24 | Obrolan Malam Hari

5.8K 386 22
                                        

-------•-------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-------•-------

Ufi mengangguk. Ia berjalan menuju meja makan dan meletakkan pet chargo di sisi lemari pendingin, lalu membukanya dan Kimi seperti bingung sendiri saat keluar melihat lingkungan barunya, tapi naluri malasnya meronta hingga ia menemukan sofa di ruang tengah dan langsung terdiam di sana.

Pintu kulkas terbuka dan Ufi mengambil salah satu minuman kaleng dari dalam sana, lalu memberikannya ke Violla. "Maybe beer can make you feel better."

"Thanks. But, kapan kamu isi kulkas? Bukannya tadi nggak belanja apa-apa, ya?"

Bunyi bush! terdengar saat minuman itu dibuka. "Aku nyuruh Yayan tadi, tepat saat kamu udah masuk kamar dia datang."

Violla mengendikkan bahu. "Kalau barang-barang kamu yang masih di sana, mau diambil kapan?"

Perlahan Ufi berjalan menuju tangga dengan sesekali mematikan lampu hingga membuat ruangan temaram. "Besok bakal ada tukang yang antar ke sini. Kalau nanyain gudang bilang aja ada di belakang garasi."

"Barangnya ditaruh di gudang? Semuanya?"

"Nggak. Barang-barang yang nggak diperluin aja. Di sini juga udah banyak barang, kan?"

Wanita itu membuka minumannya dan langsung mengambil satu tegukan hingga membuat matanya terasa segar, tapi sayangnya baju tidur berwarna hijau rumput ini tidak cukup kuat untuk membuatnya hangat.

"Tadi Yayan juga bilang, katanya rumah aku yang sebelumnya didatangi wartawan. Beruntung kita gerak cepat." Kini mereka sampai di anak tangga terakhir hingga mengantarkannya ke lantai dua yang cukup terang. "Ternyata ide nggak nyebar alamat itu cukup bagus."

"Terus wartawannya tahu rumah ini?"

"I don't know, kayaknya sih enggak soalnya aku udah nyuruh orang kantor agar nggak bocorin informasi apapun. Terus tadi juga katanya ada orang berseragam hitam nyari kamu. I think itu orang yang sama kayak yang waktu itu you told me to lie."

"Really?" Violla terkejut dengan langsung bergetar cemas. "Kapan? Apa Papa juga ikut?"

"Yang pasti mereka sampai setelah kita nggak ada." Ufi menoleh, melihat raut wajah Violla yang berubah gundah. "Udah, nggak usah khawatir. I there for you, i will help you. Semua akan baik-baik aja."

"Kamu nggak tahu gimana Papaku, Fi. Dia selalu semaunya. Aku gak mau pergi ... aku gak mau dipaksa-paksa, I want to be free."

"I know. Semua orang nggak ada yang mau dipaksa, Violla." Ufi mengembuskan napas berat. "Kamu tahu 'kan gimana ngototnya Ibu agar aku mau menikah sama Sisca?"

Tak ada yang bisa Violla sahut, kenyataan yang Ufi sebutkan tentang Papa yang tak putus untuk membawanya pulang membuat ia khawatir. Ia juga takut jika suatu hari nanti Papa menemukan rumah ini dan malah menyakiti Ufi, Violla sungguh tak mau itu terjadi.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang