49 | Kau Yang Tak Pernah Pergi

3.5K 281 13
                                        

-= HAPPY READING =-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-= HAPPY READING =-


"Oke, cut!! Kerja bagus!" pekik seorang sutradara setelah kameramen melakukan medium shot pada Violla yang tengah duduk sembari tersenyum menyapu ombak di depannya. "Violla ... akting yang memukau. Kagum saya." Sang sutradara beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri wanita itu yang juga berjalan ke arahnya.

"Terima kasih, Pak. Saya juga senang bisa menjadi bagian dari brand ini." Violla membalas jabatan laki-laki ber-sweater abu-abu yang menggarap syuting terakhirnya hari ini.

"Iya-iya. Semua jadi mudah karena kamu." Sutradara itu tersenyum. "Semuanya tolong berkumpul!" pekiknya lagi pada semua kru yang tampak masih mengemas peralatan yang sejak tadi digunakan.

Tak butuh waktu lama agar manusia-manusia itu menuruti perkataan sutradara, semuanya sekarang sudah berkumpul. Clara juga ikut, beruntung agensi menunjuknya lagi untuk membantu Violla.

"Atas kerja samanya saya ucapkan terima kasih. Kita ucapkan syukur karena syuting untuk iklan layanan dari perusahaan sudah rampung dan berjalan sesuai dengan rencana." Kemudian, sutradara yang sempat menyutradarai beberapa web series Indonesia itu melafalkan beberapa doa sebagai wujud terima kasihnya. "Amiin."

"Mari kita cari tempat makan dulu sebelum pulang. Ayo!" ajak sang sutradara. "Ayo, Violla ...."

"Saya akan menyusul, Pak," tolak Violla halus, "duluan saja."

Setelah sutradara mengiyakan, tempat yang awalnya ramai itu kembali sepi. Hanya deburan ombak yang merangkak naik ke pasir putih yang bisa didengar sekarang, sesekali sayup-sayup obrolan para kru yang beranjak pergi mendominasi.

Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, merupakan lokasi syuting terakhir untuk proyek iklan brand layanan wisata dari sebuah perusahaan yang Violla approve tawarannya lima minggu yang lalu. Sebenarnya Violla punya maksud lain ketika menerima tawaran kerja sama ini, selain sebagai pekerjaan pertamanya setelah bertunangan, tetapi juga sebagai pelarian dari kesedihannya akhir-akhir ini.

Violla duduk di atas pasir putih, ia memandang permukaan laut yang tak bisa diprediksi seberapa dalamnya. Cuaca hari ini terik, suhunya mencapai 32 derajat celcius, cukup panas tapi angin dari hempasan air laut itu sangat membuat nyaman. Mungkin sekaranglah sunblok yang ia pakai akan bekerja, beruntung ada pohon kelapa yang membantu menjaganya.

Seberapa jauhpun aku pergi, ternyata kamu selalu ikut bersamaku. Bahkan saat ini saja, kamu tetap singgah di pikiranku, Fi.

"Minum, dulu," kata Clara dengan mengasongkan kelapa muda yang juga ada di satu tanganya.

Seketika lamunan Violla buyar, ia menerima apa yang asistennya itu berikan. "Ngagetin aja." Kemudian satu sedotan membuat tenggorokan kering basah dengan rasa segar.

"Mikirin apa, sih?" goda Clara. "Dia lagi?"

"Siapa lagi, Ra, yang bisa buat gue begini...." Violla terkekeh hampa. "Cuma Ufi yang bisa."

"Kalau begitu kenapa gak temuin dia?"

Hening, suara ombak yang berkejar-kejaran menginterupsi. Violla menarik napas panjang, jawabannya selalu sama.

"Apa yang harus gue omongin setelah dia buat gue kecewa dan gue buat dia terluka?"

Clara mengendikkan bahu, ia membenarkan rambut yang menutupi wajahnya karena angin. "Sebenarnya ... tadi Ufi nelpon waktu lo lagi take."

Violla tak menyahut, rasanya menyakitkan tapi penasaran tentang apa yang dibicarakan. Setelah ponsel pemberian laki-laki itu menghilang entah ke mana, Violla mengganti semuanya termasuk provider teleponnya. Meski ia hapal nomor Ufi tapi ia tak berani menghubungi, tak ada gunanya juga. Semua sudah usai, Violla tahu itu dan ia adalah orang yang paling tidak setuju karena kisahnya dengan Ufi berakhir di jalan buntu.

"Ini adalah telepon dia yang ke empat belas kalinya nanyain kabar lo. Vi ... bener lo gak punya niatan ketemu dia lagi?"

"Gue bisa apa?" Violla menunjukkan jari manisnya. "Gue udah jadi milik orang lain."

"Tapi perasaan lo tetep buat dia, kan?"

Tepat sasaran. Violla tak tahu harus berkata apa lagi. Sekeras apa pun usahanya untuk menyurutkan rasa itu  pada Ufi tapi hasilnya selalu sama, berakhir dengan kerinduan yang tak pernah ada habisnya. Tak peduli Ufi menggores luka sebesar apa atas peristiwa percobaan pembunuhan itu, bahkan Ufi ikut dengannya ke Lombok sekarang. Ufi memang tidak pernah mau membuat Violla merasa sendirian. Namun, sayang itu hanyalah khayalan Violla yang menjadikan Ufi abadi dalam ingatannya.

"Vi ... perasaan kalian sama-sama terpenjara. Sampai kapan pun lo nggak bisa beralih ke hati yang lain kalau perasaan orang lain aja masih lo kurung di hati lo."

Violla menoleh, apa yang dikatakan Clara ada benarnya juga. Tapi melakukan tak pernah semudah dibicarakan, Violla ingin membebaskan perasaan Ufi sebelum menjadi tahanan dengan hukuman seumur hidup. Violla ingin beranjak baik, lekas lega, tanpa beban, pulih seutuhnya.

Setidaknya kalau tidak bisa bersama, perasaan masing-masing bisa menerima dengan lega.

***

Tiga jam perjalanan nyatanya tidak terasa sama sekali, rasanya baru tiga menit yang lalu Viola mematikan telepon di pesawat dan tiba-tiba kini sudah berada di depan apartemen. Entah waktu yang berjalan begitu cepat atau ia yang kesadarannya lenyap, karena sepanjang perjalanan tadi Violla tak pernah bisa berhenti memikirkan Ufi. Mungkin benar apa kata Clara, ia harus segera bicara dengan Ufi agar pikirannya bisa sedikit lega.

Jakarta sudah pukul sembilan malam lebih, Violla melihat angka itu di layar ponsel yang baru saja ia nyalakan. Sehabis selesai syuting di Lombok, mereka langsung pulang karena besoknya harus mengadakan photoshoot sebuah majalah fashion di Jakarta. Mobil Clara kembali melaju setelah Violla mengucapkan terima kasih atas kerja keras asistennya.

Lift bergerak naik, di dalamnya hanya ada dua orang. Kenangan memang selalu punya cara untuk bangkit dari tidur lelapnya, kejadian seperti ini saja berhasil membuat Violla ingat akan kebersamaannya dengan Ufi dulu, di mana saat itu ia bisa tersenyum dan memeluk tangan kekar laki-laki yang dicintainya.

Lift terbuka dan Violla langsung menghambur menuju tempat di mana ia tinggal. Dari jarak sekitar lima meter, tak sengaja matanya menangkap sesuatu. Tampak ada sebuah bingkisan biru tua di sana, keadaannya menggantung di tempat penyimpanan sementara samping pintu.

"Perasaan aku nggak nitip atau pesen apa-apa. Jangan-jangan ini punya Clara?" lirihnya sembari merogoh sesuatu dari dalam sana setelah lama mengamati.

Sebuah ponsel full screen Violla temukan di sana. Jarinya refleks menekan tombol power dan ternyata ponsel itu menyala.

"Gak dikunci?" lirihnya, lalu di detik berikutnya mata yang mengamati sejak tadi membaca sebuah tulisan.

Violla, kalau kamu membaca pesan ini berarti kamu sudah menemukan bingkisannya. Bingkisan itu adalah hadiah kecil dariku untukmu. Sekali lagi maaf, aku terlambat dalam segala hal termasuk menjagamu.

Satu hal lagi, bisa kah kita bertemu lagi, Vi? Kalau waktumu luang, tolong telepon aku lewat ponsel ini. Mari bertemu, meski untuk terakhir kalinya.

Zulfikar.

Violla terkekeh pahit. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok. "Tolong jangan begini, Fi. Kamu membuat aku semakin resah."

Violla menoleh lagi pada bingkisan pemberian Ufi di samping kepalanya, matanya seketika berlapis air mata. Satu sisi Ia senang karena Ufi selalu mencari dan memastikan dia baik-baik saja, tapi di sisi yang lain ia juga ingin menangis karena takdir seperti membuat Ufi dan Violla saling membelakangi.

-= MEMORABLE NIGHT =-

Mohon maaf, akunya semakin tidak tega

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang