Di keluarga Elmubarak, arisan keluarga bukanlah hal yang baru. Kegiatan itu sudah dilakukan sejak lama, bahkan Fadli sendiri tidak ingat kapan pertama kali ia diikutsertakan dalam kegiatan rutin keluarga besarnya ini. Dan hari ini adalah kali pertama Fadli akan menghadiri arisan keluarga dalam status yang berbeda.
Biasanya kegiatan arisan hanya berlangsung beberapa jam saja, tidak sampai menginap. Hal yang dilakukan pun beragam seperti memasak, berkebun, piknik, berbagi cerita menarik dan mengumumkan pemenang arisan bulan ini. Kegiatan yang hanya dilakukan sebulan sekali ini sudah pasti dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh anggota keluarga. Kapan lagi bisa quality time dengan sanak saudara selain di acara ini.
Zara dan Fadli sudah seminggu menginap dirumah orangtua Fadli, karena Fadli tidak mau bolak-balik rumah orangtuanya dan apartemen hanya untuk arisan keluarga ini. Jadilah sekarang Zara tengah bersiap untuk menuju lantai bawah, rencananya ia akan membantu FikaㅡMama Fadliㅡuntuk menyiapkan sarapan.
"Udah mandi aja, nih." Sapa Fadli saat ia bangun dan mendapati Zara sedang menyisir rambut.
Zara menoleh sambil tersenyum, "Iya a, hari ini kan mau arisan keluarga. Buru mandi, abis itu kita sarapan bareng dibawah."
"Emang udah siap sarapannya?" Goda Fadli sambil melipat selimutnya.
"Ya belum lah, masih jam berapa ini a. Udah, Aa mandi aja biar aku yang beresin."
"Ga bisa, udah terlanjur kelipat nih selimutnya. Eh, sprei nya juga udah terlanjur dirapiin." Setelah berkata demikian, Fadli meluncur ke kamar madi lantas cekikikan. Lagi-lagi ia berhasil mengerjai Zara.
Zara hanya bisa menggeleng, entah kenapa Fadli selalu bisa membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai dengan rambutnya, gadis itu menyiapkan baju yang akan Fadli kenakan nanti. Ia menyiapkannya, lantas menaruh diatas kasur. Setelahnya Zara turun kelantai bawah untuk membantu Mama mertuanya.
"Loh? Kok udah bangun sih, nak? Tidur lagi aja...." Kata Fika lantas menunjukkan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Ga boleh tidur habis subuh Ma. Lagian aku juga mau bantuin Mama, sekalian belajar masak." Canda Zara sambil mencuci tangannya di westafel, setelah itu ia mengambil alih tumisan bumbu halus di wajan lantas mengaduknya.
"Mending rebahan aja, nak. Daripada disini panas-panasan. Kamu udah mandi ya? Maaf ya jadi harus keringetan gara-gara bantuin Mama.." ingin sekali Zara sujud syukur saat ini, ia merasa sangat beruntung memiliki Mama mertua seperti Fika.
"Ga kok Ma, ga keringetan. Kan ini kemauan Zara, Ma."
Fika tersenyum, "Ga tau deh Mama harus bersyukur gimana lagi punya mantu idaman. Mau sungkem sama Mamamu Zar, kok bisa didik anak gadisnya hebat banget gini."
"Istrinya siapa dulu dong...A Fadli..." Entah sejak kapan Fadli berada disitu, Fika dan Zara hanya bisa terkejut dibuatnya. Fadli juga sudah mandi, dan mengenakan pakaian yang tadi Zara siapkan.
"Zara kan mantu Mama." Fika seperti tidak rela Fadli menyombongkan diri seperti tadi.
Fadli tersenyum, "Tapi kan Zara istrinya Aa, Ma...."
"Mantu Mama, A."
"Istri Aa, Ma..."
"Mantu Mama."
"Iya deh, mantu Mama." Fadli akhirnya mengalah, ia tidak bisa berdebat lebih lama lagi saat melihat tawa milik Zara. Jantung Fadli rasanya tidak sehat.
"Nah gitu dong, ngalah. Mending kamu bangunin Fadil sana suruh siap-siap, masa jam segini masih molor. Anak bujang kok gitu."
Mengikuti perintah Mamanya barusan, Fadli lantas menuju kelantai dua untuk membangunkan adiknya. Setelah membangunkan Fadil, Fadli kembali kedapur. Ia tidak mau melewatkan momen berharga antara Mama dengan Zara, akan jarang sekali ia temukan Mama dan Zara masak bersama kecuali mereka menginap dirumah ini. Fadli tersenyum, ada desir hebat tiap kali ia menatap Zara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Geruchtted✓
Teen FictionEltazafer, begitu nama kumpulan cogan itu dikenal. Berisikan 6 cowok ganteng, siapa yang tidak ambyar saat berpapasan dengan mereka. Banyak yang bilang 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking' tapi, apa prinsip itu juga berpengaruh pada me...
