Sore ini Zia sudah berada di rumah. Dia dan Edwin pulang dari Vila siang tadi. Mereka berdua langsung pulang ke rumah masing-masing. Seperti sekarang, Zia sedang mendengar ocehan mamanya yang baru selesai memasak di dapur.
"Mama gak mau tahu, kamu harus cepat-cepat nikah." Nia menghampiri putrinya yang sedang makan salad buah di meja makan. Telinganya sudah pengang mendengar pada tetangganya yang mengatakan bahwa anaknya tidak laku, prawan tua, dan parahnya lagi adalah banyak yang mengatakan bahwa Zia tidak laku karena dia itu jutek.
Zia mendengus. Selalu begitu. "Apaansih, Ma. Zia itu masih muda."
Kedua bola mata Nia mendelik tajam ketika mendengar jawaban putrinya. "Masih muda apanya? Yaampun Zi, mau di taruh dimana muka mama dan papa? Teman-teman sekolah kamu udah pada nikah dan punya anak. Kamu ini bagaimana sih?"
Terdengar nada amarah dari bibir mamanya. Zia menghentikan kunyahan buah di mulutnya. Dia bingung harus menjawab apa.
"Terserah kamu lah, mama pusing." Nia beranjak dari dapur dan pergi menaiki tangga rumahnya. Dia meninggalkan Zia yang sedang menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
Zia memegang dadanya sebentar, ada rasa sesak ketika mendengar nada amarah dan tatapan kecewa dari mata mamanya.
***
Luwis berniat menutup rumahnya ketika melihat Edwin berdiri di depan pintu rumahnya. Kepalanya sedang pusing gara-gara memikirkan banyak kerjaan. Lalu teman sekaligus Bos-nya itu ngapain sore-sore begini datang ke rumahnya? Menggangu saja.
"Ck, ngapain kesini?" Luwis terpaksa membuka pintu rumahnya. Dia membiarkan Edwin masuk kedalam rumahnya.
"Capek aku. Ambilin minum dong. Tamu kok gak di kasih minum." Suruh Edwin kepada Luwis yang baru saja ingin duduk di sofa single miliknya.
"Udah datang gak di undang, disini ngerepotin." Cibir Luwis. Tapi walau begitu dia juga mengambilkan Edwin minuman.
Mata Edwin terbelalak ketika melihat segelas air putih berada di depannya.
"Wis, Kamu gak mendadak Kere gara-gara pandemik ini kan?" Edwin menatap air putih dan Luwis pergantian.
"Gak." Jawab Luwis santai.
"Lalu ini?" Tunjuk Edwin pada air putih di depannya.
"Hemat uang, sembako pada naik. Kopi juga ikut naik. Udah bagus aku kasih minum, dari pada gak?" Edwin memutar kedua bola matanya malas.
"Ck...," Decak Edwin, kesal.
"Lagian kamu ngapain kesini?" Luwis melirik Edwin dengan malas.
"Numpang istirahat, Miko di rumah lagi berisik." Ucap Edwin, santai.
***
Malam ini Dara dan Zia sedang menikmati secangkir kopi di caffe pinggir kota. Kedua sahabat itu sedang meminum kopinya dalam diam. Berkali-kali Dara mendengar helaan nafas kasar yang keluar dari bibir Zia.
"Dar..." Zia membuka suaranya. Dia duduk termenung dengan pandangan kosong. Dara hanya diam, dia menunggu kelanjutan ucapan Zia.
"Apa aku gagal menjadi anak yang baik buat mama dan papa?" Zia mengusap wajahnya dengan kasar. Setetes cairan bening perlahan menetes dari kedua pelupuk matanya. Dara semakin bingung dengan ucapan Zia.
"Teman-teman kita udah pada menikah, termasuk kamu. Lah terus aku kapan? Kedua orang tuaku sudah menyuruhku menikah. Tapi masa iya aku harus ke rumah Edwin duluan untuk meminta dia menikahiku. Aku juga punya harga diri." Zia memegang secangkir gelas kopinya dengan erat. Pipinya sudah basah sedari tadi. Dia mengeluarkan unek-uneknya kepada sahabatnya. Zia ingin menikah, dia juga ingin hidup bahagia bersama anak dan suaminya seperti impian para wanita. Tapi apa iya harus dia yang memulainya? Dia Perempuan, dia mempunyai harga diri untuk berlaku seperti itu.
Ucapan mamanya sore tadi membuat dia tidak tenang. Mamanya di cemoh para tetangganya hanya karena dia belum menikah.
Terkadang Zia juga bingung dengan para tetangganya. Dulu sewaktu dia pacaran dengan Bayu, banyak orang yang bilang bahwa Bayu dan Zia tidak akan bisa langgeng karena umur mereka terpaut sedikit. Saat dia bersama Edwin, banyak yang mencemoh, kenapa dia mau dengan duda anak satu? Bukankah dia itu perawan? Apa dia cuma mau hartanya saja? Karena notebenya Edwin adalah bos-nya.
Zia bingung, hidupnya serba salah di depan para tetangganya.
"Kamu yang sabar ya, Zi? Jodoh itu udah ada yang ngatur." Dara berdiri, dia mengusap pundak Zia dengan hati nelangsa. Sahabatnya ini cantik, dia juga pintar, bahkan bisa di kategorikan mapan. Di sekolah dulu Zia juga masuk dalam kategori siswi paling cantik. Bahkan ada banyak laki-laki yang menunjukkan ketertarikannya kepada Zia dengan cara terang-terangan. Tapi Zia waktu itu acuh. Zia lebih memilih berpacaran kepada Bayu, dan akhirnya kandas di tengah jalan.
"Andai aku itu Dinda Hauw yang gak bisa masak mie terus dapat Rey Mbayang, yang gak usah pacaran tapi langsung di ajak nikah, pasti hidupku bahagia. Kenapa gitu gak ada yang ngajak aku taaruf?" Zia mengusap air matanya dengan kasar.
"Ck, impian kamu ketinggian." Dara menoyor kepala Zia kebelakang. Zia terkekeh pelan, mungkin dengan bertemu Dara dia bisa melepas keresahan pada dirinya. Zia resah, dia resah kalau sebenarnya Edwin itu hanya bermain-main dengannya.
"Tenang Zi, Jodoh yang baik biasanya datangnya belakangan." Ucap Dara, dia mencoba meyakinkan Zia.
"Iya, kalau aku udah ubanan. Gitu?" Kesal Zia.
"Ya enggak gitu juga. Maksud aku, kamu tunggu sebentar lagi. Siapa tahu tiba-tiba Pak Edwin ngajak kamu akad." Dara berbicara seperti itu bukan tanpa alasan. Dia ingin membuat Zia tenang dan tidak gelisah terlalu berlebihan.
Dara pernah membaca sebuah artikel. Artikel itu berbunyi, bahwa orang yang sudah berumur 20 tahun keatas pasti merasakan apa yang Zia rasakan. Mulai resah tentang jodohnya di masa depan. Kalau umur masih 17 atau 18, kita masih santai. Kita masih memikirkan tentang cinta-cinta monyet. Tapi saat kita sudah beranjak dewasa, kita pasti sudah memikirkan soal cinta dengan matang.
Dara paham, di balik tawa Zia, senyuman Zia, dan candaan Zia, terselip rasa kesedihan yang mendalam. Apalagi saat dia datang ke pernikahan dan sang pengantin mendoakan dia supaya cepat nyusul, itu sakitnya sampai ke tulang-tulang.
"Semoga aku gak jadi perawan tua, Dar." Ucap Zia. Dara yang sedang menyedu kopinya sampai tersedak.
"Zi, gak boleh ngomong kayak gitu. Ucapan adalah doa." Tegur Dara, yang hanya di balas kedikan bahu oleh Zia.
Dara menghela nafas kasar. Kasihan sahabatnya itu. Di rumah pasti Zia merasa terteken ketika mendengar ucapan mamanya yang menanyakan kapan dia menikah? Kapan dia dan Edwin berjalan kejenjang pelaminan? Kapan mereka akad? Dan bla, bla, bla....
Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi kalau anaknya belum mendapatkan jodoh, terus harus bagaimana?
"Aku jadi kangen masa-masa SMA dulu. Yang kita masih cinta-cinta monyet. Tidak seperti sekarang, apa-apa di ribetin." Ucap Zia yang di balas kekehan oleh Dara. Bukan hanya Zia, Dara pun juga begitu. Sekarang mereka sudah dewasa, salah langkah sedikit semuanya bisa buyar.
"Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kamu, Zi." Dara memeluk Zia dengan sangat erat. Dia berharap Zia segera menyusul dia dan teman-temannya ke pelaminan. Ya..., Semoga saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOT DADDY 1 (TAMAT)
RomanceWARNING!! 21+ "Besok umur mu sudah 6 tahun, sayang. Apa yang kamu inginkan dari Daddy?" Edwin berjongkok di depan putra kebanggaannya. Miko, anak laki-laki itu menatap Daddy nya malas. Dia meletakkan heandpone mahal yang Daddy nya belikan sewaktu di...
