15 | Kontrak Kerja

6.9K 526 19
                                        

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam pemulisan bahasa asing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam pemulisan bahasa asing.
------•------

"Stupid!"

Tiba-tiba pintu mobil terbuka, aroma parfum maskulin mengambil alih suasana. Ufi kembali dan di wajahnya tak terlihat ada kecanggungan sama sekali.

"Kalau bodoh nggak mungkin kamu masuk agensi model," celetuk Ufi sedikit mendengar perkataan wanita itu tadi. Di tangannya sudah ada beberapa berkas dalam map yang kini diletakkan di kursi belakang.

Violla mengangkat kedua alisnya seolah tidak mendengar apa-apa. "Semua dokumennya udah ketemu?"

"Sudah. Semoga aja besok bisa selesai." Seat belt kini sudah melingkar di tubuh Ufi.

Pria itu mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat yang semoga saja bisa membuat rencananya berhasil dan Violla mau diajak kerja sama tanpa keberatan.

"Perusahaan kamu cuma produksi tas? Nggak niat ngeluarin produk lain gitu?" tanya Violla yang tadi melihat beberapa sampel di perusahaan dan saat melihat logo besar yang terpajang ia tahu merek itu.

"Sebenarnya ada, tapi sejauh ini perusahaan fokusnya ke produksi tas."

Wanita itu hanya memberi anggukan. "Ah iya, kok aku nggak lihat banyak tas di rumah kamu? "

"Rumah aku kan bukan toko." Ufi tertawa kecil. "Sebenarnya ada beberapa di rumah lama."

"Kamu punya dua rumah?"

"Bisa dibilang begitu." Ufi menghentikan pembicaraannya untuk berpikir sejenak. "Tapi aku kurang suka di sana. Lingkungannya memang tidak ramai, tapi rumah itu sedikit tua dan agak kurang nyaman. Lagipula itu pemberian orangtua."

Violla terdiam, ternyata ia tidak tahu apa-apa soal Ufi. "Banyak juga ya yang aku nggak tahu dari kamu."

"Aku juga sempet nggak nyangka kalau kamu model dari agensi yang cukup terkenal. Heran aja, kamu seterkenal itu tapi aku cuma samar-samar lihat wajah kamu di poster event."

Violla tersenyum, perkataan Ufi selalu rendah hati. "Mungkin karena aku lebih sering muncul di majalah-majalah busana. Tapi kalau kamu mau inget wajah aku, kayaknya mata kamu harus terus fokus ke wanita cantik ini." Nada bicaranya sengaja dibuat selucu mungkin. Ah! Violla jadi sering bercanda sekarang.

Ufi tertawa, menampilkan lesung pipitnya. "Iya kayaknya."

Senyumannya ... kenapa jadi terlihat menenangkan? Batin Violla menelan ludah tak tahan melihat wajah itu dari samping.

Mobil berhenti di sebuah tempat, tapi bukan rumah Ufi. Violla rasa pernah mendengar tempat ini dan sekarang ia penasaran kenapa pria itu membawanya ke sini.

"Mampir ke kafe dulu nggak apa-apa, kan?" tanya Ufi sebelum turun.

Violla mengangguk, lagipula ia tidak diberi pilihan lain.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang