38 | Bertahan atau Tinggalkan

4.2K 300 14
                                        

NOW PLAYING

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

NOW PLAYING

AKMU - How Can I Love The Heartbreak?

00:00 •───────── 04:56
|◁     II     ▷|

-= HAPPY READING =-

Jika berpisah adalah hal yang paling menyakitkan, maka pergi adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Ada saatnya manusia merasa nyaman pada satu lingkaran keadaan yang dianggap menyembuhkan, hingga takut pergi ke luar karena tak ingin lagi merasakan yang namanya kepedihan.

Sama halnya dengan perasaan, saat nyaman sudah mendekap maka tak heran jika ia akan menetap, enggan pergi ke mana-mana karena merasa sudah menemukan tempatnya. Kadang juga diartikan bodoh oleh sebagian orang sebab mereka tidak mengerti maksudnya.

Disadari atau tidak, manusia memang selalu merasakan hal serupa. Violla Sanjaya contohnya, ia merasa dunia Ufi adalah tempat pulang, tempatnya mencari nyaman, bahkan yang paling mengerikan adalah Violla sudah menjadikan dunia Ufi sebagai rumahnya.

Kenapa dianggap mengerikan? Karena jika pemilik rumah mengusirnya, bukankah akan sangat menyakitkan?

"Fi ...?" Satu cangkir kopi rendah gula Violla minum sembari menatap lampu-lampu yang menyerupai kunang-kunang di udara. "Katanya kalau ada awal, pasti ada akhir, kan?"

"Memangnya kenapa?"

Suasana di balkon rumah Ufi kali ini tidak begitu dingin, juga tidak begitu hangat. Riuh rendah kendaraan yang terdengar dari jalanan membuat keadaan sedikit lebih hidup.

Sejak tadi Violla tak bercengkrama dengan Ufi meski ia sendiri terus mengajak bicara sejak tadi. Sebenarnya sudah dari satu minggu yang lalu Violla perhatikan prilaku Ufi sedikit berbeda, pria itu lebih sering melamun, bahkan yang memberi makan Kimi saja harus Violla yang melakukannya.

Jika beralibi karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan memang masuk akal, hal itu sangat menyita pikiran dan tenaga maka tak heran jika konsentrasi Ufi terpecah belah. Namun, kali ini berbeda, selama sepuluh hari diperhatikan Violla menemukan jawaban bahwa Ufi mulai tak konsentrasi ketika berbicara dengannya, seperti ada yang disembunyikan hingga bicara saja canggung rasanya.

"Gak apa-apa. Aku cuma benci akhirnya. Karena selalu dengan perpisahan."

Terdengar kekehan dari lawan bicara Violla. "Tidak semua akhir itu perpisahan, Violla. Kadang ... akhir juga berarti bahagia."

Violla menghabiskan kopinya. "Kalau kita bagaimana?"

"Maksudnya?" Ufi mengerutkan kening.

Violla ingin sekali berkata, "Tidak apa-apa. Lupakan saja." Tapi hal itu tak bisa ia lakukan, pemikirannya sudah tak bisa dipendam atau disembunyikan, ia tak mau Ufi menjadi aneh dalam sekejap. Violla ingin Ufi yang hangat seperti pertama kali memberinya piama yang menenggelamkan tubuhnya.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang