"Maaf ...."
"Berhenti merasa bersalah karena hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kamu!"
Niat hati ingin rehat dari aktifitas yang melelahkan sebagi model, Violla Sanjaya justru mendapat dua malapetaka yang tidak pernah ia duga: 1) hampir kehilanga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan. ------•------
Aroma parfum segar mendominasi udara di dalam mobil sampai membuat siapa saja nyaman dan betah berlama-lama. Ufi mengemudi dengan santai hingga jam tangan Michael Kors Mercer-nya terlihat. Daripada kebut-kebutan dengan alibi cepat sampai tujuan, takutnya malah mempercepat menemui kematian.
Violla mengenakan slip dress bermotif floral yang dipadukan dengan kemeja putih polos membuatnya terlihat lebih fresh. Sneakers yang Ufi beri membuatnya terlihat feminin, hanya saja ada satu yang kurang, yaitu handbag—lagipula siapa yang peduli malam-malam begini. Ufi tidak bisa berbohong, malam ini dia begitu anggun dengan auranya sebagai model.
"Kamu sering kerja sampai malam gini?"
"I'm just trying to do my best."
Violla menyeringai karena teringat bagaimana rasanya kerja seharian, ia juga sering merasakan bagaimana lelahnya pindah lokasi dan merindukan kasur rumah, makanya tak jarang ia tertidur di perjalanan. Mungkin jika Ufi harus sampai seperti ini berarti posisinya memang penting, entahlah ia tak tahu pekerjaan seperti apa yang pria itu lakukan.
Mobil Mercedes Benz berhenti di sebuah parkiran gedung yang terkesan gelap sebab sudah tidak ada lagi aktifitas di malam hari. Yang benar saja jika ada perkerja sampai jam sebelas malam begini? Kecuali jika mereka lembur akan tugas yang belum juga rampung diselesaikan.
Ufi keluar diikuti Violla, laki-laki itu berjalan perlahan-lahan hanya agar langkahnya seirama dengan wanita yang kini di sampingnya. Kantor benar-benar sepi sampai sepatu yang menginjak lantai terdengar nyaring.
"Ini kantor kamu?" Violla terperangah, karena di beberapa tempat ada lampu yang menyala. Tidak, sebenarnya lampu di sana cukup banyak yang menyala.
"Yeah, tepatnya kantor ini milik orangtua saya."
"Berarti your position di sini lumayan tinggi, ya?"
Ufi mengendikkan bahu. "Bisa dibilang begitu."
Pintu lift terbuka.
Ufi berjalan ke salah satu ruangan dan membukanya, ia langsung menuju meja mencari-cari dokumennya yang ketinggalan. Tak butuh waktu lama untuk map cokelat itu ditemukannya tepat berada di bawah tumpukan berkas lain.
"See? Nggak lama 'kan?" Ufi mengangkat berkasnya ke hadapan Violla yang memandang satu ruangan.
Violla membaca sebuah papan bernama Zulfikar dengan posisi, "Direktur? Posisi yang bagus."
"Yeah, but I'm not nepotism here." Ufi tergelak. "Kamu harus tahu gimana susahnya saya untuk paham dunia bisnis."
"Kayaknya nggak usah diceritain. I can imagine it in my mind." Violla terkekeh sembari berjalan ke sebuah dinding kaca transparan untuk melihat kota yang tampak seperti kunang-kunang. "Tapi dengan posisi kamu yang seperti ini, kenapa tinggal di perumahan sederhana itu? Bukannya rich people always want luxury?"