41 | Ufi Akan Mengabari

3.5K 278 2
                                        

NOW PLAYING

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

NOW PLAYING

Martin Garrix ft. Dua Lipa - Scared To Be Lonely (cover Boyce Evenue)

00:00 •───────── 03:42
|◁     II     ▷|

-= HAPPY READING =-

Seperti terjebak dalam hutan lebat gelap gulita, berjalan ke mana saja rasanya tak pernah ada habisnya, tersesat tak tentu arah tujuan dengan ketakutan-ketakutan yang menggerogoti pikiran, begitulah Violla sekarang. Tidak tahu lagi harus ke mana agar pencariannya berujung napas lega, padahal baru satu hari Ufi pergi tapi rasa rindunya sudah meronta tak tahu diri.

Di sinilah Violla sekarang, di depan rumah bercat putih terang yang jika tersorot lampu malam menjadi keabu-abuan. Setiap batu-batu yang ada pernah menyaksikan bagaimana tidak tahu malunya seorang Violla datang dan langsung masuk memergoki seorang pria bertelanjang dada.

Rumah ini masih sama, bersih dan rapi meski penghuninya pergi. Tetapi perasaan bukan sebuah rumah tinggal, jika orang yang mengisinya pergi maka perasaan akan kacau tak terurus lagi. Bayangkan setiap hari ada orang yang memberimu rasa macam-macam lalu satu waktu leyap bahkan hambar saja tak lagi ada.

Lemas menjajah habis tubuh Violla sekarang, ia jatuhkan tubuhnya di kursi beranda rumah yang mulai berdebu. Sekarang ia tak bisa meminta bantuan Ufi untuk menyelamatkannya atau memberinya minuman hangat agar tubuhnya tidak terlalu dingin, tak bisa.

Setelah pernyataan Miranda yang mengatakan Ufi pergi karena urusan bisnis perusahaan membuatnya merindukan rumah ini, perasaan Violla memang tidak begitu lega tapi setidaknya ia bisa bernapas karena tahu Ufi pasti baik-baik saja.

Sekacau ini aku tanpa kamu sekarang, Fi.

Violla menangkupkan tangannya di atas meja lalu meneggelamkan wajahnya, dingin mulai terasa tapi ia biarkan udara menyentuh kulitnya. Ia belum ingin pergi dari sini, ia ingin dekat dengan Ufi, meskipun hanya dengan kenagan yang sempat terjadi.

***

Biasanya jika berkunjung ke sini, Ufi selalu kagum dengan lingkungan juga keadaannya. Lampu-lampu berkilau di malam lepas seperti jutaan kunang-kunang juga menara tinggi menjulang menghiasi langit legam yang gelap tanpa bintang, Ufi selalu terpesona akan hal itu. Namun, tidak untuk kali ini, yang ada hanya kecemasan.

Kini menatap langit dari kaca hotel tidak lagi menyenangkan, Ufi lebih memilih duduk minum kopi bersama Violla daripada di sini sendirian dengan rasa bersalah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kota terlihat ramai, lalu lalang mobil berkejara-kejaran, tapi pikiran Ufi berhenti pada satu nama. Violla.

Ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan kerjaannya di sini, tapi sudah sejak kemarin selalu saja ada halangan agar rapat pertemuan tidak dilaksanakan. Dan Ufi sadar, percuma juga ia memaksa untuk cepat-cepat menyelesaikannya, semesta selalu mempunyai banyak rahasia. Bisa jadi apa yang dipilihnya sekarang akan menjadi penyesalannya di kemudian hari dan Ufi tak mau itu terjadi untuk kedua kali. Ia sudah pergi tanpa memberi tahu Violla dan ia tak ingin pengorbanannnya sia-sia di sini.

Violla, kamu baik-baik saja, kan? Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu.

Seandainya menara tinggi yang terletak di Champ de Mars itu bisa mengabulkan permohonan saat itu juga, maka Ufi ingin waktu berhenti saja agar ia bisa menemui Violla tanpa mengganggu scedulenya. Sekarang ia juga merasakan apa yang sempat Violla bicarakan, Ufi juga benci sendirian sekarang.

Pria itu mengeluarkan ponselnya, sudah satu jam lebih ia menimbang-nimbang antara harus menghubungi Violla, memberi dia kabar atau tetap seperti ini. Menghilang, membuatnya khawatir. Tapi, kalau ia menghubungi juga Violla pasti menangis karena ketakutannya semakin merenggut, makanya Ufi tak mau ada yang tahu di mana ia sekarang. Takut kalau berita ia pergi didengar keluarga Violla dan mereka mengambil wanita itu kapan saja.

Salah Ufi tidak bisa membawa Violla pergi bersama, salahnya juga karena rapat ini sangat privasi, dan salahnya juga kenapa bisa meninggalkan orang yang ia cintai sendirian dengan ketidakpastian. Pada akhirnya, Ufi tak jadi mengabari. Setiap deretan kalimat yang sudah diketiknya ia hapus secara berulang. Setiap kali ingin menelepon, jarinya gemetar, bingung harus berkata apa. Membiarkan Violla menangis karenanya? Ufi tak mau itu terjadi. Ia kira masalah ini akan sederhana, tapi ternyata tidak sesederhana kedengarannya. Pergi dan nantinya kembali lagi tidak sesederhana yang dibayangkan, harus ada luka yang diterima dan banyak yang dikorbankan saat kalimat sederhana dilaksanakan.

Tenyata benar, sederhana tidak pernah ada dalam rumus dunia.

***

Yayan datang untuk mengantarkan Violla makanan yang tadi dibelinya di sebuah tempat makan. Ia prihatin melihat wanita itu muram saat wajahnya muncul dari balik pintu, apalagi waktu menanyakan Ufi dengan keras kepala dan air mata.

"Sudahlah, Mbak. Pak Fikar pasti pulang. Tunggu saja, dia nggak akan ngebiarin Mbak sendirian."

Yayan membuka kardus makanan yang dibawanya di atas meja dapur dengan Violla di seberangnya menatap kosong. "Pak Fikar sayang banget sama, Mbak. Ini saja saya disuruh dia bawa makanan buat Mbak. Katanya Mbak Violla belum bisa masak sendiri."

Violla tersenyum pahit, ternyata Ufi masih memikirkan kesehatannya—sebenarnya menyedihkan menjadi wanita yang kalah pandai masaknya dari laki-laki, tapi Violla senang saat Ufi mengingatnya belum bisa memasak.

"Mbak, sudah tahu belum kalau Pak Fikar dapat surat bisnis penting sejak dua minggu lalu?" Pertanyaan Yayan berbuah anggukan lemas. "Pasti Mbak sudah dengar dari Ibu presdir, ya."

Hening.

"Hampir setiap hari, Mbak, Pak Fikar ngomong gini, 'Kira-kira saya bisa nggak ya pergi tanpa membuat Violla menangis?' padahal dia sendiri tahu kalau pun Mbak nggak nangis, pasti Pak Fikar yang akan ketakutan."

"Ketakutan?" Mata sayu itu menatap penasaran. "Ketakukan kenapa, Yan?"

"Katanya takut Mbak Violla pergi." Yayan beranjak mengambil air dan dua gelas. Tak lama ia kembali.

"Ini saya cerita sekalian saja ya, Mbak. Pak Fikar itu kayaknya memang sayang banget sama Mbak. Selama saya jadi sekretarisnya, waktu Pak Fikar pacaran sama Mbak Sisca nggak pernah saya lihat mata dia berkaca-kaca kalau dapat surat bisnis pergi ke luar negeri."

Viilla tidak salah dengar, kan? "Luar negeri?"

Gawat! Yayan salah bicara. Buru-buru pria itu memakai jasnya dengan berlagak sibuk dan tak bisa menjawab pertanyaan Violla yang berulang-ulang. "Maaf, Mbak. Saya masih ada urusan. Makannya dihabiskan, ya, Mbak."

"Yayan! Please ... di mana Ufi?"

Birbirnya merapalkan kalimat, tapi tak dapat diutarakan. Bibir Yayan rasanya beku saja untuk menjawab tempat itu, tak mau melihat air mata Violla jatuh, Yayan lekas pergi. "Saya harus segera pergi, Mbak. Tapi Pak Fikar bilang, dia akan mengabari."

Viola tak bisa tersenyum, tenggorokannya mulai sakit lagi. Ia duduk kembali, meminum segelas air putih lalu menyesuaikan lehernya agar sakitnya berkurang. Kini Violla jadi dibayangi harapan, Yayan memberinya bahyak kata tapi hanya beberapa yang mampu diterima. Meski begitu, setidaknya Violla harus sedikit lebih lega karena Ufi pasti akan mengabarinya.

Pasti.

-= MEMORABLE NIGHT =-

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang