10 | Salah Bicara

8K 559 71
                                        

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan bahasa asing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan bahasa asing.
------•------

Keadaan luar kantor Ufi pandang dari ruangannya. Ia bersandar pada kursi kerja untuk rehat dari pekerjaan sejenak. Yayan belum kembali setelah tadi disuruh Ufi. Meski terlihat bersantai tetapi kenyataannya tidak demikian, pikirannya kacau sebab memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang takutnya membuat ia menyesal di kemudian hari.

Apa dia mau ya bantu jadi model perusahaan? Ufi membatin karena hanya Violla yang melintas di benaknya.

Zulfikar membalik posisinya menghadap PC yang menyala. Ia segera mencari tahu siapa wanita yang ada di rumahnya karena terasa tidak begitu asing, seolah ia pernah melihatnya.

"Pak, ini mau disimpan di mana?" tanya Yayan yang baru datang dengan menjinjing beberapa tas belanjaan.

"Simpan di atas meja."

"Pak, Mbak Sisca katanya mau datang ke sini," ucapan Yayan lagi-lagi tak didengarkan. Fikar terus saja memperhatikan layar komputer yang menampilkan foto Violla.

"Pak! Bapak bisa tolong dengerin saya ngomong dulu?"

"Pak!"

"Pak! Saya harus berapa kali—"

Fikar menoleh. "Kenapa?"

Pengen banget disumpahin budeg apa ya? Yayan mengumpat kesal tapi tak dapat ia utarakan mengingat Fikar adalah atasannya. "Hari ini Mbak—"

Kreet!

Pintu ruangan terbuka dengan sosok wanita berambut pendek dan pakaian serba hitam dibalut tas yang tentu saja dari perusahaaan milik Ufi. Direktur itu tahu betul siapa wanita di hadapannya—wanita yang sudah membuatnya kecewa delapan bulan lalu—tiba-tiba saja Fikar malas berada di sini.

"Stt!" desis Ufi pada sekretarisnya melotot. "Kenapa kamu nggak bilang?!" bisiknya penuh penekanan.

Yayan menghela napas, mengusap dadanya perlahan, mendelik kemudian tidak menghiraukan. Menjawab juga sekarang percuma, ini sudah terjadi mau diapakan lagi? Fransisca tanpa rasa malu datang menemui Ufi. Ah, iya juga, wanita itu sudah kehilangan rasa malunya semenjak Ufi memilih pergi.

Sisca duduk di sofa, mengangkat sebelah kakinya. Tas merah mengilat ia taruh di atas meja, berdekatan dengan tas-tas belanjaan yang Yayan simpan. Wanita itu membongkar beberapa tas di sana, dan Ufi tak peduli atas tingkahnya. "Ya ampun Fi, ternyata kamu masih pengertian banget, ya. Aku kira kamu cuek karena udah gak peduli sama aku, eh ternyata diem-diem kamu beliin aku baju. I'm so glad!"

Fikar mendengus, memalingkan wajah sembari mendekatinya tak acuh. "Aku nggak beli ini buat kamu. And now I don't care about you."

Semenjak Fikar mengetahui semua fakta tentang hubungan mereka waktu itu, ia harap semua rasa untuk Sisca bisa leyap. Tapi sialnya sampai sekarang selalu saja ada hal yang membuat Ufi gagal merelakan. Satu tahun lebih bukan waktu yang sebentar.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang