Malam ini Zia terlihat sangat cantik di pesta resepsi pernikahannya sendiri. Begitu pula dengan Edwin, lelaki itu terlihat sangat menawan. Keduanya duduk bersama tamu undangan lainnya. Sedangkan Panji sedang berpidato di depan. Zia sempat meneteskan air matanya, lalu dia kembali menatap kedepan dengan bibir tersenyum manis.
"Dia adalah anak kami, seorang anak perempuan yang saya dan istri saya nantikan kehadirannya. Putri yang kami besarkan dengan cinta. Putri yang selalu membuat kami berdua tertawa. Dan putri yang selalu membuat kami bangga. Sekarang dia sudah menikah. Dia sudah menjadi milik seorang lelaki gagah yang sedang duduk di depan saya." Semua mata tertuju pada Edwin dan Zia. Panji menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Mendengar kata itu saya teramat takut. Saya takut menjadi seorang ayah yang kasar, hingga nanti putri saya membenci saya dan mencoba mencari cinta pertamanya dari orang lain. Saya mencoba menjadi seorang ayah yang baik. Mendidik dia dengan kasih sayang, berbicara tegas dengan tutur kata baik, dan tidak berani bertingkah kasar. Semua itu untuknya, untuk Zia putriku." Panji melanjutkan pidatonya dengan bibir tersenyum. Dia merentangkan kedua tangannya dikala Zia berlari hendak memeluknya.
"Aku sayang papa." Ucap Zia dengan bibir terisak.
"Papa juga, nak." Jawab Panji, sambil meneteskan air matanya. Edwin dan Nia menghampiri mereka berdua dengan bibir tersenyum.
"Maafkan mamamu yang cerewet ini, Zi." Ucap Nia, dengan air mata berlinang.
"Papa titip Zia sama kamu, Ed." Panji menepuk punggung Edwin sambil memeluknya.
"Musik...." Teriak Luwis kepada DJ yang dirinya undang. Katanya sih biar ngebuat acara pernikahan Edwin ramai. Ini hadiah dari Luwis untuk sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Edwin?
Dentuman keras musik DJ berubah menjadi alunan lagu lembut dikala Zia dan Edwin berjalan di tengah-tengah tamu undangan. Lampu yang tadinya terang menjadi redup, tergantikan dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni. Ini memang bukan pernikahan impian Zia. Perempuan itu pernah bermimpi ingin menikah di depan pantai Dewata Bali. Tapi apa boleh dikata, pernikahannya terjadi disaat Virus Corona melanda. Zia maupun Edwin tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Ini adalah pesta pernikahan mereka, mereka berdua tidak mau salah satu tamu undangan mereka terpapar Virus Corona gara-gara mereka berdua mengadakan resepsi pernikahan di luar ruangan.
Mereka semua berdansa indah. Kecuali Luwis tentunya. Lelaki itu lebih memilih berdiri di samping DJ cantik sambil menggodanya. Lagi pula dia tidak memiliki pasangan untuk dia ajak dansa.
Pipi Zia bersemu merah ketika keningnya dan kening Edwin menyatu. Bahkan sekarang bibir mereka mulai tertaut. Mereka saling memanggut dengan mata memancarkan sebuah kekaguman. Apa ini yang dinamakan kebahagiaan pernikahan?
"Sttt..." Suara desahan itu keluar tanpa bisa Zia tahan.
"Haruskah kalian berdua memulai malam pertama kalian disini?" Sindir Dara, yang memang seperti jalangkung. Kenapasih dia harus ada dimana-mana?
Kali ini Zia benar-benar sangat malu. Ini semua gara-gara Edwin yang memancingnya dan melumat bibirnya duluan.
"Mending kalian pergi ke kamar." Suruh Tirta, yang kasihan kepada Edwin. Dia tahu, lelaki itu sedang mati-matian menahan hasratnya. Dilihat dari matanya yang mulai sayu.
"Terus acara ini?" Tanya Zia, malu-malu.
"Biar kita berdua yang handel." Jawab Tirta, sambil menatap wajah istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOT DADDY 1 (TAMAT)
RomanceWARNING!! 21+ "Besok umur mu sudah 6 tahun, sayang. Apa yang kamu inginkan dari Daddy?" Edwin berjongkok di depan putra kebanggaannya. Miko, anak laki-laki itu menatap Daddy nya malas. Dia meletakkan heandpone mahal yang Daddy nya belikan sewaktu di...
