"Maaf ...."
"Berhenti merasa bersalah karena hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kamu!"
Niat hati ingin rehat dari aktifitas yang melelahkan sebagi model, Violla Sanjaya justru mendapat dua malapetaka yang tidak pernah ia duga: 1) hampir kehilanga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-------•-------
.
...
Plak!
Satu tamparan keras Sisca layangkan pada wanita yang sudah membuat kesabarannya habis. Sisca juga tak menyangka ia melakukan ini. Melihat Violla yang mendapat pembelaan membuatnya iri hingga kekerasan terpaksa dilakukan.
"Sisca! Jangan keterlaluan!" bentak Miranda.
Kurang ajar. Dia udah bikin orang yang semula dukung gue jadi ngebela dia, batin Sisca tak terima.
Violla meringis dengan kemampuan aktingnya. Tamparan barusan hanya memberi sedikit rasa sakit, tapi ini bagus untuk ia manfaatkan. Terlebih karena wanita itu memang tidak ia sukai sejak awal. Apalagi perkatannya tadi sudah membuat Violla tak bisa mengampuninya.
Dengan jantanya Zulfikar langsung mendekap Violla ke dada. Ia mengusap punggungnya perlahan. Ufi tidak menyangka akan sejauh ini, kejadian di luar ekspektasi jauh lebih memancing emosi. Dan mereka sama-sama tahu, Sisca tidak akan berhenti sampai di sini.
"Sisca, keluar atau aku panggil keamanan?"
Miranda mendengus. "Keluar!"
Nikmatilah kemenanganmu bodoh. Tetap saja aku yang akan menang. Lewat sudut bibir yang terangkat sinis, Sisca mempunyai maksud yang tidak baik.
"Pak, Bu!" Yayan terengah-engah memasuki ruangan.
"Ada apa, Yan?" tanya Ufi masih dalam perlakuannya mengusap Violla.
"I... itu, Pak. Di luar banyak wartawan. Nyari Mbak Violla."
"Wartawan?" Violla tak percaya.
Berita kedatangannya cepat menyebar ternyata. Pasti ada seseorang yang memberitahu pada publik kalau wanita yang dikabarkan hilang itu sedang berada di perusahaan ini. Tidak menyangka kalau beritanya akan secepat arus sungai, sampai-sampai wartawan dikabarkan mengumpul meminta penjelasan.
"Kita segera ke bawah," jawab Ufi pasti.
***
Riuh rendah yang menguasai pintu masuk perusahaan terdengar kuat semenjak lift membawa Violla dan Fikar menuju lobby. Wanita itu khawatir melihat lampu-lampu dan kamera-kamera juga sekelompok wartawan yang bertebaran di sana karena jika ini disiarkan maka kedua orangtuanya akan mudah menemukan ia sekarang. Tahu sendiri apa yang tidak ia harapkan ketika bertemu dengan orangtua. Ya, benar. Violla takut dijodohkan.
Langkah jenjang keduanya berhasil membawa mereka ke hadapan wartawan dengan prasangka yang pasti akan disuguhi beragam pertanyaan. Jelas terlihat dari dalam tadi penjaga di luar tampak berusaha menenangkan agar tidak terjadi keributan yang merugikan. Bahkan ketika Ufi dan Violla keluar, kerlap-kerlip sinar kamera langsung tertuju pada keduanya.