46 | Keadaan Yang Tak Sejalan dengan Harapan

3.4K 281 16
                                        

NOW PLAYING

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

NOW PLAYING

Paul Kim - Big Heart

00:00 •───────── 04:41
|◁     II     ▷|

-= HAPPY READING =-

Hai, Fi. Apa kabar?

Violla membatin sembari menerawang cakrawala. Hari ini cuaca cerah lengkap dengan beberapa burung yang melintas di atas sana, wanita itu melihat langit dari balkon rumah dekat dapur dan kebun-kebunan kecil di rumah orangtuanya.

Dulu, ia sering melihat dunia dari balkon bersama Ufi, hanya saja langitnya malam bukan biru laut seperti sekarang, mana sempat kalau siang-siang dilakukan hanya untuk memandangi langit berduaan. Ada terlalu banyak sibuk yang merengkuh masing-masing duduk. Urusan kantor lebih padat dari yang dikira, meski terdengar selalu begitu-begitu saja tapi dengan datangnya kata "sering" membuat hal yang biasa dilakukan menjadi melelahkan.

Ini hari ke tujuh setelah kamu pergi. Hari kelima aku pergi dari kamu. Maaf ... maaf karena memilih hilang dari jangkauanmu.

Seharusnya aku memang nggak usah naruh harapan apapun, apalagi perasaan. Sebenarnya aku nggak mau pergi darimu seperti ini, tapi ... mendengar kenyataan bahwa kamu berniat melenyapkanku rasanya begitu menyakitkan. Aku seharusnya marah dan tak usah lagi memikirkanmu, tapi harusnya kamu tahu, bagiku usaha melupakanmu adalah usaha yang sia-sia, Fi.

Kamu berniat sejahat itu, tapi aku tetap mencintaimu. Kenapa? Kenapa aku harus begitu mencintai kamu, Fi?

"Langit selalu terang. Mau mendung atau panas, Bumi nggak pernah gelap kecuali malam. Ditinggalkan atau meninggalkan, tetap akhirnya akan berpisah meski harus dengan kematian."

Lamunan Violla buyar seketika saat sesosok laki-laki paruh baya berdiri di sampingnya. Air muka Violla berubah masam, ia kehilangan selera bertengger di sana karena kehadiran Papa. Sampai sekarang Violla belum bisa memaafkan perlakuannya, terlalu sakit untuk dimaafkan begitu saja.

Ia mengusap air mata, lalu pergi. Namun, belum genap langkahnya tiga sudah berhenti.

"Pertunanganmu akan dilaksanakan hari sabtu minggu ini. Lima hari lagi." Danu menoleh, melihat putrinya yang melemparkan tatap nanar. "Jangan terlalu marah pada apapun, saat yang dibenci memberi kesenangan, di situ letak penyesalan."

Katung mata Violla yang cokelat menambah kesan muram kala raut itu mematri mendung kembali. "Egois!" ungkapnya sembari berlalu tapi terhenti lagi.

"Kalau kamu memang tidak menyukai Adam, tenang saja. Toh nanti juga kalian memang akan berpisah."

"Berpisah? Enak ya Papa ngomong setelah maksa aku buat jadi istri orang yang aku benci terus bilang pisah gitu aja? Apa pernikahan aku cuma bercandaan buat Papa?!"

Danu tak bisa berbohong kalau setiap perkataan Violla memang selalu membuatnya malu sendiri, tapi pernikahan juga bukan semata-mata untuk keuntungan dirinya saja, tapi juga Violla yang nantinya akan mendapatkan kehidupan enak agar tidak hidup susah. Apalagi jika Adam dan Violla bersama bisnis kedua orang tua bisa terjalin sempurna.

"Vi ... Papa serius. Papa benar-benar berharap banget sama kamu." Nada bicara Danu mulai melembut.

"Kalau Papa tahu nantinya aku sama Adam akan berbisah, terus kenapa Papa maksa aku buat sama dia? Aku bukan boneka yang bisa Papa mainin seenaknya!" Violla pergi tak peduli papanya berteriak di belakang sana, yang pasti ia tak ingin terjebak dalam keadaan seperti tadi.

"Ya ... kalian memang akan berpisah. Dipisahkan oleh kematian," gumam Danu sarat makna terpendam.

***

"S'il vous plaît emballer cette belle," ungkap Ufi pada salah seorang pekerja di toko perhiasan ini agar mengemas barang yang ia pilih semenjak tadi.

"D'accord attend un moment," jawabnya lalu sibuk dengan apa yang Ufi perintahkan.

Faubourg Saint-Honore adalah tempat yang bisa dibilang pusat mode di Prancis. Ufi tahu hal itu sudah sejak lama, keluarga mereka memang cukup sering datang ke sini dan saat kuliah dulu Ufi pernah datang ke sini juga untuk melakukan penelitian mata kuliahnya. Di sini masyarakat setempat maupun turis dapat menemukan furnitur unik dan kosmetik dengan kualitas terbaik, tetapi Ufi lebih memilih mampir ke salah satu toko perhiasan dan membeli liontin sebagai hadiah untuk Violla di Indonesia.

Faubourg Saint-Honore berlokasi di lingkungan Louvre-Tuileries dan hanya terletak beberapa blok dari Opera Garnier dan Paris Department Store di Boulevard Haussmann. Makanya Ufi memilih datang ke sini sebagai destinasi terakhir karena tempatnya cukup dekat dengan penginapan. Malam nanti, Ufi sudah harus berangkat menuju bandara Paris Charles de Gaulle Airport (CDG) atau biasa juga disebut Roissy Airport. Pesawat Ufi akan berangkat sekitar jam sembilan dan sekarang di Prancis baru pukul empat sore, mungkin jika ia berangkat jam sembilan malam nanti waktu Prancis akan tiba di Indonesia pukul lima sore karena perbedaan jam antara indonesia dan prancis adalah enam jam.

"Monsieur, voici l'ordre." Pekerja itu datang lagi sembari menyodorkan sebuah bingkisan cantik berwarna biru gelap dengan logo toko di tengahnya. Benar-benar cantik nan elegan, siapapun pasti tahu bahwa benda yang ada di dalam hadiah kecil itu begitu tinggi harga juga kualitasnya.

"Merci." Ufi menekuk tubuh tak begitu menunduk, hanya agar memberi salam hormat dan menunjukan bahwa dia mengerti etika.

Pria itu mendorong pintu kaca tanpa noda di depan, begitu tubuhnya keluar dari toko bisa langsung merasakan dingin menyecap pori-pori kulit sampai mengharuskannya memeluk tubuhnya sendiri.

Jika mengingat seberapa lama dirinya singgah di negeri pusat mode dunia ini bisa dibilang tidak sebentar, karena semenjak awal kedatangannya waktu itu sampai hari ini sudah menginjak hari ke tujuh. Selama Ufi dan rekannya di sini tidak sia-sia, tender yang diincar mereka berhasil didapatkan dengan jawaban mantap sempurna.

Awalnya pihak sana keras kepala menginginkan Violla turut hadir saat presentasi dan demo rancangan, tapi setelah Ufi beri pengertian lambat laut pikiran mereka terbuka dan memahami.

Ia tak sabar mengabarkan hal baik ini pada Papa yang kemarin dikabarkan mengalami perkembangan sangat baik, walaupun tetap harus dirawat inap di rumah sakit untuk memastikan benar-benar siap keluar dari sana. Selain Papa dan Ibu, Ufi juga rindu bertemu Violla. Namun, sepertinya kali ini pertemuan mereka akan lebih sulit dari sebelumnya, Ufi mendapat kabar kalau Violla dibawa pulang menuju rumahnya di Bekasi setelah malam itu. Sempat ia berpikir buruk karena ponsel Violla secara tiba-tiba tidak bisa dihubungi, tapi Yayan bilang Violla baik-baik saja di sana.

I miss you, Vi. Aku harap cincin ini melingkar di jarimu setelah aku tiba di Indonesia. Tunggu aku.

Sambil menunggu bus lewat Ufi merapalkan mantra-mantra itu berharap waktu cepat bergerak agar bisa segera bertemu Violla. Sengaja hari ini ia tak diantar siapa-siapa karena ini rahasia. Ufi rasa hubungannya dengan Violla tidak bisa lagi hanya sebatas kontrak kerja, selama mereka bersama selalu ada sesuatu yang bermekaran di dada. Entah itu tumbuh ketika ciuman di ruang kerja atau ketika menyuapi bubur hangat di pagi hari. Ufi tidak mengerti.

-= MEMORABLE NIGHT =-

From Pai :

Seandianya kamu tahu Fi, seandainya kamu tahu bahwa orang yang mu sayang akan hilang dari jangkauanmu. Maaf, maaf karena kisah ini tidak begitu baik untukmu.
.
.
Ini siapa yang nulis sih? Kasihan bangeet

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang