Note: Yang follow, pasti di follback 😊
Selesai mandi, aku sedikit kebingungan ketika Jennie memegang kompresan sembari melamun. Aku menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya, apa yang kau pikirkan Jennie? Sampai-sampai kau tidak menyadari keberadaanku sekarang. Kugenggam tangan Jennie membuat si empunya tersentak. Lalu kuusap pelan sambil menatapnya dengan lembut, mewakili perasaanku.
"Kenapa melamun?" Tanyaku.
Dia menggeleng. "Ani. Buka bajumu, Chaeng."
Aku tidak bodoh untuk menyadari maksud Jennie. Dia ingin mengobati lukaku. Aku hanya menurutinya, membuka baju bagian atasku dan menyisakan sportbra, beralih memunggungi Jennie agar dia lebih mudah untuk mengobatiku.
Tapi nyatanya aku dibuat terkejut dengan tingkahnya. Bukannya langsung mengompresku, Jennie beralih ke hadapanku dan duduk di pangkuanku, melingkarkan kakinya di pinggangku, membenamkan wajahku di bahunya dan mulai mengompres. Kupeluk Jennie sangat erat ketika Jennie mulai mengompres tubuh bagian belakangku.
Sekitar lima belas menit kami berada dalam posisi ini, meringis dan mengeratkan pelukan adalah hal yang kulakukan selama itu. Namun tiba-tiba aku mendengar suara isakan kecil, siapa lagi kalau bukan Jennie yang menangis.
"A- Aku minta maaf, Rosie!" Ucapnya diselingi isakan-isakan kecil. Aku bisa merasakan betapa menyesalnya Jennie.
Kuelus surai panjang milik Jennie dan mengecup kedua matanya berharap air mata itu berhenti.
"Bukan salahmu, Jennie. Jangan salahkan dirimu. Aku baik-baik saja, sungguh."
"Benarkah?" Aku mengangguk mantap.
"AW– Jennie apa yang—"
"Pembual. Berhentilah berpura-pura! Setidaknya di depanku!"
Aku hanya bisa tersenyum kikuk, Jennie terlalu menyeramkan saat seperti ini.
"Kau mengalami hal ini selama hidupmu?"
Kami saling berpandangan, menatap dalam satu sama lain sampai akhirnya aku mengangguk pelan. Tangisan Jennie semakin pecah, kini dia memelukku erat. Jika sudah seperti ini, aku hanya bisa memeluk dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Jangan menangis."
"Dasar bodoh! Idiot! Kenapa kau tidak bilang padaku!? Kau membohongiku selama ini, Chaeng!"
"No Jennie. Aku berniat memberitahumu ketika aku sudah siap dan aku tidak tahu jika secepat ini. Maaf, kau tahu sendiri aku seorang pecundang."
"Lihat!! Kau merendah lagi! HUAAA," tangis Jennie semakin pecah.
Ah, aku salah mengatakannya. Jennie sangat membenci diriku yang selalu merendah, padahal itu kenyataannya kan? Aku hanya terdiam saat ini, kembali mengelus Jennie agar gadisku merasa tenang. Membalas ucapannya hanya akan memperburuk keadaan.
"Kupikir di malam dimana kau terus meringis adalah karena kau sedang mengigau! Aku tidak tahu jika kau sedang terluka! Tolong, jangan sembunyikan hal ini lagi dariku, Chaeng. Aku ini kekasihmu atau bukan? Semakin lama, aku merasa kau tidak menganggapku demikian."
"Ani! Jangan berpikir seperti itu! Kau.. satu-satunya gadis untukku, Jen. Berhenti berpikir seperti itu."
Jennie tidak lagi menjawabku. Dia masih terisak, aku hanya bisa menghela nafasku panjang. Tak bisa dipungkiri aku juga ikut merasakan kesedihan yang amat luar biasa ketika melihat Jennie menangis. Ya, sebesar itu aku menyayanginya.
"Sabar ya? Malam ini- Kau- Kau akan tahu semuanya, Jennie."
~•~
Aku meminta Jennie untuk berpakaian dengan sangat rapih, begitu juga denganku. Aku sama sekali tidak memberinya clue kemana kita akan pergi. Menatapnya yang sedang berkaca dengan penampilannya membuat ketakutanku terasa semakin nyata. Berbagai pikiran datang kepadaku dengan tidak sopannya. Jennie, apa aku masih bisa melihatmu seperti ini setelah apa yang terjadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
OUR LOVE
Storie d'amoreKehidupan Park Chaeyoung a.k.a Roseanne Park setelah berhasil mendapati gadis bernama Kim Jennie sepenuhnya. Setelah menyimpan rasa selama 3 tahun terakhir, akhirnya Rose bisa memiliki Jennie. Namun ternyata semua tidak seindah bayangannya, ada saj...
