11 | Tuan Rumah dan Tamunya

7.5K 565 35
                                        

* mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan.
------•------

Mobil kebiru-biruan yang baru saja dikendarai Ufi terparkir di depan garasi yang tertutup rapi. Pria itu turun untuk membukanya, kemudian memasukkan mobil ke dalam sana. Sebelum mengunci garasi, ia tak lupa membawa sisa shopper bag siang tadi.

"Dia nggak keluar seharian?" gumamnya saat mengetahui pintu rumah masih terkunci. Padahal ia yakin pagi tadi menyimpan kunci cadangan di atas meja.

Setibanya di dalam, Ufi menyimpan tas belanjaan di meja ruang tengah. Ia mengedarkan pandangan, menyelidik setiap ruang tapi tidak menemukan sosok Violla—bahkan Kimi juga tidak ada.

"Violla? Are you there?" Ufi mengetuk pintu kamar yang ditempati wanita itu malam tadi.

Sejurus kemudian pintu terbuka karena tak ada sahutan sama sekali, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan jika mengingat keadaan Violla yang kesakitan. Tetapi ternyata dia tidak ada di sana. Ranjang juga belum dirapikan, tapi mangkuk bubur dan gelas sudah tidak ada. Ufi menutup pintu, kemudian beralih memasuki kamarnya.

"Hai," panggilnya ketika melihat Kimi di atas kasur yang lagi-lagi tidak sadarkan diri. "Apa dia pergi, ya?" lirihnya. "Secepat itu?" Nadanya sekarang terdengar menyesal.

Ufi melonggarkan ikatan dasi, ia membuka jas lalu mengganggu kucing kesayangannya. Namun, saat mendekati Kimi ia merasakan kehadiran seseorang di sana. Ufi menoleh ke arah meja kerja yang tepat menghadap jendela dengan gorden terbuka.

"Violla?"

Tanpa disadari Ufi tersenyum melihat wanita itu tertidur pulas di atas meja kerjanya. Mungkin terlalu kelelahan, atau juga keenakan. Lagu-lagu yang mulanya mengalun merdu kini sudah tak terdengar lagi suaranya. Hampir saja ia tak melihat Violla sebab kursi kerja yang lebar menutupi tubuh kecilnya. Wanita itu tertidur dengan bertumpu pada kedua tangan yang dijadikan sebagai bantal.

She really deserves to be a model, batin Ufi kala sinar senja singgah di wajahnya. Tidur saja dia indah.

Ufi mendekatkan dirinya ke hadapan Violla hanya untuk melihat lebih dekat. Entahlah ia sendiri setengah tidak sadar kenapa bisa berjongkok memperhatikan wanita yang tampak nyenyak di depannya sekarang. Ufi hanya merasakan nalurinya sebagai seorang laki-laki saat itu. Ia juga melihat ada tiga kasetnya tergeletak di sana.

"Kamu suka Westlife juga?" tanyanya yang ia sendiri tahu kalau Violla tidak mungkin menjawabnya.

"Iya...."

What?

Seketika fokus Ufi beralih pada Violla yang perlahan membuka mata. Di detik pertama pandangannya mengabur, matanya mengerjap pelan beberapa kali sampai kemudian ia tercengang kala pemilik mata bersih dan alis tebal itu tepat berada di depannya. Ufi menyimpan kaset tadi ke tempat semula.

"Maaf tadi saya putar kasetnya."

Ufi tak langsung menggubris, ia duduk di sisi kasur. "Saya nggak nyalahin kamu. Tapi kalau kamu tidur di posisi yang salah, bisa-bisa luka kamu itu terhambat proses sembuhnya karena darah yang ngalir nggak sebagaimana mestinya."

Violla mengernyit. He worried about me?

"Did they come here?"

"Siapa?"

"Orang-orang yang nyari kamu."

"Kayaknya enggak ada."

"Memangnya kamu tidur sejak kapan?"

Violla menengok jam dinding di sisi kiri. Lalu membelalak dan berucap pelan-pelan. "Jam dua belas lebih."

Ufi hanya mengangkat bibirnya paham. Mungkin efek capek pada tubuh Violla membuatnya butuh istirahat lebih lama. Pria itu berjalan keluar kamar. "Kamu udah makan?"

Violla menggeleng.

"Ayo. Cuci muka dulu, kita makan sama-sama."

***

Setelah cukup lama berkutat dengan alat dapur, kini santapan malam sudah tersaji di atas meja kecil bergaya breakfast bar yang tingginya sekitar 150 cm. Ufi duduk di kursi yang berhadapan dengan Violla, hingga kontak mata bisa terjalin begitu saja.

"Tubuh kamu masih kerasa sakit-sakit?"

"Namanya juga loncat dari mobil, nggak mungkin lukanya kering satu hari."

Ufi meminum airnya. "Saya tanya keadaan tubuh kamu, bukan luka kamu."

Sialnya Violla gelagapan kala pria di depannya menatap tepat di manik mata. "Iya. Udah mendingan. Emangnya kenapa?"

"Cuma mau mastiin aja." Ufi menyuap makanannya perlahan. "Habisin. Biar cepet sembuh."

Kenapa sekarang Violla tersipu malu?

Cara makan Ufi sangat tenang dan tampak menikmatinya, berbeda dengan Violla yang merasa kesusahan sebab kurang menyukai sayur juga air sup yang masih agak panas. Beberapa kali ia meniup tapi tak juga ia telan, padahal Ufi sudah habis tiga sendok saat ia baru mau memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.

"Harus saya suapin lagi?"

Sebenarnya Violla tidak akan menolak jika nada Ufi tidak membuatnya merasa diintimidasi. Dengan terpaksa ia melahap sup sembari menahan panas di mulutnya, dan laki-laki itu tampak terhibur kala Violla kesusahan mengunyah.

Keheningan mengambil alih keadaan, hanya suara sendok piring yang menjadi satu-satunya bunyi-bunyian. Dalam keadaan sunyi seperti ini otak Ufi selalu berpikir lebih cepat dari biasanya dan hal itu membuat permasalahan di kantor tadi mencuat kembali.

"Violla ... kalau ...."

Perkataan Ufi terhenti karena ia bingung harus bagaimana meminta bantuan tentang ini. Apa dimulai dari model perusahaan atau menjadi pacar pura-pura? Sebenarnya kedua masalah itu bisa diselesaikan apabila Violla menyetujui keduanya, tapi Ufi tak ingin wanita itu mengira pertolongannya selama ini karena ada maunya.

"Kalau apa?"

"Nggak. Lupain aja."

Ufi beranjak setelah minumannya ditenggak. Ia membiarkan Violla sendirian dan kesepian saat makan itu tidak menyenangkan. Tak lama ia kembali dengan menyodorkan shopper bag tadi.

"Buat kamu. Saya nggak tahu ini bakal pas atau enggak, tapi piyama itu nggak mungkin kamu pakai terus-terusan."

Violla menghentikan aksinya, ia termangu karena Ufi yang selalu tiba-tiba mengejutkan. "Buat saya?"

Ufi membawa piring bekas makannya dan langsung ia cuci di washtafel. "Kamu nggak usah ngerasa gak enak."

"Makasih. Tapi saya janji bakal ganti uang kamu."

"Saya yakin kamu bisa ganti. Tapi saya beli itu karena kamu tamu di rumah saya. Dan tuan rumah harus memenuhi kebutuhan tamunya. Saya lebih seneng kalau pemberian saya diterima dengan senang hati daripada diganti dengan yang lebih lagi."

I like the way you think, Fi. "Thanks."

-= MEMORABLE NIGHT =-

Jika dipertemukan dengan manusia seperti Ufi, apa yang akan kamu katakan setelah dapat perhatiannya?
.
Enjoy ya sama ceritanya.
.
Salam :
Pai Baik Banget.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang