Tangisan hening

224 25 4
                                        

Zara sudah hidup selama 19 tahun, dan selama itu pula ia tidak pernah berbagi tempat tidur dengan orang lain bahkan Arga sekalipun. Mereka memang kembar, namun dari kecil tidak pernah tidur dikasur yang sama. Zara menganggap kasur itu 'tempat suci' satu-satunya yang ada dirumah. Sehingga pantang baginya untuk langsung rebahan dikasur saat baru datang dari luar rumah, karena menurutnya kuman akan menempel di kasur.

Dan menurut Zara, kasur adalah tempat beristirahat jika kuman bersarang disana maka akan banyak sekali masalah kesehatan yang akan terjadi seperti jerawat, ruam di kulit, dll. Baru kali ini Zara melanggar prinsipnya sendiri, karena hari ini Fadli langsung membaringkan tubuhnya di kasur saat baru pulang dari kampus. Fadli sakit, sehingga Zara langsung menyuruh pria itu untuk rebahan dikasur tanpa pikir panjang.

"Ini panas banget, a." Zara menarik punggung tangannya dengan cepat saat selesai menyentuh dahi Fadli yang panasnya diatas rata-rata.

"Ga kok, ga papa.." sahut Fadli sambil memejamkan matanya.

"Ga papa gimana? Ini parah a, mending kita ke rumah sakit aja ya?"

"Engga usah repot-repot, bentar lagi juga sembuh kalo dibawa tidur."

"Bener ya a?" Wajah Zara masih terlihat khawatir.

"Iya bener..."

"Et, bentar dulu. Tadi udah makan apa belum?" Tanya Zara lagi saat Fadli akan benar-benar memejamkan matanya.

"Udah,"

"Makan apa?"

"Makan nasi di warteg dekat kampus.."

"Oke, minum obat dulu kalo gitu a." Zara kemudian menyodorkan obat pada Fadli, beberapa menit kemudian pria itu sudah kembali ke posisi rebahannya.

Zara masih diam ditempatnya sampai Fadli benar-benar tertidur pulas, baru kali ini ia melihat Fadli sakit. Selama 4 bulan pernikahan, Fadli selalu kelihatan baik-baik saja tapi hari ini berbeda. Sejenak Zara memikirkan penyebab sakitnya Fadli dan setelahnya ia ber'oh' ria. Belakangan ini Fadli sibuk begadang untuk belajar dan mulai mempersiapkan skripsinya. Kadang Zara pun menemani begadangnya, tapi hanya beberapa kali karena dilarang oleh Fadli. Fadli tidak mau Zara ikut kesulitan karena dirinya.

Kahfi sedang membersihkan rak dikamarnya saat Airyn masuk dan ikut membantu, kemudian acara bersih-bersih itu malah berujung menjadi acara melihat-lihat buku kenangan milik Kahfi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kahfi sedang membersihkan rak dikamarnya saat Airyn masuk dan ikut membantu, kemudian acara bersih-bersih itu malah berujung menjadi acara melihat-lihat buku kenangan milik Kahfi. Tapi ada satu hal yang membuat Airyn tertegun, beberapa potret seorang pria yang kelihatan tidak asing olehnya.

"Ini siapa, Fi?" Tanya Airyn sambil menunjuk foto seseorang yang tengah mengoper bola basket.

"Mana?" Kahfi sejenak mengamati. "Oh...itu Randy, anak sekolah sebelah. Kenapa teh?"

Airyn menggeleng, "Ga, tanya aja."

"Teteh kenal?"

"Engga, mukanya kaya ga asing."

"Emang teh, orang ganteng gitu emang suka pasaran mukanya."

"Jadi timnya Randy yang selama ini jadi musuh bebuyutan sekolahmu?" Tanya Airyn saat melihat baju basket yang dikenakan Randy berbeda warna dengan milik adiknya.

"Iya, apalagi kaptennya main curang mulu."

Airyn mengangguk sekali lagi, dan akhirnya ia ingat siapa sosok Randy tsb. Ternyata Randy lah yang menabrak Airyn dipasar beberapa hari lalu. Airyn lalu berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengan Randy, pertemuannya dengan cowok itu terakhir kali cukup tidak menyenangkan. Airyn tidak ingin mengulang kejadian itu lagi.

Setelah berpisah dari Saka, tidak banyak yang berubah dari hidup Kina kecuali jadwal makan dan tidurnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah berpisah dari Saka, tidak banyak yang berubah dari hidup Kina kecuali jadwal makan dan tidurnya. Ia jadi jarang makan, karena biasanya ia selalu diajak Saka untuk makan diluar selepas ngampus atau kadang ia dikirimi makanan oleh Saka lewat gofood. Sementara tidurnya, Kina jadi lebih banyak tidur. Sepulang dari ngampus ia langsung tertidur begitu saja. Beberapa fakta psikologi juga mengatakan bahwa orang yang banyak tidur biasanya sedang menyimpan banyak masalah, dan hal itu terbukti pada Kina sekarang ini.

Kina tidak berniat memikirkan Saka, tapi tetap saja hal-hal yang mereka lalui bersama tidak semudah itu untuk dilupakan. Lagipula, perpisahan memang tidak ada yang berakhir indah dan Kina sadar akan hal itu. Ia tidak menyesal, sama sekali tidak tapi entah mengapa hatinya terus saja bersedih. Berulang kali Kina menceritakan kegalauannya pada Zara, tapi ia tetap saja bersedih. Kina merasa berpisah dari Saka sama halnya dengan merelakan setengah hidupnya.

Belum lagi saat ia melihat Saka yang kelihatan baik-baik saja tanpanya. Saka tetap ngampus seperti biasa, tetap tertawa terbahak-bahak dengan mudahnya, berbanding terbalik dengan Kina yang setengah mati menahan rasa sakit di dadanya. Meskipun berbeda fakultas, tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan untuk mereka bertemu karena masih satu lingkup kampus. Kadang mereka tidak sengaja berpapasan di kantin FKㅡ yang terkenal dengan makanan serba enakㅡdan setelahnya Kina harus mati-matian menahan perasaannya untuk tidak meledak saat itu juga.

"Melamun terus, astaga." Oceh Zara saat mendapati temannya itu sedang menatap sotonya dengan nanar.

"Siapa yang melamun? Engga kok cuma lagi mikir." Elak Kina, yang tentu saja tidak dipercaya oleh Zara.

Kantin sedang sepi, hanya ada Kina dan Zara yang saling berhadapan dibangku yang tersedia disudut itu. Mereka benar-benar hanya berdua disana membuat Zara harus berkali-kali mengajak Kina bicara untuk menghindari Kina kesurupan karena kebanyakan melamun.

"Mikirin Saka?" Selidik Zara.

"Engga lah. Buat apa coba?"

"Lo mungkin bisa bohong ke orang lain, tapi engga ke gue Kina."

Kina menghela nafasnya dalam, sesak di dadanya terasa lagi. Tenggorokannya juga sudah sakit karena menahan tangis sejak tadi. Akhirnya gadis itu mengeluarkan air mata yang sejak tadi menyesaki matanya. Ia menangis, mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.

"Nangis aja dulu, nanti kalo udah capek baru berenti. Tapi habis ini ga boleh nangis lagi ya?" Kata Zara sambil mengusap bahu Kina yang bergetar.

Kina mengangguk, lantas melanjutkan tangisnya. Penjaga kantin juga terlihat tidak tau menahu sama sekali jika Kina menangis, karena tangis gadis itu memang benar-benar tanpa suara. Dan setau Zara, tangis seperti itulah yang sangat menyakitkan. Zara menyebutnya tangisan hening, tangisan itu terjadi saat kita benar-benar dalam posisi paling sedih, saat mengeluarkan tangis itupun hati juga terasa sakit. Zara memang belum merasakan tangis itu, tapi ia paham bagaimana rasanya saat melihat Kina menangis tepat didepan matanya sekarang.

Geruchtted✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang