Part 2

822 60 27
                                        

Pertemuan singkat hari itu, cukup membekas diingatan Xia. Bahkan bayang-bayangan senyuman mesum si pria tak memudar jua.

Wanita yang tidak menyukai alpukat itu, menyamakan Taehyung dengan buah tersebut. Sama-sama tidak membuat nyaman dan harus dihindari sejauh mungkin.

Jadwal hari ini begitu padat hingga, ia harus rela meninggalkan sarapan. Xia melirik alroji putih di tangan, seketika pupil hitamnya membulat tajam.

"Astaga, telat lagi."

Ia bergegas, melambai taxi di ujung sana. Xia bersumpah akan memberi perhitungan pada pria itu, jika dirinya kehilangan pekerjaan.

Mungkin.

Banyak yang harus dikerjakan. Ia tak sanggup lagi memikirkan hal yang membuatnya kian jengah . Rasanya ingin menangis sekuat mungkin untuk melepaskan sesak di dada. Berdiskusi dengan nurani untuk segera menyudahi.

Di depan kolam yang membentang, ia menyangga dagu di atas pagar pembatas. Setelah dua jam lalu, menyelesaikan siaran pertamanya. Helaan napas terasa berat. Xia mengerjapkan mata memandang teratai yang terlihat tenang saat para katak menginjaknya.

Sempat berpikir untuk menjadi seperti bunga itu, tetapi seperti terlalu berat untuk dilakukan.

"Ice cream coklat?"

Xia terperanjat saat seorang pria tiba-tiba muncul di sampingnya. Ia tersenyum meraih ice cream tersebut. Rasa coklat, terlihat dari warna yang timbul.

"Jimmy, kapan kau kembali?"

Xia langsung mendaratkan tubuh ke dada sang pria. Sungguh, ia sangat bahagia. Terlihat dari senyumannya yang mengembang.

"Kau nakal, ya!" Jimmy melepaskan pelukan Xia. Memukul pelan kening wanita itu, hingga ia mengaduh. "Lain kali tidak boleh sembarangan memeluk orang, mengerti!" Xia mengangguk.

Tiga detik kemudian menarik tubuh ramping ke dalam pelukannya. Padahal ia baru pergi satu minggu lalu. Namun, mengapa seperti tak bertemu satu abad. Ini aneh.

Jimmy berdeham pelan, mengendorkan sedikit tautan mereka. Lirikannya penuh pertanyaan. Ia tahu bahwa Xia sedang menyimpan sesuatu di hatinya. Akan terapi, dirinya terlalu takut untuk bertanya.

Sebab hati Xia begitu rapuh. Salah sedikit saja, bisa membuat perpecahan di antara mereka. Ia tak mengingkan kejadian waktu itu terulang kembali.

Lantas yang bisa dilakukan hanyalah menyalurkan ketenangan lewat sentuhan. Membelai rambut panjang dan sesekali menepuk punggungnya pelan.

Meski ia harus menahan rasa penasarannya.

***

Rintik hujan begitu deras. Diiringi dengan gemuruh dan kilat yang menyambar. Di atas ranjang, Angela duduk termenung dengan memeluk kedua lutut. Menenggelamkan pikiran dalam angan.

Matanya tak lepas memandang fotonya bersama kedua orang tua. Di mana sang ibu masih ada untuknya. Kini, yang tertinggal hanya penyesalan dan harapan semu. Hampir setiap malam, bayang-bayang kejadian lampau mengulang di mimpi.

Ia masih tak menyangka keegoisannya merampas seluruh kebahagiaan keluarga serta merenggut nyawa sang ibu. Yang lebih buruk, ia harus dibenci oleh ayahnya sendiri.

Dalam kesendirian ia juga menunggu kepulangan Xia. Seharusnya sejak pukul 17.30 tadi, sahabatnya sudah berada di rumah. Namun, hingga sekarang si cantik berambut panjang itu, tak menampaknya batang hidung juga.

Resah menggeliat di hati. Ia meraih ponsel di atas nakas untuk menghubungi si pembuat onar. Akan tetapi, mengurungkannya kembali setelah mendengar suara 'Bip' saat pintu terbuka.

Zero O'clock Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang