita ini. Terima kasih juga yang udah kasih vote and comentnya.
Selamat membaca.
Menjunjung tinggi gengsi adalah sebuah seni menyiksa diri sendiri dengan perlahan.
Masing-masing ego saling menunjukkan kemauan tersendiri. Dengan perasaan menolak keras itu semua. Kita lihat sampai mana manusia sok kuat itu bertahan.
Disaat kerenggangan itu tercipta. Ada satu orang yang sedang menertawakan semuanya dengan perasaan puas. Tanpa sengaja kedua belah pihak malah memberi jalan dengan leluasa, pada satu orang yang sedang berusaha masuk pada satu hubungan.
Untuk apa mata di ciptakan jika semua orang menilai dengan telinga. Ah sepertinya kata itu sudah di pecahkan kebenarannya oleh Farel sendiri, ia melihat, menyaksikan, dan merasakan. Semuanya terasa nyata bagi Farel yang sedang membela mati-matian halusinasi agar semua itu tidak benar-benar nyata.
Farel sakit hati? Tentu saja.
Ingin marah? Pasti.
Kecewa? Sudah jelas rasa itu ada.
Menyerah? Farel selalu memikirkan kata itu jika lagi-lagi terlintas pada benaknya. Ia ingin menyerah tapi tidak bisa. Ia lemah, ia takut, ia bingung. Semuanya campur aduk dalam satu masalah yang sedang di alaminya.
Farel lemah jika menyangkut Asya, dirinya paling tidak bisa memutuskan tentang gadis itu secara cepat. Takut pada keadaan dimana ia menyesal dengan apa yang ia lakukan dan ternyata semua itu adalah kesalahpahaman yang terjadi.
Bingung dengan keadaan yang selalu mempermainkan dirinya seolah-olah selalu rendah di mata semua orang termasuk keluarga dan Asya. Pada keadaan dimana semesta seolah memperlihatkan semuanya tetapi ada saja yang di tutupi agar kesalahpahaman itu terjadi.
"Diam aja sawan lo kumat?" Agam menepuk bahu Farel cukup kencang. Membuyarkan semua lamunan Farel.
"Lo kenapa sih? Setiap hari gak usah heboh bisa kan?" Dengan polosnya Agam menggeleng menjawab ucapan Farel.
"Diem deh lo. Gue lagi gak ada mood buat becanda ataupun ngobrol. Lagi puasa ngomong gue hari ini sampai ujian selesai." seru Farel lalu menyumpal telinganya dengan earphone.
Sebelum itu Farel membuka ponselnya terlebih dahulu yang memang sebelumnya di matikan daya. Saat jarinya akan meng-klik ikon musik tetapi terhentikan oleh satu pesan yang di kirim oleh gadis itu. Dengan perasan berat hati dan juga kepo Farel membukanya.
Farel tertegun membacanya. Sebuah kata penutup dari gadis itu. Satu pesan menutup untuk semua kisah yang mereka ciptakan di setiap pertemuan. Bahkan gadis itu sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.
Harusnya Farel yang marah, harusnya dirinya yang mengirimkan pesan ini untuk Asya, harusnya ia yang memberikan kata penutup pada Asya bukan gadis itu.
Oke sepertinya memang semuanya sudah selesai.
Tuhan sudah memberi jawaban atas kisahnya yang memang sepertinya tidak di takdirkan bersama.
Farel menerima, dengan berat hati tentunya.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
BAPER [COMPLETED]
Novela JuvenilIni menceritakan kisah dua sejoli yang mempunyai sifat berkebalikan. Satu misi yang malah menimbulkan rasa keterbalikan dari perjanjian awal. Harusnya Farel konsisten dengan kata yang keluar dari mulutnya. Harusnya Farel tidak boleh melanggar yang s...
![BAPER [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/216303731-64-k553446.jpg)