"Maaf ...."
"Berhenti merasa bersalah karena hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kamu!"
Niat hati ingin rehat dari aktifitas yang melelahkan sebagi model, Violla Sanjaya justru mendapat dua malapetaka yang tidak pernah ia duga: 1) hampir kehilanga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NOW PLAYING
Tulus - Adaptasi
00:00 •───────── 03:13 |◁ II ▷|
-= HAPPY READING =-
Jakarta Selatan memang selalu menarik perhatian, lalu lalang kendaraan juga bangunan-bangunannya yang megah selalu membuat masing-masing diri tersita perhatian. Sampai-sampai membuat Ufi yang dari Bogor jauh-jauh datang hanya untuk mengencani Ibu kota ini.
Namun, bukan itu tujuan utama Ufi. Ia hanya ingin bertemu dengan salah satu makhluk yang singgah di sana, makhluk paling rapuh yang tak pernah mau ia tinggalkan sendirian—meski akhirnya ia tetap pergi— Violla namanya, entah sekarang wanita itu masih mengingatnya atau tidak, yang jelas dalam pikiran Ufi selalu namanya yang ada.
Dua hari yang lalu Ufi mendapat kabar dari rekan-rekan kerjanya bahwa Adam—tunangan Violla—pergi ke Bangkok untuk urusan pekerjaan bersama Danu dan satu berita menggembirakan lainnya karena Violla sudah kembali ke apartemen lamanya yang ada di Jakarta. Dan baru tadi pagi Ufi mendapatkan alamat wanita itu, tanpa pikir panjang ia langsung meluncur dengan harapan terjadi sebuah pertemuan.
Ufi tak ingin menyia-nyiakan peluang atas apa yang sudah Tuhan berikan. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, makanya kini ia datang dengan ekpektasi tinggi. Salahnya, setiap ekspektasi ditaruh di raga lain, yang didapat selalu kekecewaan. Contohnya sekarang, jalanan macet. Clara tidak bisa dihubungi dan Violla ... ah, Ufi tak memiliki akses apapun padanya. Wanita itu mendadak lenyap setelah penolakan yang dilakukannya tempo hari.
Empat puluh lima menit berikutnya, Bumi membawa Ufi pada sebuah bangunan di Jakarta. Bangunan berbentuk kubus tinggi menjulang dengan kaca-kaca yang mendominasi pentilasi udaranya. Ufi sengaja tidak langsung masuk ke dalam karena ia tidak tahu di nomor berapa Violla tinggal.
Ini adalah panggilan ketujuh Ufi pada Clara yang tidak mengangkat teleponnya, rasanya tak sabar ingin bertatap muka dengan Violla. Sampai sekarang, Ufi tak percaya bahwa penolakan Violla hari itu adalah sungguhan, makanya ia datang untuk memastikan. Jika harus dirasakan sakitnya, Ufi tak tahu harus menyimpannya di mana lagi. Perasannya sudah hancur, bahkan sekarang saja ia datang dengan serpihan harapan yang kapan saja bisa ditiup dan berhamburan.
"Halo, Ra."
Terdengar nada lelah dari sana. "Kan gue udah bilang, Fi, kalau Clara udah nggak bisa jadi model lo lagi. Ini udah keempat belas kalinya lho, lo telepon gue."
"Ra, Violla tinggal di apartemen nomor berapa?" tanpa menggubris omelan Clara yang panjang lebar, Ufi langsung to the point.
Hening, terdengar suara seorang pengarah dari dalam sana. "Kalau gak ada yang penting gue tutup—"
"Ra, please. Kasih tahu saya nomor kamarnya."
Clara terdengar ragu-ragu, seperti menimbang-nimbang perkataan laki-laki itu barusan. "Fi, Violla gak ada di apartmen. Dia lagi syuting di luar kota. Percuma lo datang ke sana juga."