22. Siapa disana?

29.4K 2.1K 52
                                        

Zia tersentak kaget ketika tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Dari bau parfumnya sih Zia sudah bisa menebak siapa dia? Dia adalah Edwin, calon suami sekaligus bos-nya di kantor. Edwin menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Zia. Bibirnya tersenyum manis disaat Zia menolehkan wajahnya kesamping. Dan dengan cepat Edwin mencium pipi Zia.

"Selamat pagi, my love?" Edwin mengacak-acak rambut Zia, pelan. Sifat dan sikap lelaki itu sudah berubah seperti biasanya. Sikap dan sifat Edwin berubah menjadi romantis dan hangat seperti dulu. Entah kemana sikap dingin dan menyebalkan Edwin malam tadi? Zia sudah tidak perduli.

"Hem." Balas Zia, masih sibuk dengan masakan di depannya.

"Masih ngambek soal tadi malam?" Edwin mengambil spatula yang Zia pegang. Dia sangat cekatat saat sedang membalik ikan Mas. Tahu tidak? Vila Edwin ini memiliki beberapa tanaman buah dan juga tambak ikan. Entah kapan Edwin mengambil ikan itu, yang Zia tahu ketika dia pergi ke dapur, ikan-ikan segar itu sudah berada di dalam kulkas. Zia hanya tinggal memasaknya saja.

"Suatu saat aku akan menceritakan tentang masa laluku, tapi tidak sekarang." Edwin membuka suara ketika melihat Zia sedang menyiapkan piring di meja makan. Zia hanya mengedikkan bahunya, mencoba untuk tidak perduli. Dia tidak mau bertanya perihal kenapa Edwin itu bisa cerai dengan istrinya? Berapa tahun Edwin menduda? Dan siapa nama istri lelaki itu? Zia sudah tidak mau tahu. Dia tidak mau di tatap dingin dan mematikan oleh Edwin.

"Siap." Edwin tersenyum manis kearah Zia. Dia meletakkan dua ikan Mas itu keatas piring saji dan membawanya ke meja makan.

"Habis makan kita jalan-jalan ke sekitar sini ya sayang? Biar kamu tahu daerah di Vila ini." Edwin berkata sambil menelan nasi yang berada di mulutnya. Zia tidak bersuara, namun dia menganggukkan kepalanya. Edwin mengerti arti diamnya Zia, tapi dia tidak mau semakin memperkeruh semuanya dengan balik memarahi atau mendiamkan calon istrinya itu.

***

Edwin dan Zia sedang berjalan-jalan di kebun milik Edwin. Kebun itu berada di belakang Vila milik Edwin. Kedua pasangan kekasih itu berjalan sambil memetik buah strawberry. Edwin tersenyum ketika melihat keantusiasan Zia dalam memetik buah strawberry.

"Sudah, ayo balik ke Vila. Udah siang sayang, nanti kulit kamu kebakar." Ajak Edwin. Dia mengambil keranjang buah strawberry yang Zia pegang. Dia hendak menggandeng tangan Zia, tapi langsung perempuan itu tepis.

"Kalau kulit aku kebakar terus item kamu mau apa? Mau ninggalin aku, hah?" Tantang Zia. Memang semenjak kejadian semalam tadi moodnya jadi kurang bagus, dia mudah terpancing dengan hal-hal sepele.

Edwin menatap Zia dengan ekspresi wajah datar. Tapi Zia tidak mau ambil pusing memikirkan ekspresi wajah Edwin. Dia mencoba acuh.

"Kalau mau ninggalin ya ninggalin aja. Bayu siap kok nerima aku lagi." Zia melangkahkan kakinya kembali ke vila. Dia menatap Edwin dengan rahut wajah kesal. Sekarang jangan kalian tanyakan tentang rahut wajah Edwin? Rahang lelaki itu sudah mengeras dan siap menerkam siap saja yang berani mengusik hatinya.

***

Zia memakan strawberry yang dia panen bersama Edwin di kebun, sendiri. Sekarang ini dia sedang berada di balkon kamar Vila milik Edwin. Zia menggigit strawberry yang rasanya sedikit masam itu dengan rahut wajah kesal. Edwin tahu tentang Bayu yang notebenya sebagai mantan kekasihnya, lalu kenapa dia tidak di perbolehkan tahu siapa mantan istri lelaki itu? Zia tidak berminat tahu tentang wajah mantan istri Edwin, cukup kasih tahu namanya saja. Apa itu sulit untuk Edwin? Memberi tahu dirinya tentang nama mantan istrinya tidak termasuk pekerjaan yang sulit bukan?

Zia tidak berniat keluar dari kamarnya atau sekedar berbicara kepada Edwin. Dia sangat marah kepada lelaki itu. Lagi pula besok dia dan Edwin sudah mulai pulang kembali ke Jakarta.

"Ck, menyebalkan." Decak Zia, kesal.

***

"Alah, cantik-cantik kok dapat duda. Anak saya dong si Ketty, dia nikah dapat anak juragan tanah. Tajir melintir, kalungnya aja sampai kaki." Seorang ibu-ibu yang memiliki mulut sepedas cabai dan sangat cerewet itu sedang menyombongkan menantu dan anaknya.

Hari ini Nia sedang menjenguk tetangganya yang katanya terkena DBD di rumahnya. Para tetangga yang lainnya juga berkumpul di rumah ibu yang sakit itu.

Nia hanya diam, dia tidak mengambil pusing ucapan ibu tadi. Ucapan ibu tadi bermula disaat seorang ibu lainnya yang suaminya juga bekerja satu kantor dengan Panji, suami Nia, bertanya kepada dirinya, tentang Zia yang habis di lamar seseorang. Pasalnya suami ibu itu mendapat beberapa makanan dari Panji, hasil dari parsel pemberian Edwin kala itu. Ibu yang bersangkutan itu bertanya, apakah Zia di lamar oleh pacarnya? Dan Nia menjawab tidak. Memang benarkan, Zia dan Edwin tidak pernah pacaran tapi langsung tunangan?

Nia menjelaskan bahwa Zia sudah putus dengan Bayu, lalu dia di lamar oleh Edwin, bos anaknya di kantor yang berstatus duda anak satu. Lalu seorang ibu cerewet itu menyambar.

"Oh begitu, tapi kemarin anak ibu kok minjam uang ke saya untuk bayar kontrakannya?" Sontak ucapan dari ibu-ibu yang berbeda itu membuat ibu yang memiliki bibir cerewet itu bungkam.

Mungkin malu.

***

Zia memegangi perutnya yang terasa sangat lapar. Sore tadi dia ketiduran sampai malam. Setelah mandi dia ingin segera makan, dia kira Edwin sudah membuatkan dia makanan, tapi nyatanya tidak.

"Dasar laki-laki dingin." Kesal Zia. Bayangkan saja, dirinya sedang ngambek, tapi lelaki itu tidak menghampirinya atau meminta maaf kepadanya sedikitpun.

Zia kesal, dia tidak menemukan lelaki itu di dalam Vila. Apa jangan-jangan Edwin meninggalkan dirinya sendiri di Vila? Lalu lelaki itu kembali ke Jakarta? Ah, mana mungkin.

"Edwin...." Teriak Zia, sedikit takut. Dia sampai jatuh tersandung meja gara-gara tidak lihat ada meja makan di depannya. Tangan Zia meraba, dia harus segera menemukan saklar lampu. Dia sedikit takut kegelapan.

"Ed_edwin." Bibir Zia bergetar ketika ada tangan yang tiba-tiba memegang pundaknya dari belakang. Zia menggigit ujung bibirnya, takut.

Apa itu maling?

Zia tidak akan memberi Edwin ampun jika nanti dia bertemu dengan lelaki itu.

Zia ingin menoleh kebelakang, namun hatinya seakan berteriak jangan. Rasa penasarannya terhadap seseorang yang memegang pundaknya membuat logikanya berkata iya.

Kaki Zia bergetar pelan. Zia mencoba memejamkan kedua matanya dengan harapan semoga rasa takut di hatinya hilang.

"Bismillahirrahmanirrahim." Zia berjalan berbalik arah dengan pelan. Dia tidak berani membuka kedua kelopak matanya karena takut di bunuh oleh orang itu.

Otak cantik Zia berfikir, kalau memang yang memegang pundaknya itu maling, dia sudah membunuhnya dan mengambil semua harta milik Edwin. Lalu si maling itu kabur. Namun ini...

Sekujur tubuh Zia sungguh bergetar hebat. Bulu kuduknya berdiri ketika otak cantiknya sedang membayangkan hal yang tidak-tidak.

"Apa jangan-jangan setan ya, yang megang pundakku?" Pikir Zia, takut.

"Kalau kamu tuyul, kamu ambil aja uang calon suamiku. Nanti biar aku ganti semua uang dia dengan kerjaku. Kalau kamu kuntilanak, jangan ketawa, aku takut. Kalau kamu memang suster ngesot, kamu pergi saja ke rumah sakit, pasien Corona lebih membutuhkanmu dari pada aku. Dan kalau kamu itu pocong, tolong jangan loncat dan mendekat, aku gak mau lihat kamu." Ucap Zia, tanpa membuka kedua kelopak matanya.

"Plis..., Jangan dekati aku." Suruh Zia dengan suara bergetar.

"Jangan dekati kamu? Kalau memilikimu apa boleh?"




🔹🔹🔹

HAY KAKAK-KAKAK YANG BAIK HATINYA, YANG BACAKAN LUMAYAN, KENAPA KALIAN TIDAK MEMENCET VOTE (TOMBOL BINTANG) ? APA KARENA CERITAKU KURANG BAGUS? AKU SUDAH BERUSAHA MEMBAGI WAKTU UNTUK NULIS CERITA INI DAN SEKOLAH. KALAU CERITANYA KURANG BAGUS HARAP MAKLUM. APA BOLEH AKU MEMINTA VOTE DAN COMMEN DARI KALIAN UNTUK MENAMBAH SEMANGAT AKU NULIS? GRATIS KOK.😞

HOT DADDY 1 (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang