BAB 52 :FOR WHO?

194 12 0
                                        

"Terlepas dari bagaimana kita bertemu. Senang bisa mengenalmu."

Selamat membaca.

Asya merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan bantalan kaki Fisya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan hampa. Harusnya ia senang, tetapi rasanya biasa saja.

Rasa ini sungguh berbeda saat keadaan dimana Farel menyatakan cintanya, ia selalu merasa bahagia waktu itu. Tetapi sekarang rasanya biasa saja.

"Ca lo beneran udah jadian sama Kak Geswa?" Tanya Fisya sembari mengoles fondation ke wajah Asya dan mulai mengeblend nya secara rata.

"Iya Fi, lo nggak percayaan banget deh,"

"Iya gue nggak percaya sebenernya. Gue tau banget apa yang lo inginkan saat ini." Ucap Fisya membuat Asya terdiam sesaat. Gadis itu tau tentang dirinya kapanpun itu.

"Gue nggak bisa sama dia lagi Fi, apa yang gue harapkan memangnya?" ucap gadis itu gamang.

"Mungkin dia juga udah ada pengganti di sana." lanjutnya lagi.

"Tapi kok gue ngerasa Farel masih nunggu lo ya meskipun dia yang putusin lo duluan."

Fisya mengoles kelopak mata Asya dengan serius. Memberikan warna natural pada milik gadis itu.

"Nggak mungkin kali. Bahkan mustahil kayanya."

"Gue juga nggak bakal stuck di situ-situ aja Fi. Benar kata Kak Geswa gue harus keluar dari zona nyaman, lagian nggak salah kan gue buka hati untuk Geswa yang selalu ada buat gue selama ini."

Fisya mengangguk membenarkan perkataan Asya. Gadis itu benar ia tidak bisa memaksa juga. Itu hak Asya, ia tau batasan.

"Iya nggak salah kok. Keputusan lo udah bener, Kak Geswa juga bukan orang lain lagi dia sudah buktikan sama kita-kita berjuang untuk lo selama 5 tahun ini. Bener nggak ada salahnya mencoba."

Fisya membenarkan. Ia tidak mau menyuarakan isi hatinya yang sebenarnya, ini keputusan Asya jadi ia harus menghargainya sebagai manapun itu.

"Kalo lo sama Rio gimana baik-baik aja kan? Dia nggak ada bikin lo nangis kan? Awas aja kalo bikin lo nangis gue gebuk nanti." Fisya tertawa mendengarnya. Asya tampak lucu saat kesal.

"Kok ketawa gue beneran, dia jahatin lo nggak?"

"Nggak ada Ca, tenang aja dia bahkan lebih jinak sekarang."

"Dikira hewan kali di bilang jinak," desis Asya.

"Ahaha beneran Ca, dia selalu turutin yang gue mau. Dia nurut semua omongan gue, beda banget intinya sama sikapnya sebelum pacaran." Ujar Fisya sangat bersemangat menceritakannya.

"Bucin banget ya tu cowok ternyata kalo udan suka,"

"Ya gitu deh hehe."

Fisya menyuruh Asya bangun. Rasanya hampir selesai. Tinggal menambahkan sentuhan terakhir lipstik dan riasannya akan sempurna.

"Syukurlah Fi kalo lo bahagia sama yang sekarang, gue seneng dengernya."

Fisya mengangguk merespon. Ia terlalu fokus pada kegiatanya merias Asya. Sebenernya ini hanya kegabutannya saja, dan bersyukurnya Asya mau-mau saja dijadikan boneka olehnya.

"Nah udah selesai, nih lo ngaca dulu deh terus nilai riasan gue."

Fisya memberi kacanya pada Asya yang langsung menerimanya. Fisya menunggu dengan senyum yang masih bertahan menunggu penilaian dari Asya.

"Gimana Ca?"

"Lumayan, ada kemajuan lo nggak sia-sia sampai ikut less make up."

"Ada kemajuan ya,"

BAPER [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang