36 | Hujan yang Menyudutkan

4K 300 21
                                        

NOW PLAYING

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

NOW PLAYING

The Panasdalam Bank - Kemudian Ini

00:00 •───────── 01:43
|◁ II ▷|

-= HAPPY READING =-

Pada dasarnya cuaca memang tidak dapat ditebak akan seperti apa hari ini meski perkiraan cuaca selalu memprediksinya. Kadang selaras dan kadang juga tidak, mungkin bagi sebagian orang hal itu akan merepotkan, apalagi untuk para pegawai yang bekerja di lapangan seperti seorang detektif yang harus mencari bukti atau tersangka, tapi untunglah pekerjaan Ufi dan Violla bukan seorang detektif.

Seperti hari ini, hujan turun membasahi tanah yang di setiap rintiknya dirindukan. Berjatuhan menimpa genteng dan terperosot sampai tanah merangkulnya.

Di sana, di lantai dua sebuah rumah, seseorang dengan teh hangat yang diletakkan di depannya merasa seperti disudutkan. Jika orang lain senang karena hujan turun memberikan rasa nyaman yang seolah memberinya sebuah teman, tetapi tidak bagi Violla. Ia justru semakin merasa sendirian.

Ufi berangkat ke kantor tadi pagi dan sampai jam lima sore ini belum juga kembali. Hanya memberi kabar sebentar lalu menghilang sampai sekarang. Violla tak bisa ikut ke kantor karena tenggorokannya sedang sakit, mungkin karena makanan pedas pemberian Yayan kemarin ia habiskan. Tenyata sendirian saat kesakitan memang tidak menyenangkan. Apalagi sendirian karena ditinggalkan, sangat menyakitkan.

Sekarang teh sudah tinggal setengah lagi karena Violla terus menyeruputnya. Sweater wol oversize berwarna mocca yang dikenakan cukup memberi kesan hangat meski menatap di balik jendela cukup dingin. Tak lama telepon kabel yang letaknya di atas nakas dekat kursi yang menghadap televisi berbunyi berulang kali, Violla harus beranjak agar bisa menjawabnya.

"Halo? Dengan siapa saya bicara?" tanya Violla yang kemudian terdengar kekehan sampai akhirnya kalimat yang diucapkan membuatnya menelan ludah. "Aku nggak mau pulang!"

Panggilan berakhir.

Benar, Papa menghubungi Violla dengan kalimat tegas sebagai pembuka. Langsung pada inti tanpa menanyakan kabarnya sama sekali. Padahal seseorang yang sedang marah harusnya dibujuk, dirayu, bukan ditodong pistol lalu ditarik pelatuknya.

Ini menjengkelkan. Wanita itu memundurkan tubuhnya. Rasa sepi bersatu dengan marah yang menjajah, datang tanpa mengetuk tapi langsung masuk mengaduk-aduk. Violla ingin menangis, hujan seperti sengaja turun agar ia bersedih.

Kenapa Violla bisa sekacau itu? Karena entahlah, ia merasa enggan beranjak dari ruang yang memberinya kenyamanan. Jika nanti ia harus tetap berpisah dengan Ufi, Violla tak yakin harinya akan baik lagi.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang