05 | Tolong Saya

10.8K 723 187
                                        

* mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam penulisan bahasa asing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam penulisan bahasa asing.
------•------

Huft!

Memang paling nikmat bersandar pada sofa sembari meluruhkan lelah setelah seharian bekerja, apalagi jika ditemani hewan peliharaan kesayangan yang bisa menghibur di saat jenuh seusai memikirkan profit perusahaan yang naik turun.

"Hai Kimi," sapa Fikar pada kucing kesayangannya.

Fikar tersenyum melihat reaksi sang kucing yang langsung pindah posisi ke atas paha. Padahal ia masih mengenakan pakaian kantor karena benar-benar baru sampai pukul sembilan belas ini. Sebelum sampai rumah, pria bernama lengkap Zulfikar Kartawidjaya itu menyempatkan diri singgah ke rumah sakit untuk bertemu Papanya yang masih dirawat. Lima bulan lamanya Papa koma semenjak kejadian hari itu, dan selama itu juga Fikar belum menemukan si pelaku.

"Sana main, gih, Abang mau mandi dulu," ucapnya dengan mengusap-usap bulu putih Kimi yang lembut.

Seolah mengerti, Kimi turun dari paha sang majikan. Kucing hasil adopsi dari komunitas pecinta hewan satu tahun lalu itu ternyata betah tinggal bersamanya, lagipula siapa yang tidak betah tinggal bersama orang perhatian seperti Fikar?

"Abang mandi dulu, ya? Anak baik." Pria berusia dua puluh delapan tahun itu bangkit, sebab lelah mulai berkurang di tubuh kekarnya.

Fikar pergi menuju kamar, membuka jas kemudian melocoti kemeja putih yang menutupi dada bidang menonjol sempurnanya hingga terekspos bebas. Ia membuka celana, menyisakan pakaian dalam kemudian ia tutup dengan handuk. Setelah itu, ia pergi menuju kamar mandi yang kebetulan tidak berada di dalam kamar. Pria itu menyalakan shower, lalu mengusap seluruh tubuhnya dengan air sampai basah. Bibir merahnya selalu merona jika terkena air karena ia bukan tipe perokok aktif, hanya sesekali saja kalau benar-benar sedang merasa stress.

Setiap hari Fikar pulang malam dan harus menyiapkan semuanya sendirian. Ia tinggal di komplek perumahan yang lingkungannya sangat individualisme, memang bukan hal baik tapi itu membantu menenangkan pikirannya. Menjadi Direktur di perusahaan Papa tidak mudah, banyak sekali hal yang harus ia pikirkan agar perusahaan bisa tetap berjaya dengan produknya. Pantas saja waktu itu Papa marah besar kala bisnis dengan perusahaan milik Papanya Sisca kacau, dan sampai sekarang Papa belum memaafkan kejadian itu.

Fikar menatap wajahnya di cermin, ia mengoleskan shaving cream ke sekitaran dagu, kemudian alat cukur menebas habis bulu-bulu di sana.

Hachi!

Fikar terdiam sejenak. Suara apa itu?
Buru-buru ia mempercepat aksi cukurnya dilanjut membilas wajah sampai benar-benar bersih. Biasanya Kimi tidak bersin-bersin seperti itu, makanya Fikar rasa ada sesuatu yang aneh.

Bunyi "Hachi!" itu terdengar lagi. Fikar mengerutkan kening. Ia keluar dari kamar mandi, seingatnya tadi pintu depan rumah ia buka karena udara terlalu panas. Gawat!

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang