BAB 34 : KEBOHONGAN KECIL

355 31 0
                                        

Annyeong....

Selamat membaca.

Farel menatap ponselnya dengan datar. Mood nya sedang kacau karena kejadian beberapa menit yang lalu, dan saat sudah sampai di kamarnya langsung di suguhkan banyak panggilan tak terjawab dari Asya. Sungguh sepertinya hari ini akan menjadi hari paling berat baginya.

Farel tau maksud dari panggilan yang Asya lakukan padanya, ia ingat kelakukan apa saja yang di lakukannya kemarin malam. Hanya kejadian yang Farel ingat, tidak dengan kata-kata yang keluar saat kemarin malam. Ia mabuk, tentu ucapannya tanpa sadar dan pastinya melantur. Harus bicara apa ia pada gadisnya, dari kemarin malam ia tidak memberi kabar sama sekali hingga saat ini, tentu Asya akan meminta jawaban.

Hembusan nafas Farel kembali berulang. Haruskah ia kembali menghubungi Asya? Tapi jika di hubungi balik, jawaban apa yang akan ia beri untuk gadis itu. Pasti gadis itu marah padanya.

Kembali ingatannya pada ucapan Matteo tadi semasa di dapur. Sialan kepalanya pusing kembali saat mengingat masalahnya yang ini tidak bisa di sampaikan sampai saat ini. Bagaimana caranya memberi tahu soal kuliah ini pada Asya, masalah yang sekarang saja belum menemukan jawaban dan ia harus segera menuntaskan masalah kuliahnya.

Hembusan panjang kembali di lakukan Farel setelah kesekian kalinya. Perlahan tangannya mengambil benda persegi panjang itu dan mencari nomor gadis itu. Farel akhirnya berakhir mencoba menghubungi balik Asya.

Hingga akhirnya sambungan itu terangkat. Farel menarik nafasnya mencoba bersikap tenang.

"Halo..."

"Abis dari mana baru angkat?"  Entahlah tiba-tiba Asya langsung menyerang dirinya.

"Maaf. Aku baru bangun," ucap Farel. Memainkan kukunya dengan gelisah.

"Lagi sibuk ngapain sampai kemarin malam nggak ada hubungi aku? Abis ada kegiatan apa sampai lupa sama aku?"  Oke Farel merasakan bulu di tangannya meremang mendengar nada berbeda dari Asya.

"Hehehe iya maaf ya, kemarin malam aku main sama Agam dan Rio pulangnya pagi. Jadi lupa maaf ya kalo udah main tau sendiri kan cowok gatau waktu." balas Farel dengan nafas tercekat. Berdoa semoga Asya percaya saja.

"Yakin main?"

"Ya-yakin lah! Kan emang beneran main ke rumah Rio. Ya udah maaf ya kalo kamu marah cuman gara-gara ini, aku beneran lupa, Lucy." terang Farel menghela nafasnya panjang.

"Cuma kamu bilang? Benar-benar ya kamu Farel. Terserah deh."  Suara gadis sebrang sana terdengar jengkel.

"Kamu beneran marah?"

"Enggak."

"Kok cuek gitu?"

"Nggak apa-apa pengen aja. Udah ya aku banyak urusan lagi sibuk, bye."  Sambungan di putuskan sepihak oleh Asya. Saat Farel hendak membalas terhenti oleh itu.

Farel menatap ponselnya dengan frustasi. Asya benar-benar marah padanya, padahal ini baru masalah alasan belum lagi gadis itu tidak tahu dirinya mabuk kemarin dan jika di tambah ia membahas tentang kuliah. Akan se-marah apa Asya? Farel begidik ngeri membayangkannya.

Farel kembali menghubungi nomor lain, Rio. Ia mau menanyakan sesuatu.

"Halo Yo..."

"Apa?"

"Gue kemarin kan mabuk. Gue ada ngomong sesuatu sama lo dan Agam nggak waktu nggak sadar? Bilang aja jangan ada yang di tutup-tutupi." Farel juga penasaran tentang ini.

BAPER [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang