Baca aja lah kuy..
---
Dua minggu setelah kepergian Sandi ke luar negeri. Nata benar-benar kesepian, kenapa tidak? Gadis itu merasa kehilangan sosok yang memang berpengaruh dalam dirinya. Apakah timbul rasa cinta dalam diri Nata? Padahal ia hanya berniat untuk membuat Sandi jatuh cinta kepadanya, tapi kenapa malah ia yang jatuh cinta kepada Sandi?
Lamunan Nata terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk."
Ana masuk dengan berbagai macam kertas di tangannya.
"Ada banyak yang harus ditandatangani oleh mbak Nata." Kata Ana singkat. Biasanya ia selalu berbasa-basi, namun kali ini ia terlihat lebih serius dari biasanya. "Tidak usah dibaca, isinya sama seperti kemarin."
"Oh, gitu." Nata mengangguk, ia meraih sebuah pulpen yang tergeletak di atas meja.
Ia menandatangani sekitar delapan lembar surat. Entah surat apa itu, yang jelas ia sudah menyerahkan semuanya kepada Ana.
"Permisi." Ana keluar dari kamar Nata tanpa berkata apa-apa lagi.
Seseorang muncul dari depan pintu kamar Nata.
"Hai, Nat!" Sapa seorang pria yang masih berdiri di depan kamar Nata. Ia memerhatikan gerak-gerik Ana yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu.
"Itu siapa?"
"Asisten baru gue. Perasaan kita udah beberapa kali ketemu sama dia."
"Oh."
Kevin berjalan ke arah Nata. Gadis itu tengah duduk di depan meja belajarnya.
"Kenapa?" Tanya Kevin.
Nata menggeleng, "Gak kenapa-napa. Tumben malem-malem dateng kesini?"
"Sekalian mampir. Sama liat keadaan lo, dua minggu ini gue sama sekali gak liat lo."
"Keadaan gue baik. Lo gimana?"
"Baik kok. Selama lo baik, gue juga baik."
"Maksudnya?"
"Eh, gak kok Nat. Gimana dua minggu tanpa si Sandi? Seneng dong pastinya?"
Nata menunduk, gadis itu menyampingkan rambutnya yang hampir menutup wajahnya. "Gue gak tau. Disisi lain gue ngerasa aneh sama perasaan gue sama dia, mungkin gue malah beneran suka sama dia."
Kevin mengangguk, tersirat sebuah kekecewaan dalam dirinya. "Seandainya lo tau kalo gue suka sama lo." Lirih Kevin.
"Apa?" Nata memekik. Ia tak percaya sahabatnya mengatakan hal demikian.
"Gue suka sama lo!"
Nata menatap Kevin tajam. "Gue juga suka." Kata Nata serius. "Sama becandaan lo. Saking kangennya sama gue, lo bela-belain kesini cuma mau bikin becandaan alay kayak gini. Gak masalah, gue terhibur." Nata tertawa, ia tidak menganggap serius pengakuan Kevin barusan.
Kevin menggoyangkan bahu Nata. Ia menatap manik hitam gadis itu. "Sadar Nat. Gue suka sama lo lebih dari sahabat, gue cinta sama lo. Gue harus ngungkapin gimana lagi biar gak lo anggep sebagai becandaan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMPRAMENTAL (selesai)
Teen FictionNata. Siapa yang tak mengenal Natania Amira? Model cantik yang terkenal di seluruh penjuru negeri. Seperti model-model lainnya, ia dibanjiri job untuk mengisi klub-klub malam yang memang membutuhkan gadis sepertinya, tentunya dengan bayaran yang tak...
