10. Pergi mendadak

51.4K 3.4K 32
                                        

Miko sedang tidur di pangkuan Zia. Mereka awalnya ingin mencari makanan untuk makan siang, namun melihat wajah pulas Miko ketika sedang tidur, membuat Zia meminta Edwin untuk pulang kerumah lelaki itu.

Sekarang Zia sedang membantu Mbok Jum masak di dapur. Sedangkan Edwin sedang membahas perihal hasil rapatnya tadi bersama dengan orang kepercayaannya.

"Proyek kita yang berada di Bandung itu roboh, Ed. Jadi kemungkinan perusahaan kita mengalami kerugian yang sangat besar. Disana juga terdapat korban jiwa, 3 orang diantaranya meninggal, dan 2 orang luka parah karena tertimpa besi." Luwis menginfokan apa yang dia dengar dari rapat tadi. Terlihat jelas bahwa sekarang ini Edwin sedang stres berat.

"Arggg..., Kenapa bisa beginisih?" Edwin menjambak rambutnya sendiri. Dia akan mengalami kerugian besar jika sampai pembangunan hotelnya di segel oleh pihak kepolisian karena berhasil menelan korban jiwa semasa proyek pembangunannya itu berjalan.

"Kemungkinan proyek ini mengalami korupsi. Mungkin mandornya mengurangi jatah untuk membeli bahan-bahan martial, sehingga bangunan hotel kita tidak kokoh." Luwis mengeluarkan pendapatnya. Menurutnya apa yang ada di pikirannya itu benar. Hotel berlantai 45 itu kenapa bisa roboh kalau memang martialnya cukup dan tidak dikurangi?

"Kamu selidiki semuanya, kita harus bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya." Suruh Edwin, tegas.

"Oke, kalau begitu aku mau pulang dulu, Ed. Biasa!" Luwis tersenyum penuh arti kepada Edwin. Edwin yang sudah tahu tabiat sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu mengangguk singkat.

"Baiklah, sepertinya wanitamu itu sudah menunggu." Luwis terkekeh mendengar ucapan Edwin. Sebelum pergi, dia membisikkan sesuatu di telinga Edwin. "Sepertinya sekretaris barumu cantik juga. Siapa namanya?" Goda Luwis.

Mata Edwin mendelik tajam, rahangnya mengeras, serta kuku-kuku jemarinya memutih. "Apa kamu sudah bosan hidup?" Tanya Edwin anarkis.

"Bercanda, Ed. Kenapa kamu serius begitu? Aku pergi dulu." Luwis menepuk pundak Edwin dengan bibir tertawa kecil.

"Sebaiknya memang kamu cepat pulang, sebelum kamu pulang tinggal nama karena aku habisi disini." Sinis Edwin. Luwis tertawa puas sambil berjalan menghampiri mobilnya.

"Lah Pak Luwis kok udah pulang?" Terdengar helaan nafas kecewa dari Zia.

"Memangnya kenapa?" Edwin bertanya dengan wajah datar.

"Padahal baru saja saya sama Mbok Jum selesai masak." Zia menghembuskan nafas pelan.

"Biar saya yang menghabiskan makanannya." Edwin berjalan melewati Zia begitu saya.

"Kenapa tuh Pak Bos? Masa iya PMS, dia Kan cowok." Gumam Zia, pelan.

***

Rasanya Zia ingin memakai bos-nya itu. Dia mengajak dirinya untuk pergi memeriksa proyeknya yang berada di Bandung dengan mendadak. Sehingga malam ini Zia tidak bisa tidur karena harus menyiapkan semuanya. Zia harus mengundur rapat penanaman saham dengan perusahaan Alex group, dia harus membatalkan janji jalan-jalan bersama Dara untuk melihat-lihat pasar malam, dan parahnya lagi, dia harus rela untuk tidak menonton film favoritnya yaitu Ananta. Film itu memang sudah pernah di putar di bioskop, tapi dirinya tidak pernah bosan untuk menonton film itu kembali.

"Yaelah, emang ya tuh Bos nyebelin banget." Zia mendumel sambil melipat beberapa baju untuk dimasukkan kedalam koper kecilnya. Mereka akan disana selama 3 hari, dan itu bukan waktu yang sebentar bukan?

Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Mata Zia sudah mulai mengantuk.

Saat Zia ingin merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya, tiba-tiba dering heandpon canggih miliknya berbunyi.

HOT DADDY 1 (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang